Nasir Abas, Jihad Baru Panglima Jamaah Islamiyah (Bagian 5)

"Istilah deradikalisasi saat itu tidak ada. Yang ada bagaimana kita menyentuh perasaannya, bahwa aksi bom itu atau aksi terorisme tidak benar. Itu merugikan dirinya, keluarganya, dan banyak orang."

Jumat, 24 Jul 2015 07:42 WIB

Muhammad Nasir Abas (kanan) bersama keluarga korban Bom Bali, Ni Luh Erniati (kiri). Foto: KBR

KBR, Jakarta - Tak mudah bagi Nasir Abas untuk berubah. Terutama bagi keluarga dan anaknya yang beranjak besar.

Karena itu, sedari dini, ia mempersiapkan anak-anaknya agar kelak ketika ditanya masa lalunya yang penuh kekerasan, mereka bisa menjawab.

“Kalau nanti ada teman-temanmu yang bertanya, jawab: Abiku itu dulu teroris tapi sekarang itu bukan. Sekarang Abiku itu memberi pencerahan pada orang supaya jangan jadi teroris. Lalu lama-kelamaan teman-temannya merasa bangga,” ungkap Nasir.

Adalah Agus Bambang Priyanto. Orang lebih mengenalnya sebagai Haji Bambang. Saat Bom Bali meledak pada 2002 silam, namanya mencuat.

Ketika itu, Haji Bambang tanpa lelah dari malam hingga hari terang menolong para korban. Hingga setahun kemudian, Majalah Time memberi gelar Pahlawan Asia.

Ia bercerita tentang musuh yang kini menjadi kawannya, Nasir Abas.

“Kalau sekarang ketika kawan menjadi lawan itu sangat sulit dideteksi. Saya lihat posisinya Nasir Abas cukup berbahaya. Tapi saya percaya, Tuhan melindungi dia. Sebab Tuhan akan memberikan jalan kepada orang yang berbuat baik di muka bumi ini,” kata Agus Banbang.

Panglima Jamaah Islamiyah itu kini telah menemukan jihadnya yang baru. Berkampanye ke berbagai kalangan, ke banyak daerah untuk menolak kekerasan.

“Jadi, saya bilang sama pihak kepolisian, kalau misal ada yang ditangkap, beri saya kesempatan untuk nasehati mereka,” sambung Nasir.

Ia bahkan sampai harus mendatangi mereka yang pernah ditangkap dalam kasus teror.

“Saya tidak membenci Imam Samudra, saya tidak membenci para pelaku-pelaku bom itu. Yang saya tidak suka perbuatannya karena merugikan orang lain. Alhamdulillah, dengan proses yang saya sebut, dalam istilah Islam dakwah," tutur Nasir.

Tapi meyakinkan para terpidana kasus terorisme untuk mengubah pandangan, bukan perkara mudah.

“Ada orang cepat paham, ada orang lambat paham, ada orang cepat menerima, ada orang lambat menerima. Jadi, itu sebabnya perlu waktu. Istilah deradikalisasi saat itu tidak ada. Yang ada adalah bagaimana kita menyentuh perasaannya, bahwa aksi bom itu atau aksi kekerasan, atau aksi terorisme itu tidak benar. Itu merugikan dirinya, keluarganya, dan banyak orang,” sambung Nasir.

Demikian bagian akhir Saga Serial  Jihadi episode Jihad Baru Panglima Jamaah Islamiyah.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.