Ayu Oktariani. Foto: (koleksi pribadi)

KBR, Jakarta - Namanya Ayu Oktariani. Perempuan berperawakan mungil ini, tengah dalam masa penyesuaian pasca pergantian obat.

“Karena aku memang baru ganti obat, aku butuh banyak cairan. Jadi dokter tidak menyarankan aku untuk puasa dulu dan ini tahun pertamaku tidak puasa. Tahun-tahun sebelumnya aku puasa dengan obat yang lama,” ungkap Ayu.

Sakit yang diidap Ayu tak biasa, koinfeksi HIV sekaligus Hepatitis C. Itu artinya, ia terinfeksi HIV dan Hepatitis C secara bersamaan.

“Saya hidup dengan HIV sejak 2009, ternyata hidup saya itu bukan cuma HIV tapi ternyata ada penyakit-penyakit lain yang kemudian ada tertular. Saya kebetulan mendapat HIV itu tertular dari pasangan. Pasangan saya sudah meninggal tahun 2009. Dan saya juga tertular Hepatitis C, yang mana sebenarnya kasus Hepatitis C yang penularannya melalui hubungan seksual itu sangat jarang. Jadi saya termasuk yang apes sebenarnya,” sambung Ayu.

Hidup perempuan berusia 29 tahun ini tak bisa lepas dari obat. Ibarat kata, ia berjodoh dengan obat hingga akhir hayat. Kasus infeksi ganda yang diidapnya pun terbilang langka.

Untuk HIV, Ayu mengandalkan Antiretroviral (ARV) yang bisa diakses dengan gratis lantaran sudah dijamin negara.

“Saya treatment antiretroviral (ARV), obat yang fungsinya untuk menekan jumlah pertumbuhan virus HIV. ARV ini membuat saya kembali pulih, sehat, bisa beraktivitas kembali dan saya bisa akses obatnya secara gratis,” timpalnya.

Sementara untuk Hepatitis C, Ayu tak mengkonsumsi obat apa pun.

Hingga akhirnya ia sadar, virus yang bersarang di tubuhnya itu mulai mengancam.

“Tapi dia pelan-pelan akan merusak, tapi mungkin lebih lambat perjalanan merusaknya ketimbang beberapa penyakit lain kayak kanker atau jantung. Jadi selain memang harganya mahal, saya pikir bisa ditunda. Tapi lama-lama berasa juga dengan kondisi seperti ini, kita lebih cepat lelah. Kalau dengan pasien HIV yang kemudian dia punya Hepatitis, sooner or later dia bukan mati karena virus HIV tapi karena Hepatitis C yang tidak diobati sama sekali,” sambungnya.


Mahalnya Harga Obat Hepatitis C

Tapi sial, harga obat untuk Hepatitis C tidak lah murah. Menembus angka ratusan juta rupiah. PT Roche, perusahaan asal Swiss, adalah satu-satunya produsen obat tersebut.

Hingga akhirnya, Ayu bersama Indonesian Aids Coalition menuntut perlakuan serupa bagi pasien Hepatitis C. 

Ayu melayangkan petisi lewat situs change.org kepada PT Roche. Ia ingin Roche menurunkan harga obat Hepatitis C.

“Jadi petisi itu dibuat untuk memperjuangkan obat jenis Pegylated Interferon, obat untuk Hepatitis C yang harganya sangat mahal. Kira-kira seharga mobil merek Inova atau Avanza. Jadi memang untuk treatment pasien Hepatitis sangat mahal. Kemudian kita bikin petisi buat perusahaan obatnya Roche,” ucap Ayu.

Tak berapa lama, Ayu dihubungi pimpinan Roche dan diundang untuk bertemu.

“Saya ingat sekali ketika di kantor dihubungi orang asing, lalu saya cerita perihal kenapa kami membuat petisi, terus dia minta bertemu," katanya.

Alih-alih meluluskan tuntutan petisi, Roche justru mengiming-iminginya pengobatan gratis. Tapi, Ayu menampiknya.

“Yang ditawarkan oleh si perusahaan obat, waktu itu adalah treatment gratis. Tapi saya bilang, bukan itu yang saya harapkan. Saya berharap justru mereka bisa bernegosiasi dengan pemerintah menurunkan harga. Supaya teman-teman saya yang lain bisa akses,” timpalnya.

Selama dua tahun, Ayu tak letih menggencarkan petisi di media sosial. Hingga akhirnya, usaha gigih itu membuahkan hasil. Penderita Hepatitis C sekarang bisa mengakses obat secara gratis.

“Kami dapat informasi dari teman-teman di lapangan kalau Interferon, suntik Hepatitis C sudah gratis. Dari situ kita cari tahu, apakah bisa diakses pakai BPJS pengobatannya? Akhirnya kita utus orang dan memang akhirnya dari situ kami yakin, ini pasti ada campur tangan petisi yang kemarin,” tutup Ayu.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!