Entong Pratama, bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Anak bungsunya mengalami trauma akibat pengusiran di Mempawah, Kalimantan Barat. Foto: Ria Apriyani/KBR.



KBR, Jakarta - Dua bocah lelaki sedang asyik bermain mobil-mobilan. Tawa mereka mengisi kosongnya rumah itu. Tak ada televisi di sana, hanya kipas yang menempel di langit-langit rumah.

Di selasar rumah sederhana itu, Entong Pratama dan Eni, duduk diam. Sepasang suami istri tersebut terlihat gugup ketika KBR menyambangi.

“Saya takut, terus terang aja,” kata Eni. Selama berbincang, ibu tiga anak ini menundukkan kepala. Tak berani menatap saya. Dengan mengenakan kebaya kuning, tangannya tak henti memilin bagian bawah kain.

Rasa takut yang ia sebut itu, tak lepas dari insiden tujuh bulan silam di Mempawah, Kalimantan Barat. Sejak itu, ia menjaga jarak dengan orang yang baru dikenal.

Eni masih ingat malam sebelum terjadinya pembakaran. Ratusan orang mendatangi dusun yang ditinggali kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Mereka dipaksa angkat kaki dari sana hari itu juga.

Sementara tentara yang juga ada di sana, memboyong anak-anak dan perempuan ke hutan. Mereka dipaksa berjalan. Jauh, tanpa penerangan. Ia tidak ingat berapa lama, tapi berjam-jam. Sedangkan para lelaki tetap bertahan.

Tidak ada yang tahu rombongan hendak kemana. Tentara hanya menyebut, mereka dibawa ke tempat aman. Selang beberapa jam berjalan, rombongan diantar keluar hutan. “Saya bawa anak. Duduk, jalan, duduk, jalan, terus balik lagi. Gelap, nggak kelihatan. Kita juga nggak boleh hidup-in handphone. Ada yang nangis.”

Eni berserta anaknya, lalu kembali ke rumah. Ia tak bertanya apa-apa pada sang suami. Terlampau lelah berjalan jauh, mereka langsung menuju kamar.

Tapi esoknya, ratusan menggeruduk dan membakar sepuluh rumah milik kelompok Gafatar. “Yang jadi pertanyaan saya, sebelum rumah dibakar, banyak mobil. Untuk evakuasi katanya. Tapi kenapa setelah rumah dibakar evakuasi baru berjalan? Api gede neng, di pipi bapak ini panas sekali,” imbuh Entong Pratama sambil mengusap pipinya.

Pembakaran itu meluluhlantakkan rumah Entong. Kelompok Gafatar berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri beserta anak-istri. “Api gede Neng. Hujan lebat. Saya aja kedinginan dan terpisah sama anak. Saya mikir, seandainya mati hari ini nggak masalah.”

Mereka lantas diboyong ke markas Bekangdam Tanjungpura. Tak satupun barang yang bisa diselamatkan. Surat nikah, akta kelahiran, hingga surat kepindahan, habis jadi abu. Hanya baju yang tersisa di tubuhnya.

“Delapan hari saya nggak ganti baju. Baju bekas kehujanan, pakai lagi, pakai lagi. Sakit sampai meriang, kaki sampai bisul,” kenang Eni.

Menggunakan mobil dan diiringi polisi, ratusan anggota Gafatar tiba di markas TNI. Dari balik jendela, Entong melihat bagaimana massa berkerumun. Ia merasa layaknya penjahat yang jadi tontonan orang-orang.

“Saya nyolong kagak, ngerampok kagak. Kok seperti itu ya yang saya alami?” kata Entong lirih. Para pengungsi lalu keluar dari mobil dengan todongan senjata.

Tujuh hari di markas TNI, suatu malam, suara keras dari toak membangunkan mereka dan diperintahkan masuk ke mobil. Kabar yang ia dapat, detik itu juga, mereka dipulangkan dengan pesawat.

Tapi Entong sekeluarga tak kebagian kursi. Terpaksa kembali lagi ke markas dan baru dipulangkan beberapa hari setelahnya dengan menumpang kapal perang ke Tanjung Priok.

Dari Tanjung Priok, keluarga Entong berpindah dua kali sebelum tiba di Depok. Mereka menghabiskan satu minggu di Cibubur dan satu minggu di Cimahi. Keluarga ini ditahan tak boleh pulang. Setelah itu, barulah mereka diantar ke Depok menggunakan mobil Satpol PP.

