Ilustrasi: Sejumlah siswa difabel berkunjung ke Museum Nasional Jakarta.

KBR - Gemuruh suara tepuk tangan pengunjung Museum Nasional Jakarta beradu bising dengan suara kendaraan bermotor yang lalu-lalang di depan gedung museum. Siang itu pengelola Museum kedatangan tamu khusus. Mereka yang datang, 20-an siswa tuna netra dari berbagai sekolah di Jakarta. Wajah mereka semua ceria penuh canda, tak sabar untuk mereguk ragam informasi mengenai jejak sejarah dan budaya Indonesia.

Balqis Biaqah Utami satu diantara siswa yang turut berkunjung ke Museum Nasional. Bersama teman-temannya, anak berusia 8 tahun itu jalan menyusuri museum khusus candi. Waktu itu, Balqis satu regu dengan Ferdi, Shifa, Aqila, dan juga Risky Fatmala, mahasiswi pemandu mereka.

“Kok pake sarung tangan kak,” tanya Balqis kepada Risky Fatmala salah seorang pemandu yang juga mahasiswa Universitas Indonesia.

“Iya soalnya batunya tidak boleh dipegang langsung karena nati batunya bisa rusak, ini balqis menyentuh belalainya,” jawab Risky.

“Ini patung apa?” Balqis kembali bertanya.

“Ini patung Ganesa bayi berkepala gajah makanya berbelalai, ini kayak gajah ya. Ini namanya patung Ganesa bayi berkepala gajah ini ada berbelalainya, ini gadingnya, coba balqis pegang, shifa, aqila juga pegang,” seru Risky.

Balqis dan kelompoknya antusias, tak jera bertanya mengenai asal usul benda sejarah yang mereka raba. Seperti saat mereka meraba arca Ganesha yang berasal dari Candi Banon, dekat Candi Borobudur Jawa Tengah. Patung itu sudah berusia 1800 tahun.

 “Ini  di tangannya ada mangkok yang isinya cairan ilmu pengetahuan makanya Ganesa dibilang dewa ilmu pengetahuan.”

Dari ruang pertama mereka bergeser ke ruang terbuka. Ruangan ini seluas lapangan basket, yang terdiri dari teras gedung dan taman di tengah ruangan. Di sini diisi oleh ratusan koleksi arca yang berasal dari beberapa periode sejarah Indonesia.

Selain itu, mereka juga melihat koleksi peninggalan zaman megalitikum Indonesia, seperti sarkofagus tempat penyimpan jenazah berbahan batu.

Sayang kegiatan anak-anak difabel kemarin tak bisa optimal karena hanya bisa melihat koleksi arkeologi saja. Padahal Museum Nasional menyimpan banyak koleksi lain seperti; beragam jenis perhiasan emas, koleksi uang, wayang, pakaian adat, diorama sejarah, dan koleksi lainnya. 

“Ini kami tergabung dalam penerima bidik misi UI, ini acaranya  yang menginisiasi kelompok kami, kami bekerja sama dengan mitra netra dan museum. Mereka itu disabilitas pasti jarang ke museum karena fasilitasnya kurang, oleh karena itu kami susun materi agar mereka bisa menyentuh arca,” jelas Saiful Bahri salah seorang pemandu lainnya.

Menurut Saiful, pihak Museum Nasional tak menyajikan informasi dalam huruf braille (huruf timbul), termasuk Ketiadaan media suara di setiap koleksi. “Belum sepenuhnya, karena  mereka baru bisa menyentuh arcanya sementara koleksi yang lainnya mereka tidak bisa menyentuh.” 

Sementara pengelola Museum Nasional Jakarta mengakui minimnya sarana dan prasarana untuk para difabel. Juru bicara museum Dedah Rufaidah Sri Handari mengatakan hanya koleksi arkeologi seperti arca yang bisa disimak siswa difabel. “Kan tema yang diangkat arca-arca karena yang mudah kan itu, soalnya kalau yang lain harus buka yang lainnya, paling tidak mereka bisa merasakan tidak hanya cerita.”
 
Dedah pengurus Museum Nasional dibuka sejak 1868 menjawab pasrah. Sejauh ini pengelola hanya berjanji akan terus membenahi pelayanannya agar museum ramah terhadap semua pengunjung, tak terkecuali para difabel. 


Baca juga: Saat Museum Tak Ramah Difabel (bagian-2)



Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!