Anak-anak Sabang Merauke berlibur. Foto: Dokumentasi Sabang Merauke

KBR, Jakarta - Namanya Arifatun Nazila. Ia adalah salah satu peserta program Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali atau Sabang Merauke yang berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur.

“Nama saya Arifatun Nazila umur saya 15 tahun. Saya sekarang sudah kelas 3 SMP, saya tinggal di Bawean. Tahun lalu, saya ikut Sabang Merauke,” ujar Arifa saat diwawancara KBR.

Adeline, salah satu relawan menjelaskan apa itu Sabang Merauke.

“Sabang Marauke itu program pertukaran pelajar anak-anak dari daerah datang ke Jakarta. Mereka selama di Jakarta berkegiatan ditemani Kakak Sabang Merauke (KSM). KSM itu adalah mahasiswa yang dipilih yang dianggap bisa menjadi role model bagi adik-adiknya,” ungkap Adeline.

“Selain dari pendidikan, (Kakak Sabang Merauke) harus open minded. Belajar bertoleransi dan kita menunjukkan toleransi seperti ini," sambungnya.

Sabang Merauke, sendiri sejak tahun 2013 telah menjaring 10 hingga 15 anak daerah tiap tahunnya untuk merantau ke Jakarta. Selama dua minggu, anak-anak ini tinggal bersama keluarga baru, yang kebanyakan berbeda agama dan suku dari lingkungan asalnya.


Cerita Toleransi Arifa

Salah satu pelajaran toleransi yang didapat Arifa adalah hidup berdampingan dengan orang berbeda agama. Sebab hampir saban hari, Adeline yang berbeda agama dan etnis dengan Arifa, menemaninya merantau di Ibu Kota.

Selain itu Arifa yang beragama Islam juga dititipkan di keluarga Sabang Merauke yang beragama Nasrani.

“Aku tinggal di orang tua yang lain agama, intinya jadi saya cuma sahur sendirian, puasanya sendirian, tapi yang menemani semuanya ikut sahur. Jadi kayak ada di rumah. Tarawih juga diantar,” katanya.

Awalnya gadis berjilbab itu khawatir tinggal serumah dengan orang berbeda agama. Ini karena di desanya Bawean, mayoritas beragama Islam. Apalagi, ia sangat jarang bertemu dengan orang non-muslim atau yang berbeda suku dengannya.

“(Awalnya) deg-degan. Tapi setelah ketemu ternyata keluarganya baik-baik. Iya semuanya muslim (di desaku). Kalau di Jakarta macam-macam agamanya,” tambahnya.


Sejarah Sabang Merauke

Adeline mengatakan, gerakan ini awalnya digagas tiga orang yang pernah mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri. Mereka adalah Dyah Widiastuti, Ayu Kartika Dewi dan Aichiro Suryo Prabowo. Mereka pernah merasakan menjadi minoritas. Tapi ternyata, mereka mendapat perlakuan baik dari orang-orang sekelilingnya.

“Waktu itu Kak Chiro dia pertukaran pelajar di sekolah Katolik tapi dia minta izin tempat untuk shalat dikasih. Kak Uwi juga pernah, waktu itu dia dapat tempat shalat di gereja karena sudah waktunya tapi enggak dapat tempat. Jadi mereka bertiga ini akhirnya mendirikan Sabang Merauke," tutur Adeline.

"Harapannya mengajarkan toleransi ke anak-anak Indonesia. Karena Indonesia sebenarnya beragam tapi kenapa banyak yang masih banyak berantem antaragama antarsuku? Jadi mau mengajarkan kalau berbeda itu indah,” sambungnya.

Tak hanya belajar bertoleransi, Arifa dan belasan anak Sabang Merauke lainnya juga dipompa semangatnya untuk mengejar pendidikan yang tinggi lewat berbagai kegiatan.

Tujuannya untuk  membuka cakrawala anak Sabang Merauke bahwa ada berbagai macam suku, budaya, dan agama beragam di Indonesia. Ini dilakukan dengan mengajak anak-anak tersebut berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, dan Kuil Sikh.

Mereka bahkan bertemu dengan para pejabat yang memiliki posisi penting di pemerintahan dan lembaga, seperti Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta dan Abraham Samad yang saat itu menjadi Ketua KPK.

“Apalagi Pak Ahok dan Pak Samad bukan anak asli Jakarta. Jadi ingin mendorong mereka bahwa dua orang perantau dari luar Jakarta, bisa sukses di sini. Jadi mereka melihat kalau anak daerah enggak kalah sama anak Jakarta,” sambung Adeline.

Sepulang dari Jakarta, Arifa membawa oleh-oleh. Yaitu semangat toleransi untuk disebarkan kepada kawan-kawannya di Bawean.

“Teman-teman ketika pulang nanya, Arifa kamu di sana ngapain saja? Ketemu siapa saja? Iya, mereka penasaran. Kamu bisa tinggal sama orang yang beda agama? Aku jawab, di sini diajarkan untuk saling toleransi lain agama,” ucap Arifa.

Sabang Merauke memiliki satu motto yang selalu menjadi dasar dan semangat gerakannya. Bahwa toleransi tidak bisa hanya di pelajari dari buku pelajaran, tetapi harus dialami dan dirasakan.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!