Seorang pekerja tengah bersiap merebus kedelai, di salah satu rumah industri tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Foto: Muhammad Ridlo/KBR.



KBR, Banyumas - Hampir seperempat keluarga di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, bertumpu pada industri pembuatan tahu. Dan selama bepuluh tahun, limbah tahu itu mencemari sungai-sungai di sana.

Tapi, tak hanya sungai yang berubah keruh, air pun jadi berbau. Bahkan, saking menyengatnya, bau itu meruap hingga ke desa tetangga. Padahal, sebagian keluarga lain di Desa Kalisari berprofesi sebagai petani dan pembudidaya ikan. Maka limbah tahu itu jadi masalah baru bagi lahan pertanian dan tambak ikan. Di mana sawah yang terhampar akhirnya dibiarkan rusak lantaran terlalu banyak kadar nitrogen yang melarut dalam air.

Salah satu warga pembudidaya, Ahmad Saehudin bercerita, ikan-ikannya banyak yang pingsan dan mati. “Kalau dulu, air limbahnya kan bau, sekarang tidak. Ikan minggir-minggir, pingsan, mati,” kata Ahmad.

Petani Desa Kalisari, Darsono, juga begitu. Hasil panen padinya turun karena sawahnya tercemar limbah tahu.  “Soalnya sungai batunya banyak sekali jadi tidak menyerap dan menjadikan sawah tidak subur lah,” tutur Darsono.

Tapi, persoalan itu akhirnya terpecahkan. Sadar, limbah itu kian mengancam kelangsungan hidup mereka, warga Desa Kalisari mengusulkan kepada pemerintah setempat membuat septic tank.

“Sebenarnya sejak tahun 1992 masyakat sudah menginginkan penanganan limbah. Pada waktu itu, desa mendapat bantuan dari Dinas Kesehatan sebuah septic tank. Semacam tanah yang dikeruk, kemudian di atasnya ditutup cor. Masih sederhana sekali tahun 1992. Artinya kesadaran mereka untuk penanggulangan pencemaran lingkungan sangat tinggi,” imbuh Kepala Desa Kalisari, Aziz Samsuri.

Sayangnya, septic tank itu tak berumur panjang. Lagipula, jumlahnya tak sebanding dengan banyaknya jumlah pengrajin tahu. Hingga pada 2009, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan uji coba Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) dengan teknologi modern; limbah disulap jadi gas metan.

“Akhirnya dipilihlah dua desa, di tahun 2009, yaitu Kalisari dan Cikembulan. Dibangun melalui pendanaan dari Kemenristek melalui BPPT dibangunlah dua IPAL itu. Tetapi dalam pengawasan sampai 2012 Kalisari dianggap lebih optimal. Pemanfaatannya, perawatan dan pengembangan usaha dari retribusi dari iuran menjadi sebuah kegiatan ekonomi yang meningkat,” jelas Aziz Samsuri.

Keseriusan warga Desa Kalisari kembali terbukti, kala Kementerian Riset dan Teknologi kembali memilih desa itu menjadi lokasi pembangunan IPAL Biogas Limbah Tahu atau Biolita, pada 2012 dan 2014.

Total ada lima IPAL yang dibangun. Malah, satu di antaranya, kata Aziz Samsuri, dibiayai secara swadaya dari warga. “Kemudian biolita yang nomor lima, adalah biolita swadaya. Ini satu-satunya biolita di Indonesia yang dibangun secara swadaya. Dari keseluruhan lima unit bilolita tersebut, limbah tahu yang terserap dari keseluruhan 260 pengrajin tahu itu baru 142 pengrajin. Sisanya, 118 pengarajin limbahnya masih mencemari lingkungan.”

Dan dari 142 pengrajin tahu yang diserap limbahnya ke IPAL Biolita, ada 210 keluarga yang terkena manfaatnya –mereka bisa memasak dari biogas yang disalurkan ke rumah-rumah. Seperti yang dirasakan Riyati. Tapi, untuk itu ia harus membayar iuran Rp15 ribu.

“Ya sangat membantu untuk memasak. Jadi beli elpijinya ringan tidak berat. Biasanya beli setiap minggu sekali, sekarang baru habis satu bulan, atau sehabisnya. Jadi bisa irit,” kata Riyati.

Iuran warga dari biogas Biolita itu lantas dikembangkan menjadi usaha kelompok; peternakan, perikanan, pertanian dan yang tengah digenjot sektor wisata.

Namun, meski sudah menampakkan hasil, pencemaran lingkungan tak sepenuhnya selesai. Masih ada 118 pengrajin tahu skala rumah tangga yang limbahnya belum dikelola IPAL. Sebabnya, IPAL tak mencukupi.

Setidaknya, dibutuhkan dua IPAL tambahan untuk menampung semua limbah tersebut. Dan, biayanya tidaklah murah hampir Rp4 miliar, kata Kepala Desa Kalisari, Aziz Samsuri.
 
“Yang jelas kami sedang berupaya, yang pertama untuk menyelesaikan tahap akhir persoalan limbah itu. Kita butuh dua lagi. Bahkan, pak Bupati menyatakan dalam Festival Tahu 2015 lalu menyatakan akan melakukan penyelesaian tahap akhir limbah tahu kalisari ini,” ungkap Aziz Samsuri.

Aziz percaya, jika semua limbah tahu itu diolah IPAL Biolita, desanya mampu menjadi desa wisata edukasi. “Kita sedang menuju desa wisata pendidikan dan wisata kuliner. Kenapa saya namakan wisata pendidikan, karena banyak ilmu di Kalisari. Bagaimana mengubah kedelai menjadi tahu, itu ada ilmunya. Kemudian limbahnya, bisa menjadi gas, itu ada ilmunya. Kemudian dari limbah padatnya dirubah menjadi kerupuk itu juga ada ilmunya.”

Itu mengapa, saban tahun Desa Kalisari menggelar Festival Tahu. Dan tahun ini, festival bertajuk ‘Sumpah Tahu’ akan dilaksanakan bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Kata Aziz, ada banyak perayaan; seni, kuliner hingga permainan perang tahu.



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!