Bekas TKI, Siti Badriah melakukan aksi meminta DPR segera mengesahkan RUU PRT. Foto: Fesbuk Siti Badriyah.



KBR, Jakarta - Siang di pekan terakhir ramadhan, Jakarta baru saja diguyur hujan. Ma’cik, sapaan akrab Siti Badriah, tengah bersantai di ruang tengah rumahnya yang sederhana bersama si bungsu. Kebersamaan semacam ini, baginya, langka. Sebabnya, aktivitasnya akhir-akhir ini di DPR membuat waktu bersama keluarga jadi terbatas.

Di sana –gedung DPR, ia bersama LSM Migrant Care tengah gencar membahas pengesahan UU tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Beleid ini, penting karena menjadi pelindung buruh migran.

"RUU ini sangat alot karena banyak kepentingan. Buruh migran ini semuanya prosesnya duit. Mulai dari dia daftar, sejak dia bikin data, itu duit semua. Makanya banyak yang terganggu kepentingannya kalau sampai semua ini dibenahi," ujarnya.

Kegigihan Siti Badriah, bukan tanpa sebab. Toh, ia sendiri, dulu, adalah buruh migran. Tapi kemudian, ia banting setir menjadi pendamping atau paralegal. Gelar sarjana hukum itu, ia raih akhir bulan lalu dari Universitas Bung Karno.

"Saya menangani kasus bahkan sampai sempat ke pangadilan meski waktu itu cuma dari paralegal nemenin buruh migran yang berkasus. Saya jadi tahu proses-proses pembuatan undang-undang di DPR. Itu yang membuat saya berminat untuk kuliah. Tahun 2012 saya putuskan kuliah di UBK dan saya lulus tanggal 25 Juni," ungkapnya bahagia.

Semasa menjadi buruh migran, Badriah juga punya pengalaman buruk; ditipu agen penyalur dan tak digaji. Hingga akhirnya, dia memilih kabur dengan bantuan calo.

"Kita bayar ke Tekong ada kira-kira 1200an ringgit waktu itu, kira-kira kalau dirupiahkan itu 12 jutaan. Kita harus naik bis dulu dari Penang ke Johor satu harian dan itu dipindah-pindah bis. Bahkan kami sampai harus nginap di hutan."

Sampai di tanah air, ia sempat diadvokasi LSM Migrant Care. Tapi sampai sekarang, kasusnya mandek. Di titik itulah, Badriah membulatkan tekad menjadi paralegal di lembaga yang mendampinginya. Setidaknya, ada sekitar 10 hingga 15 kasus buruh migran yang kini ia tangani.

"Dulu saya pernah nanganin juga kasus yang dia kerja sampai dua tahun kemudian disuruh tanda tangani surat, kalau dia sudah terima gaji padahal dia belum terima sama sekali. Sayangnya waktu kita gugat kalah, karena di sana itu dia sudah tanda tangan, padahal dia dalam ancaman," kenangnya.

Bergelut dengan kasus-kasus buruh migran, menyadarkan Badriah, bahwa jalan yang dipilih saat ini tidaklah salah. Maka ia pun diajari cara melobi anggota dewan. "Saya pikir-pikir saya di Migrant Care sudah lama. Di Advokasi Kebijakan, itu kan harus belajar komunikasi politik, sudah itu lobi-lobi itu ada ilmunya. Nah saya ajukan ke Migrant Care, saya minta dibiayai."

Tak banyak buruh migran seperti Badriah, suaminya Samno mengaku bangga pada sang istri. Tak ayal, ia harus rela berbagi peran dalam mengasuh anak. "Sekarang sudah jadi sarjana ya, saya sangat senang sekali, sangat bersyukur sekali," tutur Samno.

Menurutnya, apa yang didapat oleh istrinya merupakan buah dari kerja keras dan kegigihannya selama ini. Sementara, Badriah berharap, langkahnya bisa menginspirasi banyak orang, terutama para buruh migran agar mau meningkatkan kualitas diri.

Hari-hari Siti Badriah di DPR, memunculkan harapan; setidaknya parlemen dan pemerintah menunjukkan keseriusannya melindungi buruh migran yang jumlahnya mencapai 275 ribu lebih. Tanpa adanya payung hukum yang melindungi mereka, itu sama saja dengan menyengsarakan warganya sendiri di negeri orang.

"Harapan saya pemerintah lebih peduli karena Nawacitanya Jokowi kan katanya negara akan hadir untuk semua warga negaranya, termasuk buruh migran. Kemudian juga waktu itu Jokowi sudah menandatangi piagam Satinah, itu harus di implementasikan, negara hadir itu seperti apa," ucap Badriah.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!