sepeda, saga, pedesterian, bintaro

KBR - Menghadirkan jalur sepeda dan pedestrian yang nyaman di tengah kemacetan lalu lintas sepertinya muskil diwujudkan. Maklum, pengendara motor sampai pedagang kaki lima kerap menjarah dan mengokupasi. Di tengah kondisi itu, sebuah kawasan di Bintaro, membangun jalur sepeda yang terintegrasi dengan transportasi publik. Reporter KBR Aisyah Khairunnisa ikut mencoba jalur tersebut. 

Embun masih menempel di daun-daun dan rerumputan saat Aldi dan Rojali bersepeda bersama di kawasan Bintaro. Kedua warga Tangerang Selatan, Banten tengah mencoba jalur sepeda terintegrasi yang baru saja diresmikan. Jalur sepeda dan pejalan kaki atau pedestrian ini menghubungkan beberapa sarana publik seperti halte, stasiun, serta pusat perbelanjaan.

Meski masih ragu, Aldi menilai fasilitas tersebut sangat membantunya saat berpergian. “Biasanya saya pakai motor, tapi macet banget. Kalau misalnya warga yang lain naik sepeda juga ya mau gak mau kita sepedaan juga,” sambil menunjuk ke arah warga yang juga bersepeda.

Hal senada disampaikan Herman. Lelaki 40 tahun ini biasa ke kantornya di bilangan Jakarta Pusat dengan menggowes sepeda. Agar bisa sampai kantor cepat, Ia harus bangun pagi sekali. Hambatan lainnya yakni kepadatan kendaraan menuju kantornya. Belum lagi kalau jalur sepeda dan pedestrian juga dipakai oleh pengendara motor. “Trotoar juga, kalah sama motor. Macet, mobilnya banyak, udaranya udah ga bersih.”

Jalur terintegrasi di bilangan perumahan Bintaro tersebut lebarnya empat meter. Jalur dibagi dua marka jalan. Satu untuk pedestrian selebar 1,5 meter, sisanya untuk sepeda dari dua arah yang mencapai 2,5 meter. Dengan melewati jalur terintegrasi ini warga bisa menitipkan sepedanya di Stasiun Jurangmangu atau halte bus terdekat.

Pihak pengembang perumahan menyediakan tempat penitipan sepeda dan kamar mandi gratis. Menurut warga lainnya, Rojali, jalur seperti ini membuat pesepeda lebih aman dan nyaman saat berkendara. “Cukup bagus. Jalannya belok-beloknya enak, pohonnya rimbun dari ujung sampai ke ujung,” tukasnya.

Meski jalur sepeda menuai pujian warga, pengembang masih akan terus menyempurnakannya. Haris Muhammadun, adalah ahli transportasi yang ikut membantu proyek senilai 17 miliar rupiah ini. Menurutnya pihak pengembang akan mengubah marka putih yang kini mewarnai jalur sepeda. “Desain yang nantinya akan diselesaikan oleh Bintaro adalah setiap simpang akan ada marka blok warna merah, seperti di busway. Kenapa? Karena warna merah dalam konvensi internasional itu merupakan prioritas tingkat tinggi. Kemudian kuning, kemudian putih,” ujar Haris kepada jurnalis KBR yang sempat ikut menggowes di jalur sepanjang 12 kilometer ini bersama warga lainnya.

Kepala Proyek jalur terintegrasi Michael Toar menjelaskan, jalur terintegrasi berada di atas beton setebal 12 cm. Michael mengklaim, jalur yang terintegrasi antara pengguna sepeda dan transportasi publik merupakan yang pertama di Indonesia. Proyek yang dibangun selama dua tahun ini juga menggandeng Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Namun Michael mengakui, penggunaan jalur sepeda yang nyaman ini masih mengalami banyak hambatan. Misalnya ulah para pengendara motor yang menggunakan jalur tersebut. Sebagai siasat untuk menghalau pemotor yang bandel, pihak pengembang terpaksa menempatkan pos keamanan di setiap distrik perumahaan. “Kita sudah menempatkan kemanan yang 24 jam ada di situ. Kedepannya ini baru rencana, kita terpikiran untuk buat panic button dan CCTV. Tapi kita pertimbangkan pengadaan alat tersebut dengan kebiasaan warga kita.”

Sementara Pengamat Perkotaan Nirwono Joga mengatakan, jumlah pengguna kendaraan pribadi dan polusi di Jakarta bisa berkurang, jika pemerintah DKI Jakarta mau membangun jalur terintegrasi seperti yang dibangun pengembang permukiman Bintaro. “Pernah gak kita berpikir bahwa kota itu harus walk-able artinya bisa mencapai satu tempat ke tempat lain dengan jalan kaki. Contohnya, di kawasan Sudirman, Kuningan waktu makan siang. Semua pada keluar naik mobil ke plaza ke mall. Padahal kalau jalan kaki jaraknya cuma tidak sampai 10 menit. Tapi kenapa orang malas jalan kaki? Karena tidak ada jalur jalan kaki yang nyaman.”


(Bersambung ke bagian kedua)


Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!