Ustad Saprianto di acara peluncuran buku biografi seorang tokoh di Mataram. Foto: Zaenudin Syafari/KBR

KBR, Mataram - Ustad Saprianto begitu khidmat membaca Al Quran di acara peluncuran buku biografi seorang tokoh di Mataram.

Ia membaca Al Quran dengan langgam khas Sasak. Surat yang dibaca, adalah surat Al-Qalam ayat 1 sampai 5.

“Dari sejak nenek moyang kita dulu, hanya diperbaharui sekarang ini menggunakan ilmu tajwid yang sudah standar.  Jadi sudah dari nenek moyang kita menggunakan langgam Sasak,” ungkap Saprianto.

Hanya saja, bacaan Al Quran langgam Sasak yang dibawakan Saprianto menuai kritik dari tokoh tokoh masyarakat Sasak Lombok.

Bahkan Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi menilai, bacaan Al Quran langgam Sasak itu keliru karena cenderung dibuat-buat.

“Al Qur’an tidak seperti kalam apapun yang lain. Al Qur’an itu memiliki hurmah. Dalam masyarakat Arab, pada zaman Rasul, bukannya tidak ada langgam-langgam yang aneh-aneh. Tetapi Al Qur’an itu memiliki langgamnya yang khusus yang tidak dibuat-buat,” katanya.

Ia juga menghitung ada beberapa kekeliruan saat membaca Al Quran dengan langgam sasak.

“Walaupun disesuaikan serapi mungkin pasti tidak akan sesuai dengan tajwid yang benar-benar. Tadi yang dibaca, saya yakin sudah disesuaikan dengan tajwid. Namun saya bisa tunjukkan lebih dari sepuluh kesalahan tajwid di situ,” sambung Zainul Majdi.

Setali tiga uang. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, Saiful Muslim mengatakan, Al Quran sudah memiliki cara membacanya yang khas sehingga tidak bisa diubah-ubah.

“Jadi Al Qur’an itu kan beda, bukan macam lagu-lagu sana sini yang bisa diubah. Kalau Al Qur’an itu sudah punya tata cara, sudah punya pedoman, lagunya juga sudah jelas sendiri. Jadi semuanya sudah diatur," tambah Saiful Muslim.

Tapi bagi Saprianto, membaca Al Quran dengan langgam suatu daerah tidak ada larangan selama tajwidnya benar.

“Kalau di dalam Al Quran, Allah menjelaskan kepada kita ‘Warattilil Qur’aana tartiilan’, baca Al Qur’an itu tergantung hukum-hukum tajwid yang sudah berlaku. Jadi di sini Allah tidak tekankan mau pakai lagu apa belum dipastikan di sana. Kemudian nabi juga memberikan batasan, ‘Zayyinul Qur’aan bi aswaatikum’, hias Al Qur’an itu seindah suaramu. Toh juga lagunya tidak disebutkan di sana,” timpal Saprianto.

Apa yang dikatakan Saprianto, diamini Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Ia menilai tak perlu melarang pembacaan Al-Quran dengan langgam kedaerahan.

Sebab, sudah banyak yang membaca Al Quran yang kental akan logat kedaerahannya.

Meski begitu ia mewanti-wanti, jangan sampai logat daerah itu mengubah arti dari pembacaan Al-Quran. Sehingga akan menyalahkan arti dari yang sesungguhnya.

Meski ditolak sana-sini, Ustad Saprianto berniat akan terus membaca Al Quran dengan laggam khas Sasak seperti bacaan nenek moyang masyarakat Sasak dulu saat Islam masuk ke pulau ini.

“Insya Allah langgam Sasak ini tetap akan kita pertahankan. Dan apa yang disampaikan oleh bapak gubernur itu kita akan perbaiki, mungkin bacaannya terlalu panjang tadi ujung –ujung (kalimatnya)," tutup Saprianto.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!