Ilustrasi konflik agama. Foto: Commons Wikipedia.



KBR, Jakarta - Api berkobar, asap mengepul, dan suara tembakan tak henti-hentinya menjerit. Tak peduli pagi-siang, kedua belah pihak saling serang, saling lempar, bahkan saling memanah. Tak ada tersisa. Rumah, toko, mobil, gereja pun masjid, porak-poranda.

Selama lima hari, Ambon jadi medan perang. Ratusan orang yang kebanyakan laki-laki, turun ke jalan sembari menenteng parang, golok, atau panah.

Itulah yang diingat Ronal Regan, remaja asal Ambon yang kala usianya sembilan tahun, menjadi komandan perang.

“Sebelumnya saya mohon maaf, setahun itu saya sebagai tim penembak, tim pembakar, dan tim pengebom. Dari sekian banyak orang, umur saya waktu itu sembilan tahun. Dan sampai sekarang saya masih ingat orang yang saya bunuh di depan mata saya,” ucap Ronal lirih.

Konflik di Ambon, pecah karena persoalan sepele; perkelahian antara seorang sopir dan pemuda pengangguran. Tapi rupanya, kelahi dua pria itu berujung rusuh SARA; warga Islam versus warga Kristen.

Ronald yang masih bocah, waktu itu, hendak menyusul ibu dan saudaranya ke Manado -mengungsi dari ‘panas’nya konflik. Sementara ayahnya yang seorang tentara, bertugas meredam kerusuhan.

Namun, belum juga sampai ke Manado, di tengah jalan ia bertemu sepupunya, Boiky.

“Saat itu, yang ada di pikiran, kebencian sebenarnya. Jadi pas ketemu almarhum kakak Boiky, diajak berperang, saya ikut saja. Karena tidak tahu juga mau ke mana saat itu. Enggak ada pikiran apa-apa. Pas ketemu kakak, perang.”

Dari situlah, Ronald kecil berada di barisan depan medan perang. Tugasnya menyiapkan bom untuk menyerang kubu seberang.

Setidaknya ada 23 anak-anak yang ia pimpin. Tak ada takut, secuilpun, kata Ronald. Yang ada justru kebencian.





Hubungan dengan Keluarga Menjauh

Empat tahun, Ronald bergumul dengan perang. Hubungan dengan keluarganya kian berjarak. Belakangan, ayah-ibu-saudaranya, memilih menetap di Ternate.

“Hanya bertemu satu kali. (Setelah itu, berkumpul kembali?) Tidak berkumpul. Saya keluar lagi dari jalur. Jadi karena kita punya pikiran bahwa, maaf, kami akan membela Kristus. Tapi itu kan salah. Orangtua tidak bisa larang lagi. Jadi, sewaktu bertemu orangtua, saya sudah biasa, enggak peka lagi.”

Tapi jalan hidupnya berbelok ketika bertemu Pendeta Jacky Manuputy pada 2004. Saat itu, Pendeta Jacky dari Gereja Protestan Maluku (GPM) berkeliling lokasi konflik untuk bertemu anak-anak yang terlibat perang. Dia ingin mengirim bocah-bocah Maluku itu ke pertemuan anak internasional di Filipina.

“Saat itu saya masih memikul senjata. Saya melihat orang ini, siapa sih? 'Saya Pendeta Jacky Manuputty dari GPM, saya mau ambil nyong untuk menjadi sesuatu yang lebih baik dari saat ini'. Ini orang gila kali ya, pikir saya. Lalu beliau katakan, 'Mau ke luar negeri atau tidak?' Mau lah, setiap orang mau. Karena saya juga enggak sekolah dua tahun.”

Ajakan Pendeta Jacky, diterima. Maka terbanglah ia ke Filipina, bertemu dengan anak-anak seusianya dari belahan dunia lain. Di sana, ia mengisahkan dirinya dan konflik Ambon.

“Pas pulang dari Filipina, saya dimasukan dalam organisasi YAP, Young Ambassador for Peace. Di situ, saya ditemukan dengan para jihad mini. Kami ditemukan dalam satu forum. Pertama kali bertemu, macam mau saling bunuh. Padahal, yang orang kristen berpikir bahwa orang muslim jahat itu salah, karena kita tidak pernah bergaul dengan mereka. Jadi kita hanya berpikir secara sepihak.”


