Terpidana Terorisme, Ali Imron. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Terpidana terorisme yang dihukum seumur hidup, Ali Imron, tengah menjalani program deradikalisasi.

Pelaku Bom Bali 1 ini mengakui kesalahannya.

“Kalau sekarang ini kita perhatikan. Saya ini yang paling banyak beban. Daripada yang sudah dieksekusi. Kalau yang dieksekusi hanya dibenci oleh pihak korban. Tapi kalau saya, keluarga anak-anak Muklas pun membenci saya. Keponakan saya membenci saya karena sikap saya. Saya dibenci oleh para korban, keluarga korban, kemudian dibenci oleh kawan-kawan saya," ungkap Ali Imron. 

"Jadi saya yang paling banyak beban sebenarnya. Tapi saya tidak takut. Bahkan pernah didatangi ke sini karena sikap saya mengaku bersalah, karena saya terlibat bom Bali, saya menyesal. Saya dicap sebagai pengkianat, saya dihalalkan darahnya. Itu kawan sendiri,” sambungnya.

Tapi dari seribuan narapidana terorisme, tak banyak yang berubah seperti Ali Imron. Ini karena tak mudah mengubah pemikiran seseorang.

Menurut Hamka Hasan, akademisi yang turut dalam penyusunan buku putih deradikalisasi, ada sejumlah tahapan dalam proses mengubah pemikiran radikal.

“Kalau rehabilitasi ada pengosongan pemikiran-pemikiran radikal. Strateginya sama, diberikan pencerahan, kemudian bagaimana Islam yang damai. Terjadi dialog. Sampai mereka kosong terhadap radikalisme. Mereka harus memiliki sertifikat untuk bisa ke program selanjutnya yaitu reedukasi. Reedukasi ini adalah pengisian materi-materi yang moderat. Toleransi, kenegaraan dan lainnya dan pada saat yang sama diberikan pelatihan,” ucap Hamka Hasan.

Malah menurut pengamat terorisme, Al Chaidar, deradikalisasi baru berhasil bila pelaku terpisah dari kelompok asal dan mapan secara ekonomi.

“Kalau sudah mapan ekonomi, terpisah, saya kira bisa dimatikan itu radikalisme. Walaupun tak habis semua. Tapi apakah ideologi bisa mati atau tidak itu masih pertanyaan. Saya tidak begitu yakin. Karena Marx bilang ideologi itu tidak bisa mati,” kata Al Chaidar.

Dan nyatanya, dari ratusan terpidana kasus terorisme yang sudah bebas, 30-an di antaranya kembali melakukan aksi teror.

Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Agus Surya Bakti mengakui, pembinaan napi teroris di dalam lapas belum maksimal. Ini karena tidak ada program khusus deradikalisasi.

"Kita sebenarnya tidak berharap dia kembali ke komunitasnya. Karena kalau kembali ke sana, tiap hari mendengar cerita kekerasan, lama-lama ikut melakukan aksi serupa. Kita berharap dia kembali ke masyarakat," tutur Agus Surya.

"Tapi masalah yang kita hadapi adalah masyarakat banyak yang tidak mau menerima mereka. Karena dianggap mereka bekas teroris, dicap jelek. Akhirnya ada resistensi dari masyarakat. Alhasil, karena masuk ke sana enggak bisa, mau tidak mau dia kembali ke komunitas [teroris] nya. Ini dia permasalahan yang lain,” sambungnya.

Demikian  Serial Jihadi edisi Menengok Program Deradikalisasi bagian akhir.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!