Abu Luqman. Foto: Gungun Gunawan/KBR

KBR, Jakarta - Akhir dekade 1970an, pecah perang antara Uni Soviet yang ingin mempertahankan pemerintahan Marxis-Lenin di Afghanistan dengan Mujahidin Afghanistan yang ingin menggulingkan pemerintahan.

Sejak saat itu, banyak warga negara Indonesia yang hijrah ke Afghanistan. Salah satunya Slamet Hadi alias Abu Luqman.

"Jadi karena saya jurusan Bahasa Arab. Sering ketemu orang Arab dan mereka memanggil saya Abu Luqman. Jadi dari semenjak saya pulang dari jihad itu, Abu Luqman dipanggilnya," ucapnya.

Berperang di negeri orang awalnya tak ada dalam benak Slamet Hadi alias Abu Luqman. Seperti kebanyakan anak lain, Abu Luqman kecil bercita-cita menjadi dokter atau tentara.

"Tapi ketika ibu saya meninggal, saya sadar. Saya ingin mendoakan orang tua. Saya belajar Bahasa Arab, baca Quran, baca hadist. Akhirnya saya tertarik. Mungkin karena waktu itu masa-masa gairah muda, saya akhirnya baca tentang surat jihad. Surat Al-Anfal dan surat At-Taubah. Dua surat itu menceritakan tentang jihad," sambungnya.

Akhirnya niat Abu Luqman untuk pergi berjihad terpenuhi pada 1986. Saat itu, dia diberangkatkan oleh seorang donatur ke Pakistan.

"Ada seorang anggota DPR yang tidak usah saya sebut namanya, dia mempermudah saya pergi. Akhirnya, saya ke Arab dan belajar. Di sana ada sembilan faksi kurang lebih," timpal Abu Luqman.

"Waktu masih di Pakistan, ada Jamiatul Islam, ada Hikmatyar kan Ikhwanul Muslimin, ada Mas'ud, ada Yunus. Nah saya termasuk baru di sana. Namanya Salafiyah Jamilurrahman. Syekh Jamilurrahman. Itu markasnya di desa Qunar," tambahnya.

Kebanyakan pejuang asing harus menjalani latihan militer yang cukup lama sebelum terjun ke medan perang. Tapi tidak dengan Abu Luqman.
 
“Tapi kalau saya dan kawan-kawan yang delapan orang ini begitu datang, siapa siap langsung ke lapangan. Langsung pegang senjata, langsung bertemu dengan jenderal-jenderal Rusia. Komandan Rusia,” ungkap ayah tiga anak ini.

Lima tahun berperang di Afghanistan, tak terhitung jumlah pertempuran yang dilalui Abu Luqman.

"Saya di sana enggak kehitung ya. Kalau ada kesempatan, kita pergi! Spesialisasi saya di senjata-senjata penyerangan saja. Hawen (mortir untuk anti pesawat), terus RPG yang 900 meter itu dia meledak sendiri kalau enggak sampai tujuan," tuturnya lagi.

Awal tahun 1990-an, Slamet Hadi alias Abu Luqman kembali ke Indonesia. Dia berniat melanjutkan jihadnya di tanah air. Seperti apa aksinya? Simak kisah selanjutnya.



Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!