Jurnalis KBR, Aisyah Khairunnisa di Eco Camp, Dago Pakar, Bandung. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Pagi di bumi Pasundan. Udara dingin di Dago Pakar, Bandung, menusuk tulang saya.
 
Di Eco Learning Camp, untuk pertama kalinya saya merasakan pengalaman baru; menjalani hidup ramah lingkungan, atau eco-lifestyle.

Eco Learning Camp adalah rumah belajar lingkungan hidup yang diperkenalkan Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup. Di sana, mereka mengajarkan saya tujuh pola hidup ekologis. Saya ingin mengajak Anda mengikuti gaya hidup ini.Yuk…
 
Gaya hidup ekologis itu intinya adalah kita harus hidup sederhana. Dimulai dari hal mendasar yaitu makanan. Tapi bukan berarti makanan yang sederhana artinya kita harus ngurangin lauk dan makan seirit mungkin. Tapi berusaha ngurangin makan daging. 

Nah ini juga jadi salah satu yang khas di Eco Camp. Yaitu semua makanan dan camilan di sini semuanya khusus untuk vegetarian. Misalnya menu sarapan saya pagi ini nih. Ada soto tanpa daging, tempe tahu, sate jamur, lalap pecel dan banyak makanan lain.

Dilihat sekilas memang sederhana. Tapi untuk menutupi tampilan sederhana itu, rasa dan bumbunya diracik sedemikian rupa. Jadi walau vegetarian tetap enak. Apalagi tadi saya coba salad bumbu rujak. Aduh.. Segar. Seladanya masih fresh baru dipetik dari kebun di sini.
 
Gaya hidup ramah lingkungan ini punya tujuan. Pembina Eco Camp, Sutrisna Wijaya menjelaskan.
 
“Jadi dengan makan sayur dan sebagainya, hampir tidak ada sisa. Dan seandainya sisa di sini sampah 90 persen adalah sampah organik. Kalau sampah organik seluruhnya diproses jadi kompos,” jelas Sutrisna.

“Banyak anak yang datang ke sini belajar bahwa makan sayur itu enak. Di masyarakat makin banyak orang yang tidak suka makan sayur. Di sini kami mengajak, membiasakan makan sayur sebagai makanan yang sehat,” sambungnya.
 
Oke. Sekarang makan sudah, kenyang sudah. Enaknya sih kita leyeh-leyeh. Tapi sayangnya enggak boleh, di sini kita harus cuci piring dan gelas sendiri.
 
Nah salah satu yang unik di Eco Camp adalah aturan soal cuci piring. Pertama piring gelas yang sudah dipakai harus dicuci sendiri oleh si pemakainya. Dengan begitu, kita akan berpikir dua kali untuk pakai piring dan gelas lebih banyak. Ini adalah jurus kedua hidup ramah lingkungan. Yaitu hemat.

Dan cara mencucinya bukan dengan mengucurkan air kran terus menerus, seperti yang biasa kita lakukan. Tapi sudah ada satu baskom dan empat wastafel yang berjejer di sini.

Masing-masing wastafel berisi sedikit air hangat yang menggenang. Nah setelah disabuni di baskom, cara membilasnya adalah direndam di empat bak yang berbeda. Setelah itu kita lap sendiri dan kembalikan piring gelasnya ke tempat awal kita ambil.
 
Di sini, tak ada tempat sampah. Kecuali di kamar mandi dan dapur. Kenapa? Karena pola hidup ramah lingkungan harus membuat peduli. Terutama peduli dengan alam dengan tidak membuang sampah seenaknya. Jadi karena di sini enggak ada tempat sampah, walhasil saya harus hemat-hemat untuk nyampah.
 
Karena saya bermalam di sini, maka saya harus memasang sprei dan sarung bantal sendiri. Nah, ini namanya kemampuan dasar.

Di Eco Camp ini ada banyak pengisi materi tentang bumi dan lingkungan, salah satunya Pak Budi, dia di sini sebagai kepala bagian kebun dan tanaman. Kelas yang diisi Pak Budi ini menarik. Jadi kita bisa buat pot tanaman sendiri. Medianya cuma pakai kantong plastik atau botol, lalu dimasukkan sampah apapun itu.

Setelah itu tinggal ditanam bibit tanamannya. Saya sempat bingung kok tanaman bisa tumbuh di sampah plastik? Ternyata ada kuncinya. Harus dimasukkan cairan bernama bio-compound. Cairan ini hasil endapan air kotoran sapi, tapi manjur buat mempercepat proses komposting sampah. Jadi kita bisa sedikit membantu alam lah ya untuk mengurangi sampah. Plus bisa sembari nanem juga.

Di Eco Camp, ada pula energi terbarukan. Yah, mereka memakai panel surya. Memanfaatkan sinar matahari untuk daya listrik. Jadi kalau hari sedang terang, panel suryanya bisa menghasilkan 4.000 watt.
 

Berinteraksi dengan Alam
 
Setiap pukul 12.00 dan pukul 15.00, semua orang yang berada di Eco Camp harus berhenti beraktivitas. Selama dua menit kita diminta menutup mata.

Waktu hening selesai. Ini adalah poin keenam dalam menerapkan hidup ekologis. Yaitu menyediakan waktu untuk mendengar suara alam dan berinteraksi dengan alam sekitar.
 
Di sini, Pembina Eco Camp Ferry Sutrisna Wijaya menceritakan arti dari hidup ramah lingkungan.
 
“Tujuan akhir adalah membentuk karakter yang sadar akan lingkungannya. Yang mau hidup lebih sederhana. Hemat. Supaya kita bisa peduli dan berbagi dengan orang lain. Kalau semua orang serakah, ya tambah rusak. Kalau semua orang menghambur-hamburkan air dan listrik. Ya tidak cukup lah persediaan. Jadi sederhana ini alasan sekaligus tujuan agar lingkungan tidak tambah rusak, tapi tetap terpelihara,” kata Ferry.

Jadi, apa Anda mau bergabung dengan saya untuk menerapkan pola hidup yang lebih ramah lingkungan?



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!