Wakhida (kiri) dan Zahra Tedjowongso (kanan). Foto: Facebook Komunitas Teman Remaja Teman Setara

KBR, Jakarta - Pagi itu Zahra Tedjowongso baru saja menerima rapor kelulusan di SD Islam At Taqwa.

Siswa yang baru lulus kelas enam SD tersebut menjadi salah satu pemenang foto story “Teman Remaja Teman Setara” yang digelar Lembaga Buruh PBB, ILO dan Yayasan Kampung Halaman.

Lomba digelar untuk mengkampanyekan pekerjaan yang layak bagi Pekerja Rumah Tangga.

Cerita yang diangkat Zahra judulnya Omelet Wakhida. 

Judul foto itu tak lepas dari keseharian Wakhida yang saban hari membuatkan omelet mentega untuk keluarga Zahra.

“Setiap hari menyiapkan sarapan, panggilin ojek buat antar Zahra. Setelah itu, menyuci, mengepel, menyapu rumah, terus jaga warnet dari siang sampai sore. Kemudian menyetrika sambil dengarkan lagu dangdut,” ungkap Zahra.

Wakhida adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT).

Ada beberapa keseharian Wakhida yang dibidik dan diabadikan Zahra.

Semisal, Wakhida bangun tidur, memasak sambil memegang sapu dan susuk wajan, mengepel lantai hingga Wakhida dan neneknya yang sedang asyik menonton drama India.

“Jadi aku sepulang sekolah, tidur, pagi biasanya bangun jam 05.00. Lalu jam 05.15 bangun untuk fotoin mba Ida,” sambungnya.

Ibu Zahra, Tri Dustira bercerita, awalnya Zahra diajak teman sekelasnya Zahira Zahwa Risnanto mendaftar untuk lomba “Teman Remaja Teman Setara”. Meski sempat tak yakin menang, tapi putri bungsunya itu punya tekad kuat.

“Karena waktu pertama ikut, saya kira itu tingkat SD. Enggak ada target menang. Sebagai penggembira saja. Saya bilang sama anak saya, target Zahra kali ini bukan untuk menang, karena baru pertama kali ikut kompetisi. Bagi ibu kamu ikut kompetisi saja itu sudah prestasi, buat ibu sudah hebat,” timpal ibu Zahra, Tri Dustira.

Demi lomba itu, gadis penyuka olahraga lari ini belajar mengotak-atik kamera DSLR yang dipinjam dari kakaknya.

“Aku belajar dari kakak Arif soal foto. Terus aku juga diajarin kakakku. Setelah itu aku dan Zahira juga diajarin kak Fitri," ucapnya.

Bahkan mentor Zahra, Rachma Savitri, Direktur Yayasan Kampung Halaman ikut mengajari teknik membuat proposal sampai mengambil audio dan foto.

“Karena waktu itu kita enggak tahu proposal itu apa. Akhirnya kak Fitri bantuan kita. Hal pertama apa yang kamu ingat tentang mba Ida? Omeletnya,” sambung Zahra.

Saat itu, puluhan foto hasil jepretan Zahra dikirim ke panitia lomba. Namun, foto yang dipilih hanya beberapa saja.

Foto berjudul Omelet Wakhida itu menjadi pemenang. Zahra dan Zahira, menjadi pemenang termuda.
 
Keduanya mendapat beasiswa, uang belasan juta rupiah, plakat dan penghargaan. Beasiswa itu nantinya digunakan untuk mengikuti workshop dan membuat foto story tentang Wakhida.

Zahra pun bersyukur, lomba ini memberinya banyak ilmu tentang PRT.

“Sebenarnya kebanyakan mereka merendahkan. Mereka enggak tahu betapa lelahnya betapa pentingnya PRT. Untuk hak-hak, aku jadi tahu lebih banyak. Setelah ini juga aku ingin ikut lomba lagi. Biar bisa tahu lebih banyak tentang PRT,” tutup Zahra.




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!