Muhammad Nasir Abas. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Mati! Itu yang ada di benak Muhammad Nasir alias Nasir bin Abas pada suatu petang. Sebanyak enam polisi menyergapnya saat tengah beristirahat.

"Mereka suruh saya diam, saya tidak  diam. Mereka suruh saya berhenti. Saya tidak berhenti. Karena dalam pikiran saya, saya harus mati. Karena saya tak mungkin lari," ungkap Nasir Abas.

"Saya berpikir, saya harus buktikan lebih baik mati daripada ditangkap. Sebagaimana yang saya selalu ajarkan pada anak murid saya. Pengetahuan, informasi yang ada dalam kepala lebih penting dari nyawanya sendiri," timpalnya.

Nasir ditangkap atas dugaan terorisme. Saat itu, polisi belum mengetahui orang yang ditangkap adalah Petinggi Jamaah Islamiyah.

Punya puluhan nama samaran, jadi modal Nasir lolos dari sergapan.

"Akhirnya mereka beri saya tiga macam tulisan tangan untuk meyakinkan saya. Tulisan itu bunyinya, siapa itu Chairuddin? Satu lagi siapa itu Sulaiman? Nama saya juga. Kalau ditotal, nama yang saya pakai banyak. Semakin banyak nama aliasnya, menunjukkan  semakin jauh pergerakkannya. Kalau masih satu dua, itu masih dekat-dekat begitu," ucap Nasir.

Penangkapan Nasir jadi berkah besar bagi Kepolisian Indonesia.

Dalam sidang kasus Abu Bakar Ba’asyir Desember 2004 silam, Nasir menjadi saksi kunci yang memberatkan bekas atasannya itu.

Nasir mengaku beberapa kali bertemu Ba’asyir; yakni pada 1998 ketika dirinya jihad di Afghanistan. Pertemuan berikutnya, ketika ia dibaiat menjadi Ketua Mantiqi III pada April 2001.

Ba’asyir melantiknya sebagai Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah yang membawahi Indonesia Timur, Sabah, dan Serawak.

“Ustad Abu mau meminta para pengacara ini membelanya. Pertanyaan saya adalah, kenapa seorang ustad Abu yang tidak setuju dengan undang-undang Indonesia, tetapi memanfaatkan para pengacara ini untuk menggunakan undang-undang Indonesia? Menurut saya, apa salahnya saya, jika saya juga, dalam kondisi yang sama, di ruang sidang yang sama. Maka saya menggunakan etika-etika dalam persidangan," tutur Nasir.

"Jadi saya juga membela diri meski tidak punya pengacara. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sekian banyak para pengacara," tambahnya.

Meski mendapat ancaman pembunuhan, tapi tak menciutkan nyali Nasir untuk bersaksi.

“Lihat sikap saya itu. Apakah saya terlihat takut? Dengan sekian banyak orang-orang di belakang, dengan yel-yel, dengan keberingasan mereka. Begitu juga dengan sekian banyak pengacara yang memberi pertanyaan kepada saya. Saya tidak takut," katanya.

Dicecar bahkan diintimidasi di ruang sidang, tak mengubah sikap Nasir.

“Kalau ditanya, kenapa saya berubah? Orang kadang berpikir, kenapa bisa ya, Nasir Abas ini dulu jabatannya cukup tinggi dalam Jamaah Islamiyah. Sehingga orang tidak percaya, bisa berubah, ya?” ungkapnya.

Siapa sebenarnya Nasir Abas? Apa yang mendorongnya berjihad hingga ke negeri konflik Afghanistan?

Ikuti serial jihadi episode Jihad Baru Panglima Jamaah Islamiyah bagian kedua.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!