Belajar Toleransi dari Purwakarta

“Orang Indonesia toleran. Yang tidak membuat toleran adalah politik dan kekuasaan. Sejahterakan rakyat dengan kekuasaan. Belajarlah ke Purwakarta.”

Gelaran botram di pendopo kantor Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Foto: Agus Lukman/KBR.

Selasa, 13 Juni 2017

-

-

KBR, Jakarta - Hari menjelang siang ketika seratusan anak dan remaja berkumpul di Bale Paseban –pendopo kantor Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Mereka, mewakili siswa sekolah dasar dan menengah se-Kabupaten Purwakarta.

Didampingi guru masing-masing, para siswa duduk saling berhadapan. Suguhan makanan dan minuman tidak henti mengalir. Di pendopo bagian depan, sejumlah anak berdiri bernyanyi sambil mengibarkan bendera berukuran kecil. Bendera Merah Putih serta bendera enam warna –bendera lambang umat Budha. Dan alunan lagu ‘Bila Cinta Kasih Ada’ bergema, membawa kembali suasana perayaan Waisak. 

Para siswa sekolah dasar dan menengah itu tengah mengikuti botram –istilah makan bersama dalam bahasa Sunda. Kegiatan ini rutin digelar setiap ada hari raya keagamaan. Tiap kali botram digelar, masyarakat dari lintas agama, tokoh agama hingga pelajar, hadir.

Botram Harmoni adalah satu dari sekian program yang diselenggarakan Satuan Tugas Toleransi Kehidupan Beragama Kabupaten Purwakarta. Ketua Satuan Tugas Toleransi, John Dien, mengatakan botram kali ini merupakan yang kelima sejak digagas tahun lalu. 

“Kegiatan botram tidak seberapa, hanya berupa makan-makan. Tapi ini mengenalkan kepada anak didik, sejak dini untuk memahami perlunya toleransi,” kata Ketua Satuan Tugas Toleransi, John Dien. 

John Dien juga bercerita, Satgas Toleransi dibentuk tidak untuk mencampuradukkan keyakinan satu dengan yang lain, melainkan meyakinkan warga agar hidup berdampingan, sebagai sesama warga, sesama pemeluk agama dan menyatu dengan alam.

“Ketika jam satu sampai sebelum Ashar, dilakukan prosesi botram yang isinya betul-betul harmoni. Kemudian ada tanya jawab soal agama, misalnya kapan hari raya Idul Fitri jatuh hari apa? Waisyak hari apa? Yang bisa dikasih hadiah,” sambung John Dien. 

Satgas Toleransi di Kabupaten Purwakarta dibentuk pasca perseteruan Bupati Dedi Mulyadi dengan petinggi kelompok FPI Rizieq Shihab pada 2015 lalu. Perseteruan itu dipicu pernyataan Rizieq Shihab yang menuding Dedi Mulyadi berperilaku syirik karena membuat banyak patung. Terakhir, Rizieq memplesetkan salam Sunda sampurasun menjadi campuracun.

Selain mengadakan Botram Harmoni, Satgas Toleransi juga memberi pembelajaran Sekolah Ideologi Pancasila untuk para siswa. Pada Maret lalu, puluhan siswa sekolah menengah berkumpul di salah satu ruang pertemuan di kantor Pemda Kabupaten Purwakarta. Sembari berdiri, mereka membaca ikrar pelajar Pancasila, dipimpin Bupati Dedi Mulyadi. 

“Hidup ini biar nggak menderita, harus ada batasnya. Agama itu diturunkan untuk mengatur manusia agar tidak melebihi batas. Ayo, coba ulangi bersama-sama..."

- ujar Bupati Dedi Mulyadi di pendoponya.

Sekolah Ideologi Pancasila ini merupakan modifikasi dari pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan. Para siswa mendapat pengajaran dari pemerintah daerah, TNI, hingga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kepada KBR, Dedi Mulyadi mengklaim semenjak dibentuknya Satgas Toleransi dengan berbagai programnya, kehidupan antarumat beragama di Purwakarta semakin harmonis.

