Dukun Pandita memimpin pengukuhan empat warga kehormatan Suku Tengger. Foto: Eko Widianto/KBR.



KBR, Probolinggo - Iringan musik tradisi Suku Tengger mengantar ribuan orang memenuhi Pendapa Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Mereka yang kebanyakan warga Suku Tengger dan wisatawan, datang untuk menyaksikan resepsi Yadnya Kasada –sebuah upacara hari raya besar umat Hindu Suku Tengger di Kawah Gunung Bromo.

Yadnya Kasada sendiri diperingati setiap tanggal 14 bulan Kasada –sesuai penanggalan Suku Tengger, yang mana jatuh pada 20 Juli lalu.

Di luar ruang pendapa yang penuh sesak itu, hujan rintik dan udara dingin membekap tubuh mereka. Mendekati tengah malam, perjamuan Yadnya Kasada dibuka dengan tarian Sembilan Dewa. Aroma dupa yang dibakar sebelum acara menambah kesakralan.

Pimpinan umat Hindu Suku Tengger atau Dukun Pandita, Sutomo memimpin upacara. Di situ pula, digelar pengukuhan warga kehormatan Suku Tengger. Mereka adalah Kepala Kepolisian Resor Probolinggo Arman Asmara Syarifuddin, Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan Suratmo, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru John Kennedie, dan Komandan Kodim Probolinggo Hendhi Yustian.

Keempatnya pun duduk bersila di belakang sang pandita yang membakar kemenyan sambil merapal doa dan mantra. Sementara di depannya, terhampar beragam sesaji hasil pertanian dan buah-buahan. Dan, selama beberapa saat suasana hening.

Hasan Aminudin, sesepuh Suku Tengger menyampaikan pesan pada empat warga kehormatan itu. “Saya selaku sesepuh warga masyarakat Tengger sebagaimana pesan moral yang saya sampaikan. Jaga kesantunan yang merupakan budaya masyarakat Tengger yang tak dimiliki warga masyarakat lainnya,” ucapnya.

Usai prosesi pengukuhan, malam resepsi Yadnya Kasada ditutup dengan pementasan sendratari Rara Ateng-Jaka Seger –sebuah tarian sakral Suku Tengger yang melibatkan 43 penari. Tarian ini dipentaskan saban tahun. Dan menurut sang sutradara, Heri Lento, isinya mengisahkan legenda asal-usul Suku Tengger.

“Tarian ini, tarian sakral mereka, warga sini. Tentang legenda, asal usul masyarakat Tengger, kan ada Rara Anteng dan Jaka Seger,” kata Heri Lento.

Menurut legenda, Suku Tengger merupakan keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Kisah bermula, ketika pasangan itu selama bertahun-tahun tak memiliki keturunan. Keduanya lalu bertapa dan berdoa pada Tuhan; agar diberi anak.

Di situ, keduanya berjanji bakal mengorbankan salah satu anak mereka untuk persembahan, jika permintaan dikabulkan. Doa itu terkabul. Rara Anteng dan Jaka Seger dikaruniai 25 anak. Tapi, pasangan itu lupa akan janjinya. Maka ditegurlah Jaka Seger lewat mimpi.

Ia lantas mengumpulkan semua anaknya sembari bertanya; ‘siapa yang bersedia dikorbankan ke kawah Gunung Bromo?’ Semuanya menolak, kecuali si bungsu Raden Kusuma –dengan syarat tiap malam bulan purnama penanggalan Kasada, keturunan Rara Anteng-Jaka Seger memberi persembahan hasil bumi ke kawah Bromo. Permintaan itu disanggupi dan dilestarikan hingga saat ini.

“Kalau sisi nilai dan konteks sekarang ini simbol (Rara Anteng-Jaka Seger) orang gigih. Konteks nilai yang perlu ditebar ke penonton dan masyarakat sini, tetap harus dijaga itu sawijining --omongan kelawan tindakan. Jadi orang sini tak berani janji, dulu Rara Anteng dan Joko Seger itu kan janji,” jelas Heri.

Usai malam perjamuan, umat Hindu Tengger melanjutkan upacara Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten –yang berada di lautan pasir Gunung Bromo. Dengan berpakaian adat, mereka berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan.

Jalan beriringan, sebagian dari mereka memanggul ongkek atau keranjang berisi hasil bertani; sayur, buah, dan kudapan.

Masyarakat Tengger percaya, sesaji yang dipersembahkan ke kawah Bromo itu bakal membawa keberkahan. Pasalnya, sesaji itu sekaligus wujud syukur atas karunia yang mereka terima selama ini.

“Apa yang kita tanam ya itu yang kita persembahkan. Kalau kita menanam kubis ya kita persembangkan kubis, tak usah mengusahakan kentang karena kita menanam kubis. Untuk sesaji itu patungan, tetapi untuk hasil bumi itu pribadi dihaturkan sendiri. Cuma meminta restu ke dukun nanti serahkan sendiri,” ungkap Dukun Desa Ngadiwono, Puja Pramana.

