[SAGA] Enny Arrow, Karya Sastra atau Pornografi?

Sastra erotika bukan hanya berisi eksploitasi tubuh, tapi juga interpretasi diri ketika bersama lawan jenis.

Senin, 31 Jul 2017 15:35 WIB

Agenda Diskusi Sastra Erotika Enny Arrow. Foto: Dewan Kesenian Semarang.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Semarang - Remaja era 1980-1990-an pasti tak asing dengan karya Enny Arrow. Sebut saja Puncak Bukit Kemesraan, Selembut Sutra, atau Noda-Noda Cinta. Judulnya yang agak ‘panas’ dengan sampul depan bergambar perempuan berpakaian minim atau sepasang kekasih berciuman, jadi bacaan yang mustahil terlewat.

Dan karena ukurannya relatif kecil dan tebalnya tak sampai 30 lembar, sangat mudah diselipkan di antara buku pelajaran para remaja kala itu. Cara mendapatkannya pun tak terlampau sulit, lantaran kerap dijajakan di antara tumpukan Teka-Teki Silang (TTS) –yang diedarkan pedagang asongan di bus.

Kalau anda membaca karya-karya Enny Arrow –atau bernama asli Enny Sukaesih Probowidagdo, sebetulnya tak melulu berbau erotisme, tapi ada kalanya komedi. Meski ada pula yang mempertanyakan, pantaskah karya Enny Arrow disebut karya sastra?

Hal ini lah yang hendak didiskusikan Dewan Kesenian Semarang –sejatinya pada 25 Juli lalu. Tapi sial, karena dilarang Kepolisian Jawa Tengah dengan alasan ada masyarakat yang keberatan.

“Kita tidak bisa membayangkan ketika sekarang ini, Enny Arrow itu terbit membabi buta tapi tidak akan ada tempat. Nah ini yang akan kita kupas,” ujar Ketua Dewan Kesenian Semarang, Handry TM kepada KBR di Taman Budaya Raden Saleh.

Gelaran berjudul “Diskusi Sastra Erotika: Bedah Buku Enny Arrow” itu rencananya dilakukan di Suraukami/Kopium Kafe. Terletak di tengah pemukiman penduduk.

Dan karena saban bulan menggelar diskusi tanpa hambatan, maka Handry, menganggap takkan ada penolakan ketika membicarakan Enny Arrow pun tak perlu meminta izin ke polisi. “Selama ini aman-aman saja, apalagi ini karena ranahnya kesenian kadang-kadang jalan gitu saja,” sambungnya.

Hanya saja, 19 Juli –atau lima hari sebelum acara terselenggara, Kepolisian Jawa Tengah mendatangi Suraukami/Kopium Kafe. Tujuan polisi meminta kegiatan ditunda. Kapolda Condro Kirono, mengatakan ada keberatan dari masyarakat sehingga berpotensi muncul kegaduhan.

“Kami mendapat laporan dari masyarakat bahwa akan ada diskusi bedah buku roman. Tapi selama ini belum ada pemberitahuan kepada pihak kepolisian,” kata Kapolda Jawa Tengah, Condro Kirono, saat ditemui KBR di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Jumat (21/7/2017).

Keberatan itu rupanya datang dari Lurah setempat Nanik Kusrini. Dia ingin pihak panitia menjelaskan isi diskusi untuk menjaga kenyamanan warganya. Sebab, lokasi diskusi persis berdempetan dengan kantornya. “Saya juga agak keberatan untuk diadakan diskusi itu karena saya belum mendalami persis di dalamnya,” tutur Nanik di Kantor Kelurahan Pedalangan Jumat (28/7/2017).

Tapi betulkah diskusi yang digagas Dewan Kesenian Semarang berpotensi menimbulkan kericuhan?

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Purwono Adi Nugroho –pembicara diskusi, mengatakan gelaran ini didasari penelitian Henry Gib yang menyebut pulp fiction atau yang biasa dikenal dengan stensilan, sebenarnya revolusi tersendiri dalam sebuah pergerakan terhadap kritik sastra saat itu.

“Karena erotika sastra ini sebenarnya bukan di pornografi. Kita bukan berbicara kecabulan, tapi berbicara erotika,” terang Purwono ketika ditemui KBR di Taman Budaya Raden Saleh, Selasa (25/7/2017).

Purwono lantas mencontohkan salah satu penulis sastra erotika yang terkenal, Anais Nin –seorang penulis asal Eropa yang menceritakan perkawinan dan kehidupan seksualnya lewat buku harian. Namun, catatan itu bukan novel porno, melainkan bentuk perlawanan terhadap feminisme.

Dia juga bercerita, sastra erotika bukan hanya berisi eksploitasi tubuh, tapi juga interpretasi diri ketika bersama lawan jenis. Selain itu, bagi Purwono, erotika adalah konsep budaya layaknya estetika karena dalam erotika tak hanya mengulas seksualitas namun ada unsur fantasi.

“Apakah Enny Arrow menjadi sastra erotika atau bukan. Nah nanti di situlah diskusinya. Bagi yang belajar dalam studi literatur, erotika yang sebenarnya itu bagaimana? Karena genre erotika itu tidak sembarang. Karena ada yang disebut dengan strategy of silent, jadi artinya bagaimana karya si penulis tidak jatuh kepada kecabulan,” papar Purwono.

Ia pun menegaskan, bahwa diskusi ini hanya mengkaji erotika dalam karya sastra, sehingga masyarakat diharapkan tidak menyamakannya dengan pornografi serta kecabulan.

Tertundanya diskusi Enny Arrow, mengecewakan pecinta sastra di Kota Semarang. Ketua Dewan Kesenian Semarang, Handry TM bahkan menyebut Arswendo Atmowiloto sempat mengontak dan menyampaikan rasa kesalnya.

“Mereka menyayangkan sekali kenapa tidak terwujud? Jadi mereka masih menagih kapan ini terwujud,” kata Handry TM.

Besarnya antusias terhadap diskusi tersebut membuat pihak penyelenggara bertekat mewujudkan hajatan bulannya. “Kami pun membuka peluang, siapa yang mau menggelar diskusi silahkan. Makanya kan ada komunitas-komunitas literasi yang ‘mas ning nggonku wae’ (mas, di tempat saya saja). Silahkan bikin di tempatmu sendiri,” tutup Handry.






Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1