Gerakan Papua Itu Kita. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Di pusat Ibu Kota Jakarta, puluhan orang berpakaian adat Papua menari diiringi musik tradisional. Sejurus kemudian, tradisi bakar batu berlangsung di tengah-tengah pelataran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Tradisi bakar batu sendiri merupakan simbol rasa syukur dan persaudaraan.

Ini adalah gelaran deklarasi #papuaitukita. Ketua Panitia Acara sekaligus Koordinator Nastional Papua Solidarity (NAPAS), Zely Ariane menjelaskan tujuan gerakan tersebut.

“Misi utamanya adalah menghancurkan stereotype kita kepada orang Papua. Misalnya dari warna kulit saja kita sudah jelas berbeda dengan mereka karena kita mayoritas Melayu. Lalu image mereka selalu dikaitkan dengan separatis atau pemberontak. Itu membuat jarak antara kita dan Papua semakin jauh. Itu mau kita dekat supaya bukan hanya itu cerminan masyarakat Papua,” ungkap Zely.

Zely juga bercerita, dengan adanya gerakan ini maka apa yang terjadi di Bumi Cendrawasih bakal diketahui semua orang. Pasalnya selama ini, kekerasan, kemiskinan, hingga pembunuhan aktivis Papua, tak pernah terdengar.

Padahal, kasus semacam itu saban hari terjadi di pulau ujung timur Indonesia.

Seperti yang diceritakan Tokoh Papua, Benny Giay. Kata dia, kekerasan dan pelanggaran HAM telah tumbuh bersamaan ketika Papua menjadi bagian Indonesia pada 1969. Aksi kebrutalan tentara itu bahkan masih terjadi hingga saat ini.

“Hukum itu tidak berlaku di Papua. Papua ini saya pikir di luar Indonesia dari segi penegakan hukum. Tentara dan polisi itu tidak jaga kami, mereka jaga pendatang. Papua yang berdarah-darah, Papua yang menderita itu sebenarnya wajah Indonesia yang sebenarnya. Agama-agama yang ada di Indonesia punya wajah di situ,” sambung Benny Giay.

Salah satu kasus yang hingga kini belum ada penyelesaiannya, penembakan empat remaja di Paniai pada 8 Desember tahun lalu silam.

Karena itu lah dukungan untuk Papua digelar, misalnya dengan orasi politik dari Band Simponi. Managernya, Berkah Gamulya mengatakan, bentuk dukungan itu berupa sumbangan lagu dalam album #papuaitukita. Judulnya ‘Satu Papua’ dan ‘Untuk Yang Dihutan Dan Yang Dijalan’.

”Ini soal siapa pun manusia, di mana pun dia, kita peduli dengan Palestina, kita juga peduli dengan Afrika, tidak masuk akal kalau kita tidak mendukung Papua. Fakta membuktikan kalau Papua merupakan bagian dari Indonesia yang kita lupa atau kita cuek atas kekerasan yang berlangsung di sana. Perempuan, laki-laki, anak-anak mengalami kekerasan bertahun-tahun,” ucap Berkah.

Dukungan juga muncul dari penyanyi Melanie Subono. Perhatiannya pada Papua membuatnya mendirikan “Rumah Harapan”. Rumah Harapan itu nantinya bakal mengabulkan harapan orang-orang. Semisal membantu anak-anak Papua mendapat pendidik yang layak.

“Kita berangkat membawa ribuan barang pendidikan dengan tanpa bendera apa pun atas nama Rumah Harapan, kita rencananya tahun ini masuk ke daerah-daerah terpencil di Papua. Menurut saya, pemerintah kita selalu melihat sebelah mata pada saat melihat suatu daerah yang kaya hanya terpikir untuk mengeruk kekayaan alamnya saja. Tetapi kenapa tidak cerdaskan penduduknya agar mereka bisa bangun daerahnya sendiri,” timpal Melanie.

Sementara itu, sejarawan Hilmar Farid menilai, terisolirnya Papua menjadi cermin Indonesia yang alpa terhadap sejarah Papua. Karena itu kata dia, butuh usaha bersama untuk menyegarkan kembali sejarah Papua.

“Dunia semestinya menyelamatkan Papua demi nasibnya dia sendiri, bukan karena kita kasihan dengan nasibnya orang Papua, bukan karena kita prihatin dengan apa yang sedang terjadi di sana. Tetapi karena ada bayangan bahwa nasib kita bisa diselamatkan justru dengan Papua yang berlingkungan baik,” tutup Hilmar.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!