“Pelaksanaan sampai hari berjalan efektif. Kehidupan di Purwakarta semakin baik, setiap orang semakin sangat menghargai,” tambahnya. 

Meski kata Dedi, sebenarnya kehidupan toleransi di Purwakarta sudah terjadi lama yakni sejak masa peradaban Kerajaan Siliwangi. “Kita ingin memberikan pemahaman kepada siapapun, bahwa perbedaan itu merupakan asasi yang tidak bisa lagi kita hindari. Karena kita terlahir sudah berbeda. Sikap-sikap kita untuk menghormati perbedaan itu merupakan keharusan untuk melahirkan hidup yang harmoni.”

Selain menyelenggarakan Botram Harmoni hingga pembelajaran Sekolah Ideologi Pancasila, Satgas Toleransi Purwakarta juga menanamkan semangat kebhinekaan dan toleransi hingga ke lingkungan sekolah. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, mereka mendorong agar sekolah-sekolah menyediakan tempat ibadah untuk berbagai agama.  


(Tempat ibadah siswa Katolik di SMP 1 Purwakarta. Foto: Agus Lukman/KBR.)

Salah satu proyek percontohan tempat ibadah multiagama adalah SMP 1 Purwakarta. Di sekolah ini terdapat lima tempat ibadah. Wakil Kepala Sekolah SMP 1 Purwakarta, Dani Rohmana Hardiana, mengatakan mereka menyulap ruang-ruang kelas, laboratorium, ruang arsip hingga UKS menjadi tempat ibadah bagi siswa penganut Katolik, Protestan, Hindu dan Buddha.

“Dari dulu itu SMP 1 Purwakarta hampir seluruh variasi agama itu ada. Kristen, Protestan, Hindu, Budha, dan Islamnya sekitar 95 persen. Oleh sebab itu, gagasan Pak Bupati untuk menjadikan percontohan di SMP1 Purwakarta, kami langsung berbenah. Walaupun seadanya,” ujar Wakil Kepala Sekolah SMP 1 Purwakarta, Dani Rohmana Hardiana.

Ruangan tempat ibadah itu tidak berbeda dengan ruang kelas lain. Hanya saja begitu masuk ruangan, langsung tergambar aura tempat ibadah. Mulai salib, patung Bunda Maria, dan alkitab di ruang ibadah umat Katolik dan Protestan, hingga meja dengan patung Budha Gautama di ruang ibadah siswa umat Budha. 

“Visi kami adalah memberi tempat dalam rangka mendidik, memberi pengertian pada siswa, agar bertoleransi, saling menghargai sesama pemeluk agama di Indonesia. Tapi sampai sekarang belum tempat ibadah untuk umat Konghucu. Kalau ada siswa beragama Konghucu pun akan disediakan tempatnya. Begitu juga penghayat kepercayaan,”

- sambung Dani Rohmana Hardiana.

Sepekan sekali, sekolah ini mengadakan acara Nyucikeun Diri atau menyucikan diri dengan siraman rohani. Khusus untuk siswa beragama Islam yang jumlahnya besar, kegiatan diadakan di lapangan sekolah. Sedangkan siswa agama lain di ruang-ruang ibadah khusus itu. 

Intan Siahaan, siswa beragama Protestan di SMP1 Purwakarta, senang bisa menggunakan ruang khusus beribadah. Meski, kegiatan beribadah bersama hanya digelar seminggu sekali. 

“Bagus karena kami bisa beribadat masing-masing dan tidak mengganggu ibadah yang lain,” ucap Intan. 

Setiap Jumat, di ruangan yang sudah terbagi masing-masing agama, pengelola SMP1 Purwakarta mendatangkan pembimbing agama dari masing-masing agama. 

