Warga Kampung Baru, Muara Angke, Jakarta Utara, melihat beberapa gubuk sudah dihancurkan backhoe. Foto: Gilang Ramadhan/KBR.



KBR, Jakarta - Puluhan rumah dari triplek dan bambu berjejer di atas tanggul penahan banjir rob. Sampah berserak di mana-mana. Dan tumpukan penjaring ikan, bertengger persis di depan rumah. Bau anyir, sesekali tercium kalau angin bertiup.
 
Ini adalah Kampung Baru, Muara Angke, Jakarta Utara. Di mana tak lama lagi, mereka bakal ditendang dari sana oleh Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, tanggul yang mereka tinggali bakal ditinggikan demi menangkal banjir rob serta untuk memperluas area parkir.
 
Di sana, KBR menemui sejumlah warganya. Mereka tengah berkemas kalau-kalau waktu gusuran tiba. Sebab mulanya, penggusuran bakal dilakukan dua pekan sebelum lebaran, atau kira-kira 20 Juni. Tapi belakangan berubah menjadi usai lebaran.
 
Salah satu warga, Mulyadi bercerita, pemberitahuan akan adanya gusuran disampaikan lewat surat dan lisan oleh pengelola pelabuhan Muara Angke.
 
"Seminggu sebelum puasa sudah dikasih tahu bakal digusur. Tapi kita mohon abis lebaran. Kasian di sini juga pada butuh duit buat lebaran. Apalagi mau digusur kan tambah pusing," kata pria yang akrab disapa Mul.
 
Di Kampung Baru, ada 400 lebih rumah atau lebih tepatnya gubuk. Hingga saat ini, belum ada kabar kemana mereka akan dipindahkan. Padahal mereka berharap, mendapat rusun di sekitaran Muara Angke.
 
"Kita pengen (tempat tinggal-red), pengen sekali. Kalau di rusun harus ada KTP DKI, kalau di tempat lain sudah penuh semua. Sudahlah, kita terima apa adanya. Kita masyarakat kecil ngikutin aja," harap Mul.
 
Mulyadi sekeluarga dan ratusan warga lain berasal dari Banten, tapi sudah tinggal di Kampung Baru sejak 1998. Pekerjaan sebagai nelayan, buruh di pelelangan dan pasar ikan, serta pedagang di area pelabuhan, mengantarkan mereka sampai ke sini.
 
Tahu gubuk mereka bakal rata dengan tanah, dalam hitungan hari, sebagian keluarga sudah membangun gubuk baru di lahan kosong pelabuhan Muara Angke. Lahan kosong ini hanya berjarak puluhan meter dari tempat yang sekarang mereka tinggali. Yasa, salah satunya. Ia memasang patok baru di sana.
 
“Kita terpaksa bikin rumah di area kosong yang banyak sampahnya. Di sana sangat bau, tapi kita terpaksa. Kalau lihat tempatnya nggak cocok lah, tempatnya bau. Berhubung nggak ada lahan lain, terpaksa kita bikin patok di situ,” ujar Yasa.
 
Perwakilan warga Kampung Baru, Suanda menyebut, tiap-tiap rumah sudah menerima uang kerahiman sebesar satu juta rupiah. Semua warga yang akan digusur menerima uang itu dan tak ada yang menolak.
 
Kata dia, lantaran posisi lemah mereka tak mampu melawan si pemilik lahan. “Semua warga nerima. Ya habis gimana, kalau nggak dipegang hangus, dipegang juga hangus. Semuanya ada empat ratus lebih pintu,” ucap Suanda.
 
Sementara itu, Kepala Tata Usaha Pengelola Pelabuhan Perikanan Provinsi DKI Jakarta, Sony Wicaksono membenarkan kalau tak ada rusun bagi warga Kampung Baru. Ia hanya memberi tenggat untuk hengkang seminggu setelah lebaran.

“Uang kerahiman itu tidak disiapkan oleh Pemprov DKI. Tapi kontraktor secara sukarela memberikan. Kita memberikan keleluasaan pada mereka untuk membongkar sendiri seminggu setelah lebaran paling lambat,” kata Sony.
 
Namun menurut Koordinator Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Eny Rochayati, korban gusuran tak semestinya hanya diberi uang kerahiman. Pasalnya, selama berpuluh tahun mereka sudah menetap di sana dan di situ pula jantung perekonomian warga Kampung Baru berdenyut.
 
"Maunya kami sebelum ada rumah susun jangan digusur dulu. Pastikan itu rumah susun kapan gitu. Ahok itu kan nggak bisa mastikan waktu itu. Persoalannya kan mereka bekerjanya di situ. Perputaran ekonomi juga bakal pincang kalau mereka pergi dari situ. Karena memang mereka bekerja di situ," tegas Eny.




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!