Jebor (kanan) bersama istri di Desa Jambewangi, Banyuwangi. Foto: Kitabisa.com


KBR, Jakarta - Namanya Arif Susanto. Sekarang, ia menjadi pengusaha pembesaran lele di Desa Jambewangi, Banyuwangi. Usaha itu, ia rintis setahun lalu.

Kala itu, Jebor sapaan akrabnya, masih menjadi kuli galian kabel di Bali. Ia, mengaku senang dengan bisnis yang sedang ia rintis.

“Pertama bisa kumpul keluarga, kedua penghasilan saya lebih di [pembesaran] lele ini. Yang terpenting sekali saya sekarang bisa kumpul keluarga karena sebelumnya saya hanya bisa pulang setahun sekali ketika lebaran," kata Jebor.

"Modal usaha ini, saya diberi bantuan oleh Pak Agus dan Pak Anang. Bentuk bantuannya pendampingan pembuatan kolam, manajemen pakan, pemasaran dan bantuan uang meski tidak banyak,” ungkapnya.

Kini, penghasilan ayah dua anak ini dari ternak lele, tak kurang dari 3 hingga 5 juta rupiah sebulan. Angka itu ia dapat dari tiga kolam lele yang masing-masing berukuran 3x4 meter persegi.

Ia juga mengatakan, panen lele dilakukan tiap tiga bulan sekali.

“Pertama kita beli bibit yang sudah lumayan besar, nanti kita besarkan lagi untuk lele master. Bibitnya itu rata-rata satu ekor 1 kilogram dibudidaya selama tiga bulan hingga masing-masing sampai 5 kilogram per ekor. Kalau satu kolam itu rata-rata satu ton dengan modal sekitar 10 juta rupiah," jelas Jebor.

"Tiap bulan itu saya bisa manen satu kolam, saya buat bergantian bulan satu kolam A, bulan dua kolam B, bulan tiga kolam C, terus seperti itu bergantian,” sambungnya.

Lele hasil pembesaran Jebor telah di pasarkan ke Banyuwangi, bahkan hingga ke Jember dan Bali. Malah kata Jebor, saat ini sudah ada puluhan pemuda yang seprofesi dengannya di Desa Jambewangi.


Gerakan Pulang ke Desa

Jebor dan puluhan pemuda lain di Desa Jambewangi, menjadi contoh keberhasilan gerakan Pulang Ke Desa. Sebuah aksi keroyokan berupa pendampingan bagi pengangguran dan pekerja serabutan di kota, agar mau pulang ke desa dan beralih menjadi pengusaha.

Gerakan Pulang Ke Desa ini digagas Anang Setiawan, seorang Sarjana Manajemen lulusan Universitas Brawijaya. Anang sendiri CEO LSM Ekonomi Lokal, sebuah lembaga yang fokus pada perkembangan ekonomi daerah yang berdiri setahun lalu.

“Kenapa membuat LSM Ekonomi Lokal itu pertama saya dengan kakak saya pulang ke kampung, lalu kita melihat mana ya teman-teman sepermainan kita, kok anak mudanya tidak ada, lalu sepi dan kampungnya gini-gini aja. Ternyata memang teman-teman kita yang seusia dulu banyak yang merantau ke kota hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga, kuli, bahkan pekerja serabutan dan banyak juga yang akhirnya nganggur,” kenang Anang.

Anang bercerita, lewat lembaga itu, ia berperan sebagai konsultan bisnis.

Seperti yang dialami Jebor. Ia menghubungkan pekerja, pemilik modal dan tenaga pemasaran agar mau berkolaborasi membangun komunitas yang mampu menggerakan ekonomi desa.

Potensi ekonomi tiap daerah pun berbeda-beda, ada yang berhasil dengan ternak lele. Kini, ia mencoba mengembangkan potensi lain; industri tanaman jamur.

“Sebenarnya keroyokan pulang ke desa ini bukan melulu bentuk fisiknya saja yang pulang, tetapi kita juga menginginkan yang kita sebut dengan support team. Yaitu orang-orang yang spiritnya adalah mau pulang ikut membangun perekonomian desa meski hanya dengan spirit,” ujarnya.

Sementara itu, Konsultan keuangan gerakan Pulang Ke Desa, Edi Surbakti mengatakan, melatih orang seperti Jebor, atau sebutannya local champion di suatu desa bisa memakan waktu satu hingga tiga bulan.

“Intinya salah satu yang paling krusial pemilihan potensi desa, terus pemilihan bisnis apa yang bakal dilakukan dan pemilihan si local champion yang bakal menjalankan bisnisnya. Jadi saya bakal membentuk fisibility study-nya. Gimana ketika kita melihat suatu desa ada banyak potensinya, lalu kita pilih dari berbagai aspek. Lalu kita hitung semuanya apakan usaha ini layak atau tidak untuk dijalankan, jangan sampai ketika si perantau pulang ke desa namun bisnisnya malah tidak berkembang,” timpal Edi.

Di sisi lain, mimpi Anang tidak akan berhenti di Banyuwangi. Ia punya keinginan, agar pemuda seperti Jebor bisa merambah hingga luar Pulau Jawa.

“Jadi kalau mimpi besarnya sih kita ingin setiap desa itu punya industri. Jadi ada semacam pusat bisnis yang menjadi pusat penghasilan masyarakat dan ini dikelola secara mandiri serta profesional oleh masyarakat setempat khususnya pemuda. Kenapa demikian, karena selama ini orang selalu berfikir soal global tetapi lupa kalau segala sesuatu itu berawal dari yang lokal lalu baru bisa menciptakan yang global,” tutup Anang.

Dia juga berharap, kesuksesan Jebor bisa menular ke pemuda lain yang merantau untuk kembali pulang ke kampung halaman.  Dengan begitu, rantai perekonomian desa tak akan putus.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!