Potret menarik juga tersaji di sekolah Yos Sudarso yang berada di bawah naungan Yayasan Salib Suci Purwakarta. Di sini terdapat mushola untuk siswa atau pegawai muslim. 

Satgas Volunteer


Siswi umat Budha SMP 1 Purwakarta beribadah di salah satu ruangan. Foto: Agus Lukman/KBR.

“Sejak 2006 atau sebelum 2006, kami dari Katolik, Hindu, Budha, Protestan, Konghucu kadang merasa dikucilkan. Dianggap sebagai kafir. Mau belajar agama harus keluar dulu dari sekolah. Tapi sekarang ada konsep dari Kang Dedi Mulyadi, yaitu pendalaman kitab-kitab. Di setiap sekolah diturunkan guru agama untuk mengajar nilai-nilai kebaikan agama dan pendalaman kitab,” ucap Yohanes Baptista Sutarno, Sekretaris Paroki Salib Suci Purwakarta Keuskupan Bandung. 

Pria yang akrab dipanggil YB Sutarno ini menceritakan pengalamannya tentang bagaimana kehidupan beragama di masa lampau dan… kini. Saat ini, YB Sutarno salah satu penggerak di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Purwakarta, serta pengurus Satuan Tugas (Satgas) Toleransi Toleransi Kehidupan Umat Beragama di Purwakarta. 

Satgas ini lahir pasca perseteruan Bupati Dedi Mulyadi dengan petinggi kelompok FPI Rizieq Shihab pada 2015 lalu –yang menyebut Dedi berperilaku syirik dan memplesetkan salam Sunda sampurasun menjadi campuracun.

Kepada KBR, YB Sutarno antusias menceritakan pengalamannya di Satgas Toleransi. Di Satgas yang dibentuk sejak 2016 itu, Sutarno bekerja bersama 10 orang pengurus dibantu 30-an aparat Badega Lembur atau Hansip.

Pria berusia 33 tahun ini merupakan sosok termuda di Satgas Toleransi. Karena itu ia merasa lebih cocok menggarap anak-anak muda, melalui Satgas Volunteer. Satgas Relawan Toleransi ini melibatan puluhan siswa sekolah menengah hingga mahasiswa untuk menjadi simpul penggerak toleransi di masing-masing sekolah. 

“Ketika Satgas Toleransi sudah ada, lalu kita bentuk Volunteer. Ini adalah para aktivis OSIS dari SMP hingga perguruan tinggi. Tidak hanya Islam, tapi juga Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Konghucu. Juga teman-teman aliran kepercayaan,” tutur YB Sutarno. 

Salah seorang relawan, Yudistira Manunggal Rahmating Urip, siswa kelas 7 SMP Negeri 1 Purwakarta. Ia mengaku terlibat beberapa bulan belakangan. Sebagai relawan, tugasnya mengkampanyekan toleransi di sekolah khususnya organisasi yang ia ikuti, Pramuka.

“Saya sekarang lagi fokus masuk ke jalur Pramuka dulu. Dulu ikut Jamnas, Jambore Dunia, jadi saya mau mengembangkan untuk adik-adik kelas yang sekarang. Alhamdulillah semua mengakui dengan toleransi ini,” ucap Yudistira Manunggal. 

Munculnya Satgas Toleransi dan lahirnya relawan-relawan muda, menjadikan Purwakarta yang dulu dikenal Kota Santri, kini bermetamorfosa menjadi Kota Toleransi.

Bila Anda datang ke sekolah Katolik Yos Sudarso di Jalan Jenderal Sudirman, akan terlihat pemandangan unik di salah satu bangunannya. Di sudut salah satu bangunan, terdapat ruangan kecil berukuran 3x4 meter. Ada tulisan mushola di bagian depan, dengan peralatan salat dan Alquran di dalamnya. 

