pilpres, jokowi, prabowo, pemilih, portalkbr

KBR - Pemilu ini kali beda dengan pemilu presiden lima tahun silam dan juga pemilu legislatif yang berlangsung April lalu. Pada hari pencoblosan kemarin, warga antusias menyalurkan hak pilihnya di bilik-bilik suara. Yang gandrung menggunakan hak pilih-pun tak hanya warga yang sehat, tapi juga yang kondisinya sakit. Seperti sejumlah pasien di rumah sakit-rumah sakit. Dengan susah payah warga datang ke TPS. Bahkan sebagian warga difabel antusias selepas aspirasinya dipenuhi penyelenggara pemilu.

Petugas Tempat Pemungutan Suara(TPS) di kawasan Pondok Bambu Jakarta Timur mulai memanggil nama calon pemilih pada Rabu (09/07) lalu. Tak lama nama Wujud dipanggil sang petugas.
Wujud, perempuan tua bergamis itu harus dipapah anaknya saat memasuki Tempat Pemungutan Suara (TPS) di bilangan Pondok Bambu Jakarta Timur. Wujud tak banyak bicara, bahkan lebih sering batuk-batuk keras seraya memegang dadanya yang terasa sesak.

Menurut petugas KPPS setempat, Wujud lama menderita gangguan pernapasan. “Yang tadi itu namanya bu Wujud. Dia menderita gangguan pernafasan. Asma. Pas Pileg nyoblos juga? Iya dia datang juga diantar anaknya.”

Dengan kondisi kesehatannya, Wujud tak bisa berlama-lama di TPS itu. Usai mencelupkan jarinya ke wadah berisi tinta penanda, wanita tua itu langsung dibonceng anaknya pulang tanpa berkomentar sepatah kata pun.

Masih di seputaran TPS, seorang pria tampak santai di atas kursi rodanya. Dia menjulurkan kakinya ke atas sedangkan kepalanya tampak nyaman bersender di dudukan bangku di koridor samping TPS.

Yulius Setiawan telah menggunakan haknya sebagai warga negara. Yulius mengaku antusias untuk berpastisipasi pada pesta pemilu ini kali. Dia makin melek politik sejak beberapa tahun silam sebelum Pilpres berlangsung kemarin. Semua berkat sosialisasi dari KPU. “Sudah tiga Pemilihan ini saya ikut. Mulai dari Pilgub yang ada jokowi itu, Pileg kemarin, sama Pilpres kali ini,” ujarnya tergesa.

Kesadaran politik untuk menggunakan hak suara juga diikuti teman-temannya. Ada 6 orang yang sudah pindah kota tapi KTP nya masih KTP sini. Mereka tadi pagi sudah mencoblos. Ada juga yang bela-belain menginap. Sebenarnya ada 3 pasang lagi tapi mereka sudah ganti KTP. Alhamdulillah teman-teman kursi roda sudah tinggi kesadaran politiknya.

Bersama Yulius juga ada 30an warga disabilitas menggunakan hak suaranya untuk memilik salah satu dari dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Semuanya menggunakan kursi roda untuk menggapai Tempat Pemungutan Suara terdekat.

Ariani Soekanwo, Ketua Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA- Penca) juga merasa gelaran pesta demokrasi berbeda dengan pemilu lima tahun silam. “Pemilu kali ini saya rasa lebih bagus dari sebelumnya. Ada semacam euforia politik. Teman-teman terbelah ke dua kubu karena ada berbagai macam deklarasi dari dua kubu itu. Saya rasa itu bagus. Bahkan ada ibu dari penderita tuna grahita (keterbelakangan mental) mengaku anaknya sudah melek politik dan mau ikut nyoblos. Bisa dibayangkan orang yang terbelakang mental saja sampai ikut euforia.”

Antusiasme itu menurut Ariani didukung oleh sikap KPU yang lebih peduli terhadap kalangannya. “Di sisi lain KPU juga lebih perhatian sekarang. Misalnya saat debat Capres dilengkapi dengan bahasa isyarat. Itu tandanya kaum difabel (tunarungu) dianggap sebagai pemilih yang sah.”

Ariani menambahkan, euphoria serupa dirasakan di berbagai daerah seperti di Ambon, Batam, dan Jakarta. Meski belum mengantongi angka kenaikan partisipasi kaum difabel, dia mengklaim jumlahnya meningkat hingga 24 juta orang dari 250an juta total penduduk negara ini. Namun, kegembiraan politik tak bisa dinikmati oleh sebagian kalangan. Ratusan pasien dan keluarga yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara kemarin tak bisa memberikan suaranya karena tak ada TPS keliling. Salah satu keluarga pasien Cristina Banusu Klau.

“Kami yang di Rumah Sakit ini kan harusnya mereka antar kotak suara untuk kami coblos.(Sampai saat ini?) Tidak ada yang datang antar dari pagi, jadi kami mau coblos bagaimana. (Ibu merasa rugi?) Ya sebagai masyarakat tentunya rugi, sebab kita harus memilih kita punya pemimpin bangsa,” tukas Banusu keheranan.

Gegap gempita pesta demokrasi akan segera berlalu. Warga dan para pemangku pihak kini menyoroti tahapan rekapitulasi mulai dari tingkat TPS, PPS hingga ke KPU Pusat nanti. Kepada dua pasangan calon yang sama-sama mengaku unggul dalam hitung cepat pun tak boleh cepat berbangga. Ada setumpuk janji yang harus segera ditepati, termasuk beragam inspirasi yang harus ditindaklanjuti. Termasuk aspirasi Munawarah, warga Ahmadiyah Transito Mataram Nusa Tenggara Barat yang baru saja memberikan hak pilihnya.

“Harapan saya mudah-mudahan karena selama ini dari pemerintahan itu kayaknya jarang sekali berkunjung kesini. Tidak seperti organisasi-organisasi yang lain kadang didatangi. Kalau kita paling dari LSM datang kesini, dari LBH. Tapi kalau gubernur, walikota belum ada yang datang kesini. Saya sangat ingin pindah dari sini, karena anak-anak saya sudah besar terus kita tidurnya cuma satu ruangan.”

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!