Komunitas Gusdurian tengah berbuka puasa di Klenteng Eng An Kiong, di Malang. Buka bersama ini bagian dari Safari Damai Ramadhan. Foto: Eko Widianto/KBR.



KBR, Malang - Aroma dupa menyeruak dari sebuah klenteng tua di Jalan Laksamana Martadinata, Malang, Jawa Timur.

Di sudut klenteng yang didominasi warna merah dengan ukiran naga itu, sejumlah orang tengah sholat maghrib. Dengan beralaskan karpet dan sajadah, mereka pun menunaikan shalat berjamaah.

Itu hari, rupanya komunitas Gusdurian sengaja bertandang ke sejumlah tempat ibadah, salah satunya Klenteng Eng An Kiong. Dan ini adalah pengalaman pertama mereka yang dinamai ‘Safari Damai Ramadhan’. 

Koordinator acara, Mukhtadi Amri mengatakan, safari ini jadi medium berdialog dengan umat beragama lain –yang tujuannya menguatkan ikatan toleransi. “Tempat (ibadah-red) yang disediakan yakin bersih, suci. Disediakan karpet dan sajadah. Inilah jalan kami beribadah, kami beribadah dengan yang kami yakini,” kata Amri.

Safari itu berlangsung akrab. Sebelum maghrib tiba, menu takjil disajikan, dilanjutkan makanan berbuka puasa. Tak ada canggung di antara kedua umat itu. “Diterima tuan rumah, ramah. Meski kita berbeda. Dari Katolik, Bahai, Kejawen, gereja, klenteng, mereka welcome tak seperti yang diberitakan di luar,” lanjutnya.

Selain untuk merekatkan tali toleransi antar-umat beragama, Safari Ramadhan ini juga ingin mengetahui arti puasa menurut agama lain.

Ia merujuk pada beberapa kejadian di sejumlah wilayah yang melarang warung atau rumah makan berjualan saat puasa –dengan alasan menghormati orang berpuasa. Kembali Mukhtadi Amri.

“Tujuan safari ini untuk mengupas puasa itu sendiri dari perspesktif lintas iman. Kemudian karena sekarang marak saling hujat, kami berbuka di sana. Berteman dengan seperti ini, lintas iman lintas dan lintas kepercayaan.”

Lantas apa kata umat Kristiani dan Budha, mengenai puasa?

Romo Eko, yang merupakan pimpinan Katolik di Malang bercerita, tradisi puasa juga dilakoni umatnya. Biasanya dilakukan pada hari Rabu Abu dan JUmat Agung.

“Mungkin yang sangat berbeda, secara hukum kita hanya diwajibkan berpuasa dua hari. Kita secara hukum yang kalau tak melakukan dosa,” ucap Romo Eko.

Sementara Banthe Dhamma Vijaya dari Vihara Dharma Dhipa mengatakan, puasa juga dikenal dalam ajarannya. Puasa dilakukan oleh Bikhu atau pimpinan umat Budha. Sedang bagi umatnya, tak diwajibkan.

“Sebenarnya kata puasa dari agama Buddha yaitu kata wasa. Masuk bulan wasa atau puasa dalam pengertian kami dalam tiga bulan harus masuk ke dalam vihara lebih banyak meditasi. Kemudian mengajarkan dharma ke penduduk sekitar,” jelas Banthe Dhamma.

Sehingga menurutnya, puasa tidak hanya menahan haus, lapar, dan nafsu. Tapi mengendalikan diri. Itu mengapa bagi dia, umat beragama harus saling menghormati orang yang berpuasa dan tidak.

“Hormati orang yang puasa dan orang tidak puasa, harus imbang dong. Jangan hanya menghormati yang berpuasa. Kalau para bikhu berpuasa begini anda nggak makan ya sengsara. Kalau semua diniati nggak ada gangguan, kalau ada gangguan itu bagus untuk mengetes sejauh mana keimanan kita.”

Pimpinan Klenteng Eng An Kiong, Bonsu Anton Triyono mengaku antusias dengan Safari Ramadhan yang dilakoni komunitas Gusdurian.

Pintu klentengnya, kata dia, akan selalu terbuka menerima kehadiran mereka.

Dan rencananya, Safari Damai Ramadhan akan digelar rutin, saban tahun. Koordinator acara, Mukhtadi Amri mengaku tengah menyiapkan dialog lintas iman selanjutnya.

“Ya kami akan lakukan setiap tahun, tempat yang kami tuju semakin banyak. Muslim campur aduk, Buddha, Hindu, Katolik, Bahai, Kejawen Syiah. Mungkin di daerah lain sudah ada tapi dalam konteks ini Gusdurian Malang yang memulai,” tutup Bonsu Anton Triyono.





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!