Tak hanya itu, sesaji juga dipercaya bisa mencegah bencana alam; letusan gunung yang belakangan aktif memuntahkan material vulkanik, awan panas beserta abu. “Kita sebagai umat manusia hanya meminta restu saja kepada leluhur dan yang maha kuasa semoga erupsi mereda. Kalau untuk doa sama saja, meminta keselamatan kalau ada kesalahan yang diperbuat meminta maaf.” 



 

Pagi, setelah malamnya digelarnya resepsi Yadnya Kasada di Pendapa Agung Desa Ngadisari, ribuan umat Hindu Tengger memadati Pura Luhur Poten –yang berada di lautan pasir Gunung Bromo. Mereka duduk bersila dan dengan khidmat mendengarkan tembang puji-pujian.

Di situ pula, sejumlah dukun atau pimpinan umat, duduk bersila mengenakan pakaian serba putih plus ikat kepala khas Suku Tengger. Asap dari dupa serta kemenyan ikut mengiringi doa mereka. Para dukun kemudian merapal mantra dan doa. Sementara sesaji hasil bertani tertata rapi di samping dan depan mereka.

Jelang subuh, Dukun Pandita Sutomo lalu membacakan kisah legenda masyarakat Tengger dengan bahasa setempat. Dilanjutkan melantunkan doa dan mantra-mantra untuk mengantarkan sesaji ke Gunung Bromo.

Usai berdoa, umat Hindu Suku Tengger bergegas memanggul ongkek atau keranjang yang berisi hasil berani ke kawah Bromo sejauh satu kilometer. Meski jalan yang mereka lewati terjal dan menanjak, tapi kaki-kaki itu tak menunjukkan lelah.

Menurut kepercayaan, ritual ini harus dilakukan sedari matahari belum bersinar. Dan begitu tiba di kawah Bromo, seluruh hasil bumi yang mereka boyong dilemparkan ke dalam kawah.

Sesaji itu jadi tanda akan keberkahan sekaligus wujud syukur atas karunia yang mereka terima selama ini, juga dipercaya bisa mencegah bencana alam; gunung meletus.

Sebab menurut PVMBG, aktivitas Gunung Bromo yang kerap memuntahkan awan panas, membahayakan warga Tenggar. Itu mengapa, PVMBG melarang aktivitas manusia sejauh satu kilometer dari kawah.

“Karena sudah menjadi adat budaya Suku Tengger kita ikuti, sesaji untuk memberikan sebagian rezeki untuk leluhur mereka kita ikuti acara ini. Kalau pengujung kita larang lah, karena situasi lagi tidak memungkinkan,” jelas Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, John Kennedie.

Tapi larangan itu seakan tak didengar. Para pengunjung tak ingin melewati upacara Suku Tenggar.

Pelancong dalam negeri dan mancanegara tetap berjalan menuju kawah. Dan, ativitas vulkanik Bromo, justru menjadi magnet. Mereka ingin melihat dari dekat dan berfoto, kata Kepala Resor wilayah Bromo, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Sarmin.

“Sebenarnya untuk masyarakat  pengunjung dan orang asing itu justru lebih atraksi. Melihat kondisi itu lebih menarik bagi mereka. Karena jarang ditemui kondisi seperti itu. Perancis, Belanda Jerman, Cina, Singapura, Malaysia,” ujar Sarmin.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo, Anung Widiarto mengakui, upacara Yadnya Kasada menjadi ritual yang ditunggu-tunggu wisatawan.

Hampir dipastikan kunjungan mereka karena ingin melihat perjamuan khas Suku Tengger tersebut. Meski, karena kondisi vulkanik Bromo saat ini, ada wisatawan mancanegara yang batal berkunjung.

Seperti yang diungkapkan I Made Wirasa, pelancong asal Bali. Ia bersama 100an temannya, datang ke sini demi Yadnya Kasada. “Ya tentunya saya ingin tahu, penasaran karena di Bali tak ada, hanya di sini.”

Gunung Bromo, kini menjadi salah satu dari 10 obyek wisata unggulan di Indonesia. Dan karenanya akan dikelola Badan Otorita Khusus. Nantinya, kata Anung Widiarto, upacara Yadnya Kasada akan dikemas agar menarik minat para wisatawan.  

Merujuk data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, total jumlah kunjungan wisatawan selama 2015 mencapai 474 ribu; terdiri dari 17 ribu wisatawan mancanegara dan 456 ribu wisatawan dalam negeri.

Sedangkan selama libur lebaran 2016 jumlah wisatawan mencapai 24 ribu jiwa, terdiri dari wisatawan nusantara 23 ribu dan wisatawan mancanegara 732 orang.

“Taman nasional dikelola dengan sistem zonasi, ada zona inti untuk satwa liar dan tumbuhan liar dilindungi. Ada zona inti, zona rimba dan pemanfaatan itu zona pemanfaatan. Jadi untuk pengembangan seperti di Bromo memang tempatnya zona pemanfaatan, selalu kita rapat untuk badan otoritas. Kita harus jamin itu, dijaga ya,” jelas Kennedie.



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!