“Sekolah kami basisnya Katolik. Tapi siswa yang belajar di sini selain dari Katolik, ada juga Protestan yang banyak, ada juga Muslim, Budha, juga Hindu. Khusus untuk Muslim kami menyediakan mushola. Biasanya jam 12 ada siswa yang salat,”

- kata Wakil Kepala Sekolah di SMP Yos Sudarso, Veronica Meliana Renastuti sambil memperlihatkan ruang

Mushola di sekolah ini pun sudah difungsikan sejak tahun lalu untuk melayani sekitar 12 siswa Muslim. Veronica Meliana juga bercerita, tradisi kerukunan antarumat beragama di sekolah Katoliknya bahkan sudah berlangsung lama, berupa tradisi ucapan Lebaran untuk siswa yang beragama Islam. 

“Kita membuat kartu Lebaran dari OSIS, kemudian untuk anak-anak yang Muslim kita berikan kartu Lebaran. Saat masuk sekolah, kita berjejer di lapangan dan kita saling bersilaturami,” sambungnya. 

Situasi itu menyenangkan Chika Sheila, salah seorang siswa SMP Katolik Yos Sudarso yang beragama Islam. “Toleransi di sini cukup bagus. Ada mushola. Saling menghormati saat puasa.”

Alit Sapari –satu-satunya guru beragama Islam di sekolah Katolik ini. Guru olahraga ini sudah mengajar di Yos Sudarso selama delapan tahun.  Kala pertama mengajar, ia sempat waswas.  

“Saya mengalami sendiri. Saya minoritas berada di kalangan mayoritas, tapi tidak ada perlakuan yang mendiskriminasi atau bagaimana. Waktunya saya salat Jumat, saya pulang,”

- ungkap Alit Sapari.

Dia pun begitu mengapresiasi semangat kerukunan di sini. Sebab meski jumlah siswa Muslim sedikit, tapi tak pernah ada diskriminasi. Apalagi Pemkab Purwakarta rajin menggelar pertemuan siswa dari beragam latar agama di kantornya.


(Intan Siahaan dan Inafil Janaah adalah siswi Protestan dan Muslim di SMP 1 Purwakarta. Foto: Agus Lukman/KBR.)

Seperti yang berlangsung Maret lalu. Alunan musik Sunda berjudul Tujuh Poe Atikan kerap di putar di berbagai kegiatan –termasuk di pendopo kabupaten. Tujuh Poe Atikan artinya tujuh hari pendidikan. Itu merupakan gerakan pendidikan pendidikan karakter dan kearifan lokal yang dideklarasikan Bupati Dedi Mulyadi sejak 2014 lalu.

Setiap Senin anak-anak diperkenalkan budaya nusantara dan upacara bendera. Selasa menjadi hari mengenal dan mempelajari dunia. Rabu menjadi hari mengenal budaya lokal Sunda. Kamis menjadi hari mengekspresikan rasa dan estetika. Jumat merupakan hari menyucikan diri. Sedangkan Sabtu dan Minggu anak-anak libur bersama keluarga.

Salah satu penerapan tujuh pendidikan istimewa itu, antara lain kegiatan nyucikeun diri di sekolah-sekolah di Purwakarta setiap hari Jumat.

Praktik toleransi sejak dini di lingkungan pendidikan membuat Bupati Dedi Mulyadi percaya diri menggelar Konferensi Toleransi Sedunia, dengan mengundang 200-an orang perwakilan dari 20 negara pada Mei lalu. Konferensi itu untuk menyuarakan semangat toleransi yang sudah ada di Purwakarta sejak lama, sejak nenek moyang. 

“Orang Indonesia toleran. Yang tidak membuat toleran adalah politik dan kekuasaan. Sadarlah orang yang menggiring intoleransi hanya untuk politik. Jangan korbankan rakyat hanya untuk kekuasaan. Sejahterakan rakyat dengan kekuasaan. Belajarlah ke Purwakarta,”

- ujar Bupati Dedi Mulyadi.