Mendirikan Red Home

“Kalau menyesal karena membunuh orang, sampai sekarang sangat menyesal. Saya selalu berdoa setiap malam untuk menghilangkan mereka (korban-red) dari pikiran. Karena setiap malam mereka datang, orang-orang yang kami bunuh. Kami tidak menyesal masuk perang, karena tidak ada pilihan untuk masuk perang atau tidak masuk perang. Kami hanya ikut apa yang terjadi, bukan yang menjadikan,” kata pemuda berkacamata ini.

Ronald Regan termasuk bocah yang beruntung, lantaran tak sampai sinting akibat konflik berdarah itu. Ada, katanya, seorang temannya yang gila lantaran tak sanggup menanggung beban psikologis pasca konflik. Pasalnya, Pendeta Jacky Manuputylah yang menuntunnya ke jalan damai.

“Pas di jalan, baru pertama kali masih anarki. Tapi Papa Jacky selalu tanamkan, kamu lihat di gunung saja, kalau kamu sampai di gunung itu, di depan masih ada gunung lagi. Dari gunung itu, ada gunung lagi. Kamu mau berhenti gunung ini, atau mau capai lihat gunung lagi. Dari situ saya mulai berpikir.”

Sepulang dari Filipina pada 2004, Ronald bergabung dalam Young Ambassador for Peace (YAP). Sebuah wadah yang berisi anak-anak Muslim dan pelaku konflik.

Bersama kawan-kawan barunya, ia menekuni hobi lamanya; menari dan teater. “Sampai ke dalam, kami ambil seni untuk perdamaian. Jadi, mereka suka dancer, mereka suka teater. Jadi karena kami anak dancer, sebelum kerusuhan sudah belajar dancer. Karena mereka suka dancer, kami masukkan kami punya hobi kita, jadi mereka masuk.”

Pulang ke tanah lahirnya, Ronald menebar kedamaian. Caranya, memperkenalkan kesenian ke kampung Kristen dan Islam. Tujuannya; menyatukan kedua kubu yang sempat terlibat konflik.

“Saya pergi ke daerah muslim ke Batumerah, di Galunggung. Itu daerah yang tidak bisa masuk orang Kristen dan akan ketahuan kalau ada orang Kristen masuk. Mereka sembunyikan aku di situ. Di rumah mereka, dan mereka bawa anak-anak SMA 11 di Galunggung, datang ke situ lalu saya ajarkan dancer. Baru pas ada event dancer jalanan. Jadi, gerak jalan, berhenti di satu pos, dancer. Anak-anak kaget, di kanan mereka adalah Kristen dan dibaris kiri mereka adalah muslim. Mereka tidak pernah bertemu dan mereka bertemu di jalan raya,” kenang Ronal.

Misinya berhasil. Teman-temannya yang Muslim, mau masuk ke pemukiman Kristen, begitu pun sebaliknya.

Hingga pada tahun sama, dia mendirikan komunitas Red Home dan menjadikan rumah dinas ayahnya di komplek asrama militer OSM Ambon di Kudamati sebagai markas. 

“Saya buat komunitas Red Home, Rumah Merah. Di situ, saya punya bapak punya rumah dinas, karena balik ke Ternate, rumah itu jadi rumah komunitas Red Home. Ada pelukis, hip hop, teater, musikalisasi puisi. Dan kenapa dinamakan Red Home? Itu karena kalau kita ribut, bom yang datang jemput kita.”

Awalnya, komunitas Red Home hanya beranggotakan sekitar 20 orang. Di situ, mereka bebas berkesenian; bermain musik, melukis, berpuisi, atau berteater. Dan kini, sejak sepuluh tahun komunitas itu berdiri, hampir semua pemuda di Ambon jadi anggotanya.

Salah satu hasil bermusik itu, ada dalam lagu Puritan dari grup hiphop Molukka.

Sudah 17 tahun, Ambon tak lagi membara. Dan Ronald sadar betul, bangkit dari trauma bukanlah perkara mudah. Beruntung ada tiga sosok yang mau menopangnya; Pendeta Jacky Manuputty, Ustad Abidin Wakane yang Ronald temui semasa di YAP, dan wartawan Rudi Fofid yang ditemui Ronald kala di pengungsian semasa konflik.

“Mereka punya ajaran beda-beda. Papa Jacky mengajarkan untuk damai dengan diri sendiri. Opa juga hampir sama, tapi lebih spesifik. Opa Rudi kan selalu 5W dan 1H. Tapi lebih kuat Opa, sebenarnya karena setiap hari dengan saya. Kalau Pak Abidin Wakano mengajarkan cinta sesama agama. Kita adalah tubuh, agama sebagai rumah.”




Editor: Quinawaty

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!