musisi, pilpres, slank, dhani, portalkbr

KBR - Fenomena dukungan musisi terhadap kedua pasangan calon presiden 2014 dinilai sebagai langkah bagus untuk mendokrak suara. Dukungan musisi pada pemilu 2014 dinilai sebagai bentuk kerinduan kepada pemimpin baru.


Berkah dan Petaka Dukungan Artis

Dukungan sejumlah musisi terhadap kedua pasangan calon presiden 2014, dinilai sangat strategis untuk mendongkrak suara dalam pemilu nanti. Tim Sukses Prabowo-Hatta, Suhardi, sempat yakin bergabungnya para musisi bisa menggiring para penggemar musik untuk memilih pasangan nomor satu. “PKB bisa tinggi suaranya kan ada Rhoma dan Dhani. Dhani punya magnet dikalangan anak muda dan Rhoma punya kelas tersendiri seluruh generasi menggemari dia, kita berharap suara pak Prabowo naik.”

Itu sebab, dia berani berjanji kalau Prabowo akan membuat program khusus untuk seniman melalui pembinaan budaya jika terpilih kelak. Para seniman akan diberi ruang berkreasi untuk menyingkirkan pelbagai hal negatif yang muncul pada jagad musik Indonesia.

Tapi harapan kini tinggal harapan. Sebabnya untuk kubu capres nomor satu ini, dukungan para artis tak selamanya menuai hasil positif. Belum lama, lagu Dhani untuk Prabowo dicopot dari laman youtube setelah dikritik publik menjiplak lagu band legendaris Queen "We Will Rock You". Tak hanya itu, Ahmad Dhani juga dikritik setelah videoklipnya yang mengenakan seragam mirip pemimpin pasukan SS Nazi Jerman, Heinrich Himmler. Dengan bajunya itu, musisi bernama lengkap Dhani Ahmad Prasetyo dianggap mengusung ideologi fasisme ala Nazi Jerman.

Beberapa kali KBR berusaha meminta klarifikasi musisi asal Surabaya itu. Jurnalis KBR datang ke rumah Dhani di Pondok Indah, tapi gagal bertemu. Kami juga meminta waktu wawancara dani lewat nomor 0812-600 20xxx, tapi tak juga mendapatkan tanggapan. Tak lama, lewat akun twitternya @ahmaddhaniprast berkilah kalau baju yang digunakannya dalam video klip tersebut hanya kostum biasa, tanpa ada maksud dan tujuan tertentu.

Juru Bicara Tim Pemenangan Capres Prabowo-Hatta, Hidayat Nur Wahid mengatakan, tindakan Ahmad Dhani itu dianggap memberikan citra buruk bagi capres dan cawapres Prabowo-Hatta. Selain itu, kampanye lewat video itu juga dianggap tidak produktif. Aku Hidayat, Timses Prabowo – JK sudah meminta klarifikasi dari musisi Dewa 19 itu, utamanya alasan mengenakan kostum Nazi Jerman. Timses Prabowo, sangat keberatan dengan penayangan lagu dukungan di laman Youtube tersebut.

“Karena kalau atribut itu memang atribut Nazi, tentu itu sangat merugikan, kami sangat keberatan. Malah itu tidak produktif untuk strategi pemenangan capres tim kami. Kita mengklarifikasi maksud Ahmad Dhani, kalau memang tindakan itu melanggar hukum, ya kita mendesak aparat untuk segera ditindak, untuk dikoreksi," jelas Hidayat Nur Wahid kepada tim Saga KBR.

Kembali ke kawasan parkir timur Senayan, Juru Bicara Jokowi – JK, Anies Baswedan mengatakan dukungan para musisi membuktikan kepercayaan seniman kepada terhadap pasangan nomor dua itu. “Kita merasa sangat bangga, terhormat dan kita menghargai betul seniman, karena mereka bergerak bukan karena rupiah mereka bergerak karena panggilan hati, kami percaya yang dilakukan pendukung karena panggilan hati.”

Bagi kubu Jokowi – JK, musisi menjadi garda terdepan untuk memajukan kreatifitas Indonesia. Anies salut dengan dukungan insan musik Indonesia yang sangat luar biasa. “Ini membuktikan banyak orang Indonesia yang tidak bisa dibayar dengan rupiah, mereka bukan tak bernilai tetapi tak ternilai. Kita berharap kesadaran ini meluas. Mudah-mudahan kesadaran ini meluas.”

Beberapa dukungan musisi pada pemilu 2014 kali ini dinilai tanpa pamrih dan benar-benar dari hati. Pengamat musik Denny Sakrie mengatakan, dukungan tersebut karena mereka jenuh dengan kondisi Indonesia yang tak kunjung membaik pascareformasi 1998.  Menurut Denny fenomena ini berbeda dengan pemilu yang berlangsung pada periode-periode lalu. “Kalau tahun lalu 1971 mereka sudah mengimpun artis yang dimasukan ke artis safari mereka diminta untuk berkampanye untuk Golkar, mereka bikin lagu bikin piringan hitam yang berjudul “sovenir pemilu 71” yang menyanyikan pada saat itu  Bing Slamet, Vivi Sumatri. Golkar memang menjanjikan  wadah untuk para pemusik dalam naungan artis safari,” beber pengamat musik satu ini.

Bagi Denny kampanye melalui musik bisa mendorong para penggemar untuk ikut mencoblos. Ini sebab kekuatan figur artis dan muatan lagu yang dibawakan menjadi kekuatan untuk memengaruhi masyarakat dalam memilih. “Kekuatan, musik cabang seni yang menarik, musik itu ada melodi yang membawa perasaan orang, musik bisa menjadi katalisator, lebih cair, mungkin menyampaikan pesan dengan bernyanyi lebih efektif dari pada orator yang berbusa-busa. Memang musik memilki magnet yang luar biasa untuk meraih suara terbayak, musik itu lebih kuat daya magisnya.

Denny mengatakan perubahan politik oleh musisi pernah terjadi di Amerika Serikat pada era 1960. Saat itu, musisi seperti Bob Dylan mulai turun ke jalan dan menyanyikan lagu-lagu protes. Bob Dylan menggunakan lagu-lagu protes untuk mendukung gerakan anti-perang Vietnam saat itu. Tekait pilpres yang akan berlangsung 9 Juli lalu, Denny berharap para musisi tetap kritis dalam bermusik. Tak sekedar larut dalam hingar bingar politik, apalagi setelah bergabung dengan partai politik.

(Kembali ke bagian 1)


Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!