Tiga aktivis lingkungan dari kiri, Lewi Gala Paru dari Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo, Budi Setiawan pendiri Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB), Petrus Asuy dari Komunitas Adat Muara Tae. Foto: Facebook UNDP Indonesia



KBR, Jakarta - Belitung, sebuah pulau yang berada di lepas pantai Sumatera. Diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Kekayaan laut menjadi salah satu sumber mata pencaharian penduduknya. Dan kini, Belitung jadi tujuan wisata alam bagi ribuan pelancong  macanegara.

Tapi di masa lampau, Belitung masyhur dengan tambang timah. PT Timah –perusahaan yang mengeruk selama hampir 27 tahun, masih meninggalkan jejaknya di sana.

Sejumlah bangunan seperti gedung perkantoran, rumah sakit, kompleks perumahan karyawan, masih kokoh berdiri. Menunjukkan bahwa pulau ini, dulu, kota yang mapan secara ekonomi dan mampu menyejaterakan masyarakatnya. Namun pada 1997, semuanya berubah.

"Tahun 1997 PT Timah menyatakan bangkrut di Belitung, ribuan orang di-PHK. Orang yang secara tiba-tiba di-PHK tentunya konflik sosial terjadi karena orang tidak tahu mau jadi apa lagi. Kalau kita tidak bantu masyarakat terus siapa? Karena pada waktu itu Belitung antara pertambangan dan lingkungan dipisahkan. Jadi kalau dulu saya bicara lingkungan berarti saya menghambat pembangunan," kenang Budi Setiawan, aktivis lingkungan sekaligus pendiri Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB).

Mei lalu, ia bersama dua pria; Lewi Gala Paru dari Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo dan Petrus Asuy, dari Komunitas Adat Muara Tae, menyabet Equator Prize –sebuah penghargaan pelestarian lingkungan tingkat internasional dari PBB.

"Ya kita bersyukur dapat Equator Prize, meskipun kita nggak mimpi mengejar ke penghargaan. Di satu sisi juga mendapatkannya, tanggung jawab lingkungannya makin luas," katanya.

Keterlibatan Budi Setiawan di Belitung, dimulai persis ketika PT Timah divonis bangkrut. Lewat KPLB, ia mengenalkan masyarakat setempat untuk berpencaharian secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Mula-mula, tak mudah mengenalkan cara baru itu pada mereka. Pasalnya, selama puluhan tahun, yang dikenal hanyalah menambang. "Bilang stop gampang, nggak boleh nambang. Nah trus kita makan apa? Kamu mau kasih makan saya? Nah ini tantangan yang coba kita bangun."

Pelan-pelan, ia lantas menyodorkan model bisnis baru; budidaya ikan hias luat. Lokasi pertama yang disasar Desa Tanjung Binga. Di sana, penduduknya biasa menangkap ikan dengan bom ikan yang tidak ramah lingkungan.

"Kita pura-pura jadi pengusaha ikan hias laut yang waktu itu belum diolah. Jadi clown fish gitu belum ada pasarnya. Maka saya datang ke masyarakat, sewa rumah di situ dan bilang ke masyarakat, 'pak, bu bisnis ikan hias laut yuk?'. Kita pun bikin jaringan dulu dengan Bali untuk pengirim ekspor ke luar negeri." 

Jerih payah sepanjang tiga tahun itu membuahkan hasil. Masyarakatnya kini menggantungkan hidup pada ekowisata.

Setelah berkutat dengan laut, Budi kemudian terpikir untuk merambah daratan untuk aksi penyelamatan lingkungan. Adalah Gunung Tajam, dataran tertinggi di Belitung yang menjadi sasarannya.

"Karena laut yang cantik nggak lepas karena orang yang menjaga. Artinya kalau wisatawan hanya berkunjung pantai, maka yang dapat dampak ekonominya orang pantai. Giliran insentif ini tidak dinikmati orang di hutan, maka mereka marah dengan menebangi pohon. Artinya orang hutan juga harus mendapat kesempatan yang sama."

Dulu, di kawasan hutan itu, illegal logging tak henti-hentinya terjadi. Pelakunya tak lain tentara dan polisi yang mempekerjakan warga setempat. Dan kini, para pekerja yang merambah hutan, beralih profesi jadi pemandu wisata.

"Maka kami create sebuah paket wisata: Wild Honey Bee Harvest. Mereka jadi pemandunya. Jadi setiap kali mereka dapat lebah madu di hutan, mereka kasih tahu kita. Ada sarang siap panen seminggu lagi, maka kita pasarkan. Nanti ada wisatawan beli paket wisata, masyarakat jadi pemandu."
 
Sekarang banyak orang mengenal Belitung karena keindahan alamnya. Dalam catatan Dinas Pariwisata setempat, pada Maret lalu, turis luar negeri yang melancong ke sana mencapai 1.800 orang.





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!