Muhammad Nasir Abas (berbaju garis-garis biru). Foto: KBR

KBR, Jakarta - Nasir Abas berasal dari keluarga kaya. Meski begitu, ayahnya hidup sederhana dengan berjualan di kaki lima.

“Saya lahirnya Singapura. Warga negara Singapura. Ayah ibu juga orang Singapura. Lahir 6 Mei 1969. Orang tua saya beri nama Muhammad Nasir. Itulah nama saya, Muhammad Nasir. Kalau Abas itu nama ayah saya. Abas bin Yusuf. Kalau orang Malaysia atau Singapura yang lama-lama, masih ingat Muhammad Yusuf Pral atau MYP. Karena itu pengusaha obat,” tutur Nasir.

“Akhirnya saya pindah ke Malaysia. Tetapi empat orang kakak saya masih tetap bertahan sebagai warga Singapura. Tetapi kemudian saya besar di Malaysia. Menjadi warga Malaysia. Sampailah umur 15 tahun, saat SMP lalu kemudian saya berhenti sekolah,” sambungnya.

Kala itu, Nasir yang baru Kelas III SMP memutuskan tak lagi melanjutkan sekolah dan memilih belajar agama di Pesantren Maahad Ittiba'us Sunnah di Kuala Pilah, Johor.

Padahal Nasir sesungguhnya tak suka pelajaran agama Islam.

"Saya tidak suka sama sekolah karena pelajaran agama Islam. Karena saya tidak  pandai membaca al-Quran dan saya tidak pandai menulis Arab. Akhirnya membuat saya sering dihukum," imbuhnya.

Tapi di pesantren pimpinan Hasyim A. Ghani itu, Nasir tekun belajar. Siti Hajar, anak Hasyim A. Ghani memberikan kesaksian.

“Saya lupa berapa tahun dia belajar di sini. Tapi dia seorang yang pintar. Rajin menelaah. Dia tidak suka jalan jalan atau bersantai-santai. Dia akan belajar,” kata Siti Hajar.

Sementara menurut kakak Nasir, Fauzia binti Abas, sedari kecil adiknya itu punya bakat yang tak biasa. 

“Dia memang luar biasa, dari sembilan bersaudara, dia luar biasa bagi saya. Sebab dia, otaknya tak tahulah bagaimana. Mungkin karena sering makan minyak geliga. Otaknya bergeliga.  Sebab apapun dia belajar. Dia tak pernah gagal,” ujar Fauzia Abas,

Dua  bulan Nasir nyantri di Maahad Ittiba 'us Sunnah di Kuala Pillah, Negeri Sembilan, datang puluhan pelarian orang Indonesia.

Para pelarian ini menetap di kawasan Serting, Negeri Sembilan. Meski mereka tinggal cukup jauh dari Maahad, setiap Jumat mereka datang ke pesantren untuk sholat Jumat.

“Setiap Jumat  datang untuk Jumatan. Setiap Jumat kita melihat mereka jualan barang. Jual minyak wangi dan buku. Sehingga akhirnya berkenalan. Berkenalan itu bukan hanya berkenalan, tapi saya juga datang bertamu. Mereka datang ke tempat saya. Saya juga datang bertamu ke tempat tinggal mereka," kembali Nasir.

Beberapa tahun kemudian datang tawaran kepada Nasir untuk ke luar negeri; Afghanistan. Biayanya dari para pelarian itu.

“Mendengar kata Afghanistan, saya langsung bilang iya saya mau ke sana. Akhirnya dalam hati, saya mau ke Afghanistan, ini peluang belum tentu ada peluang yang lain. Ustad Hasyim Gani sudah tahu sikap saya. Akhirnya Ustad Hasyim Gani bilang, kamu harus pulang dan minta izin sama orang tua," sambung Nasir.

"Saya pulang dan saya minta izin. Ayah saya malah terharu dan bilang, Sir kalau ayah tidak dapat pergi ke Afghanistan, kamu yang menggantikan ayah,” katanya.

Muhammad Nasir Abas menjadi warga Malaysia pertama yang berjihad di Afghanistan. Tapi, sesampainya di sana Nasir malah kecewa.

Apa yang membuatnya kecewa? Peristiwa apa yang  mempengaruhi Nasir sehingga terlibat Jamaah Islamiyah?

Ikuti serial jihadi episode Jihad Baru Panglima Jamaah Islamiyah bagian ketiga.




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!