Puluhan pasien jiwa dirawat di Posyandu Jiwa, Kecamatan Peterongan, Jombang. Foto: Muji Lestari

KBR, Jombang - Puluhan warga Kecamatan Peterongan memenuhi Posyandu Jiwa di Balai Desa Bongkot. Canda dan teriakan histeris sesekali terlontar. Sejumlah petugas dari kepolisian setempat dan koramil pun berjaga, takut kalau-kalau mereka kabur.
 
Mereka adalah penyandang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa.
 
Posyandu Jiwa menjadi satu-satunya tempat yang menampung penyandang disabilitas mental atau orang dengan gangguan jiwa.

Programer Jiwa, Anik Rofiqoh, yang juga staf Puskesmas Desa Dukuhklopo, bercerita.
 
“Posyandu ini hasil infak. Kita dan teman-teman sejawat kemudian sosialisasi ke PKK, alhamdulillah mereka perduli. Semua diberi uang 950 ribu rupiah, ada juga yang praktek komunitas dari Lamongan saya juga diberi satu juta. Yang awalnya saya tidak punya dana sepeser pun sekarang sudah 2,7 juta rupiah lebih. Karena dari pemerintah itu belum ada,” ungkap Anik.
 
Anik juga bercerita, selama ini, orang dengan gangguan jiwa kerap dibuang keluarga. Kalau pun bersama keluarga, diperlakukan layaknya hewan, dirantai, dipasung. Bahkan mereka diisolasi di kebun belakang rumah yang letaknya cukup jauh dari keramaian.
 
Posyandu Jiwa sudah merawat ratusan pasien. Perubahan pun terasa bagi para penghuninya.
 
“Untuk wilayah Puskesmas Dukuhklopo yang terdiri dari tujuh desa itu, kita punya 103 pasien yang tiga meninggal. Kemudian untuk yang 50 orang itu sudah mandiri. Pokoknya kondisi sebelumnya tragis, ada yang enam tahun enggak mandi kayak gembel, dia enggak mau keluar, di kandang, ada yang tidak mandi sampai empat tahun. Kemudian ada yang kalau kita ketemu dia lari, itu namanya isolasi sosial jadi dia takut sama orang asing,” timpal Anik.
 
Salah satu keluarga pasien, Rohmah, warga Desa Tajungunung, mengaku terbantu dengan adanya Posyandu Jiwa.
 
Adiknya, Sunoto, yang mengalami gangguan jiwa sejak usia anak-anak berangsur normal. Padahal dulu, adiknya kerap mengamuk jika tak terpenuhi keinginannya.

“Sudah ada perubahan, hanya omongnya yang belum bisa, dia diam kalau tidak ditanya enggak mau omong. Kalau enggak dikasih makan dia juga diam," katanya.
 
Saat ditemui, Sunoto sedang bermain bola. Wajahnya tampak riang. Ia ingat, sebelum diboyong ke Posyandu Jiwa, ia hampir saban bulan dibawa ke rumah sakit.
 
“Pernah berobat di Puskesmas, ke RSUD Jombang, sekarang sudah sehat-sehat saja, biasa," celetuknya.


Sejarah Posyandu Jiwa

Posyandu Jiwa dirintis sejak dua tahun silam tepatnya pada 2014. Ide itu muncul pada 1998, lantaran prihatin melihat ribuan warga Jombang yang mengalami gangguan jiwa tapi tak terawat dengan semestinya.
 
Programer Jiwa, Anik Rofiqoh mengatakan, para pasien gangguan jiwa dirawat dengan metode asuhan keperawatan. Tujuannya, membantu pasien untuk mandiri. Tapi bagi pasien yang dipasung, Posyandu Jiwa akan ditangani dokter.

Pasien lain yang menunjukkan kemajuan, namanya Imaroh. Warga Desa Kebontemu itu sudah bisa melafalkan ayat-ayat al-Quran meski perlu dituntun.

Perempuan berusia 35 tahun itu, sudah dua tahun dirawat di Posyandu Jiwa.

Sementara Bupati Jombang, Nyono Suharli Wihandoko, yang meninjau secara langsung Posyandu Jiwa untuk kali pertamanya, berjanji akan mengucurkan anggaran perawatan melalui APBD Kabupaten setempat tahun 2016 mendatang. Sehingga pada 2016 Jombang bebas pasung.
 
“Dari yang dipasung 47 sampai hari ini masih ada 19 orang, dan setiap hari Sabtu akan kita lakukan pelepasan. Mudah-mudahan pada tahun 2015 ini semuanya sudah bebas pasung. Total pasien di Jombang ada kurang lebih 1100 orang, yang mulai sembuh diperkirakan sudah 60 persen," tutu Nyono.
 

 
Editor: Quinawaty Pasaribu 
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!