Anggota Akademi CSC Women Indonesia tengah berlatih di Bogor, Jawa Barat. Foto: Bambang Hari/KBR

KBR, Jakarta - Matanya fokus tertuju pada bola. Sesekali dia berteriak kepada rekannya agar menjaga pemain lawan.
 
Meski mengenakan jilbab, tapi tak menghalanginya melompat bahkan berguling demi menghalau bola yang dilesakkan ke gawangnya.
 
Dia adalah Evi Iswandari. Gadis belia bersama kawan-kawannya itu sedang latihan rutin.
 
“Karena saya mengenakan jilbab, banyak yang bilang kalau saya lebih cocok sekolah di pesantren. Tapi itu tidak saya lakukan. Sebab saya sudah gemar olahraga sepakbola sejak dulu. Dan pakaian ini sama sekali tidak menghalangi untuk bersepakbola,” ungkap Evi.
 
Tak hanya Evi, Bella Juliani Syamsudin juga menggandrungi sepak bola. Mahasiswa di Fakultas Olahraga Universitas Negeri Jakarta ini senang memainkan si kulit bundar sejak kanak-kanak.
 
“Di samping olahraga, kita juga bisa mengambil banyak pelajaran dari sepak bola. Salah satunya bagaimana cara bekerja sama dengan rekan-rekan setim. Untuk zaman sekarang, saya rasa sudah umum kalau sepak bola dilakukan perempuan. Bahkan di Piala Dunia untuk perempuan juga sudah ada," timpal Bella.

"Orangtua juga selalu mendukung kegiatan saya dalam berolahraga sepak bola. Selama tidak mengganggu kegiatan belajar, tidak ada masalah,” sambungnya.
 
Begitu pula dengan rekan setim Bela, Tuta Fiorentina. Ia sejak berusia tujuh tahun, sudah berkawan dengan sepak bola.
 
“Ayah saya memang memiliki kecintaan terhadap sepak bola. Sejak umur 7 tahun, saya sering diajak bermain bola. Ayah saya juga sering mengajak saya bermain bola ke lapangan. Sejak saat itu saya suka dengan olahraga ini,” tutur Tuta Fiorentina.
 

Akademi CSC Women Indonesia

Tuta dan Bela merupakan anggota dari akademi sepakbola CSC Women Indonesia. Akademi itu banyak menelurkan pemain di Tim Nasional Indonesia Putri. Dari 22 anggotanya, enam di antaranya memperkuat Tim Nasional Putri di ajang AFF Cup yang berlangsung di Manila, Filipina beberapa waktu lalu.

Sayang, Timnas Putri gagal menembus babak penyisihan. Lebih parahnya, di pertandingan pamungkas, gawang yang dijaga Evi harus kemasukan 10 gol. Sementara Timnas Putri hanya mampu melesakkan satu gol ke gawang Thailand.
 
Mengembangkan sepak bola putri di Indonesia bukan perkara mudah. Pelatih Akademi CSC, Raden Kicik Asnawi menjelaskan.
 
“Saya tertarik mengembangkan sepak bola di Indonesia. Terutama di Kabupaten Bogor dan di Jawa Barat, yang mana orang kurang begitu menyukai  olahraga ini. Itu tantangan sendiri buat saya. Sebab, akademi ini dimulai dengan hanya tiga orang anak asuh,” imbuh Kicik.
 
Apalagi kata dia, olahraga ini dianggap tak lazim bagi perempuan. Namun pria berusia 40 tahun ini punya cara sendiri.
 
“Kami selalu melakukan pendekatan dengan orangtua. Sebab tanpa dukungan dari orangtua, kami takkan berkembang hingga sejauh ini. Kami sering berkunjungan ke  rumah orangtua. Biasanya kami ngobrol-ngobrol dengan mereka,” sambung Kicik.
 
Cara itu diharapkan bisa membangun kepercayaan orangtua atas kegiatan yang dilakoni remaja putri mereka.
 
Tapi sial, di tengah usaha Kicik mengembangkan sepak bola putri, Indonesia justru disanksi oleh FIFA.
 
“Memang, sanksi yang dijatuhkan FIFA menyulitkan kami semua untuk mewujudkan cita-cita kami. Tapi kami tetap harus melakukan kegiatan ini terlepas ada atau tidaknya sanksi tersebut,” ungkapnya lagi.
 
Masih adakah jalan untuk sepak bola putri Indonesia?
 
Deputi IV Peningkatan Prestasi Olharaga di Kementerian Pemuda dan Olahraga, Djoko Pekik Irianto mengatakan, sanksi FIFA tak berpengaruh. atas perkembangan sepak bola putri di tanah air.
 
“Sanksi FIFA memang telah mempengaruhi dihentikannya kompetisi di Indonesia. Tapi percayalah, pemerintah serius ingin memperbaiki persepakbolaan di tanah air. Khusus untuk sepakbola putri, cita-cita pemerintah mengirimkan wakilnya di Piala Dunia. Saya sadari itu harus dilakukan dengan kerja keras,” tutup Djoko Pekik.
 
Hal itu setidaknya memberi harapan bagi pelaku olahraga sepak bola putri dalam meraih mimpinya. Sehingga mereka bisa terus berlatih.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!