Selama berpindah-pindah, doa Eni cuma satu; supaya keluarganya selamat. “Berdoa, supaya pada sehat. Supaya bisa kembali tempat asal," katanya sembari mengelus kepala si bungsu.



Di Menpawah Ada Tanah Terjanji



Balita 3,6 tahun itu bermanja-manja pada Eni. Sesekali ia tersenyum dan mencuri pandang pada saya yang tengah berbincang pada sang ibu.

“Si Ramdhan nih sampai sekarang masih suka niruin tuh. Kan waktu itu diteriakin ya. Kencang. Pakai megaphone. 'Bangun! Bangun! Bangun!' gitu. Dia suka niruin tuh,” cerita Entong. 

Igauan itu, imbas dari peristiwa pengusiran dan pembakaran rumahnya ketika di Mempawah, Kalimantan Barat, pertengahan Januari lalu.

Dan tak hanya si bungsu yang trauma. Eni juga begitu. Kadang ia terbayang ngerinya berjalan di hutan didampingi tentara serta saat rumahnya ludes terbakar. Ingatan itu terbawa hingga mimpi. “Suka kebayang apinya kalau lihat yang merah-merah. Sampai sekarang suka ingat gitu asapnya hitam-hitam."

Entong mengenal Gafatar pada 2013, di suatu aksi bersih-bersih Tugu Batu Sawangan. Ia pun dicekoki cita-cita Gafatar menciptakan ketahanan pangan. Di mana tiap anggotanya bakal menjadi Rumah Pangan Mandiri.

Hingga pada Desember 2015, Entong hijrah ke Mempawah dengan bermodalkan Rp12 juta dari hasil menjual motor dan harta lain. Di Mempawah, kegiatan Entong hanya bercocok tanam dan donor darah. Meski begitu, tak sekalipun pernah bertemu Ahmad Moshadeq.

Sebetulnya sedari awal, Eni tak setuju ke Mempawah. Baginya, hidup di Depok sudah cukup. Apalagi ia punya ibu yang sakit-sakitan. Tak hanya itu, Eni menganggap, Mempawah tak menjanjikan untuk ditinggali. “Tadinya sih takut, nggak mau berangkat. Pas di Bogor, dipaksa suruh berangkat. Saya belum sempat pamitan ke ibu."

Tapi Eni tak bisa melawan kemauan sang suami yang berkeras membawa tiga anak mereka ke Mempawah. Pasalnya, Entong meyakini di sana adalah Tanah Terjanji.

Di sana pula, ia bakal mewujudkan mimpinya sejak kecil; bercocok tanam. Sementara di Depok, lahan terbatas. Sawah yang dulu membentang, kini berubah jadi jejeran beton. “Dulu dari tugu sana, nanam singkong, padi, umbi-umbian. Sekarang nggak bisa, lahannya jadi rumah. Emang rumah bisa dimakan?” ucap Entong.

Sial, karena mimpi Entong tak sampai seumur jagung. Januari 2016, mereka digeruduk massa dan membakar puluhan rumah kelompok Gafatar.

Sejak awal Februari tiba di Depok, keluarga Entong belum sekalipun didatangi pihak Dinas Sosial pun untuk pemulihan trauma. Padahal, Menteri Khofifah Indar Parawansa menjanjikan adanya rehabilitasi bagi bekas anggota Gafatar.

Namun, janji itu tak pernah terwujud. “Enggak pernah ada. Dulu banyak yang ke sini, dari TNI, pejabat desa. Tapi satu setengah bulan ini nggak ada.”

Satu-satunya yang tertinggal hanya karpet karet berwarna biru bertuliskan; Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Kini kehidupan keluarga Entong, tak jelas. Pasca harta bendanya ludes dilalap api, ia terpaksa menumpang di rumah adiknya di Depok. Kerja serabutan. Apapun ia jalani. Tukang urut, membantu memasang instalasi air dari rumah ke rumah, hingga memasang etalase.

“Ini bukan rumah saya. Ini rumah adek saya. Seandainya nanti ini mau dibongkar sama adek saya, saya paling gigit jari,” katanya.

Penghasilan jadi tak menentu. Satu hari pernah, ia mengantongi 150 ribu. Di lain waktu, berminggu-minggu ia tak mendapat sepeserpun. Kalau sudah begitu, giliran Eni yang memutar otak. “Ya dicukup-cukupin aja. Ya gimana nggak punya pekerjaan."

Keluarga Entong masih berharap uluran tangan pemerintah, setidaknya demi menghidupi ketiga anak mereka.




Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!