[SAGA] Fiera Lovita: Mereka Menuduh Saya Bispak, PKI, Murtad

"Saya diminta menyampaikan permintaan maaf dan menyesal. Itu saya ucapkan dengan terbata-bata, menahan tangis, dan perasaan campur aduk karena saya di bawah tekanan dan takut.”

Rabu, 07 Jun 2017 12:50 WIB

Ilustrasi korban kekerasan.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Mereka diintai, diburu, dan diancam hanya karena bersuara di jejaring media sosial. Isinya kira-kira menyentil pimpinan FPI Rizieq Shihab yang kini terbelit kasus pornografi dan kerap mangkir dari panggilan kepolisian. Belakangan, Rizieq ketahuan berada di Arab Saudi.

Perburuan dan ancaman itu menimpa Fiera Lovita –dokter di Solok, Sumatera Barat. Di kantor LBH Jakarta, dia membacakan ulang status itu.

“Pada 19-21 Mei 2017, saya membuat status Facebook sebagai berikut: Kalau tak salah kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara dan 7 juta umat yang akan mendampingimu. Jangan kabur lagi ya bib. Kadang fanatisme sudah membuat akal sehat tak berfungsi. Sudah zina kabur lagi, masih dipuja dan dibela. Masih ada yang berkoar ulamanya mesum difitnah,” ucap Fiera Lovita di kantor LBH Jakarta, Kamis (1/6/2017).

Kata dia, sehari setelahnya status itu menyebar liar. Facebooknya pun dibanjiri permintaan pertemanan. Muncul kemudian rasa khawatir.

“Setelah membuat status tersebut, saya ajak anak liburan dilanjutkan bermain. Malamnya saya buka Facebook dan banyak minta permintaan pertemana lebih dari 100 orang. Beberapa akun membagikan status saya ditambahi dengan narasi yang provokatif. Yang mengajak orang membenci saya. Status saya viral di Facebook terutama di Solok. Karena khawatir, saya pun menutup akun saya,” sambungnya.

Kekhawatiran Fiera Lovita, terbukti.

Ia diperiksa Kepolisian Solok terkait status Facebooknya dan mengatakan kalau dirinya diincar kelompok FPI. Benar saja, begitu keluar dari ruang pemeriksaan, sejumlah orang berjubah berjanggut berkopiah menggeruduknya.

“Setelah diinterogasi oleh pihak kepolisian, sekitar jam 1 siang. Pada 22 Mei, saya dan anak-anak turun ke parkiran. Setelah masuk ke mobil ternyata mobil saya dikelilingi oleh beberapa orang berjubah, berjanggut, berkopiah. Mereka mengetuk-ngetuk jendela mobil. Saya buka pintu untuk komunikasi dan bicara dengan utusan FPI. Mereka minta saya tidak menulis status di Facebook dan minta maaf. Kemudian mereka minta saya membuat surat pernyataan minta maaf dengan tulisan tangan saya dan diposting di Facebook saya.”

Permintaan maaf dengan tulisan tangan di selembar kertas itu kemudian difoto dan dipajang di Facebooknya, pukul 13: 32 wib, pada 22 Mei 2017. Isinya ia meminta maaf pada pihak yang merasa tersinggung.

Perempuan berusia 40 tahun ini, betul-betul merasa sendiri. Tak ada yang menolong atau memberi dukungan. Bahkan, atasannya juga memintanya menghapus data di Facebooknya yang merujuk pada tempat ia bekerja. Dia pun menurut.

Hanya saja, persoalan yang mendera Fiera Lovita tak berhenti di situ.

“Keesokan harinya Selasa, 23 Mei 2017, anak-anak ke sekolah. Saya mengantar ke sekolah dan kerja. Setelah mengantar, saya dapat telepon dari kantor. Begitu sampai ternyata di kantor banyak orang berjubah dan mobil polisi. Akhirnya saya dibawa ke ruang pertemuan dengan ormas FPI dan polisi, kasat intel, dan pihak rumah sakit. Saya diminta menyampaikan permintaan maaf dan menyesal dan tidak akan mengulangi lagi. Itu saya ucapkan dengan terbata-bata, menahan tangis, dan perasaan campur aduk karena saya di bawah tekanan dan takut.”

Surat permintaan maaf kedua itu diketik. Isinya memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Tertera di surat itu, tandatangan Fiera di atas materai dan tujuh pihak sebagai saksi; FPI Kota Solok, Kapolsek Kota Solok, dan Ormas Islam Kota Solok seperti FMPI,  IKADI, FMM, dan GNPF.

Namun, ancaman lagi-lagi datang.

“Saya berpikir, dengan pertemuan itu akan selesai ternyata tidak. Foto pertemuan tersebut jadi viral di media sosial. Mereka membicarakan saya. Pertemuan yang mestinya jadi damai, tak cukup. Foto ditambahi dengan hinaan pada saya. Bahkan status saya sebelumnya digulirkan sehingga masyarakat makin membenci saya karena dianggap menghina ulama dan menghina umat Islam. Bahkan mereka mengatakan akan membunuh, menuduh saya bispak, dan menuduh saya PKI/Komunis, murtad."

Fiera Lovita akhirnya memilih pergi dari Solok demi keselamatannya dan anak-anaknya.

Kasus serupa juga dialami beberapa orang lain –mereka diburu, diancam, karena menulis status di Facebook. Bocah berusia 15 tahun di Jakarta Timur, PM, sampai trauma.  

Video persekusi terhadap PM belakangan viral. Pelakunya diduga sekelompok orang anggota FPI --yang tak terima pemimpinnya dihina. Dalam video itu, terlihat PM tengah diinterogasi dan beberapa orang memukul dan menamparnya. PM lantas diminta membacakan surat pernyataan permohonan maaf yang telah ditandatangani di atas materai.

Dalam surat itu, disebutkan bahwa PM telah mengunggah dua foto yang telah diedit pada 26 Mei lalu. Salah satu foto editan tersebut menyebut FPI dengan sebutan Front Pengangguran Indonesia. Sementara foto lainnya, menyebutkan Rizieq Shihab dan ulama lainnya seakan-akan pernah bermain di Hotel Alexis. Selain itu, ia juga menantang umat Islam untuk berduel satu lawan satu.

Kini, ia berada dalam perlindungan Kementerian Sosial. Kepala BRSA Kementerian Sosial, Neneng Heryani, mengatakan akan menjamin pendidikan PM dan saudaranya. Tapi yang utama, memulihkan trauma korban.

“Kami akan adakan pemeriksaan kesehatan terkait masih trauma atau tidaknya psikologi PM. Kami juga akan memenuhi kebutuhan sehari-harinya selama kami tangani, juga terapi lanjutan dan terapi trauma hiling,” tutur Kepala BRSA Kementerian Sosial, Neneng Heryani.

Korban lainnya, pengajar di Universitas Indonesia, Ade Armando. Dia sempat mengunggah status di Facebook mengenai Rizieq Shihab. Lewat telepon dan media sosial, Ade Armando dimaki hingga diancaman dibunuh.

“Saya dikatain kafir, tahi, anjing, hati-hati kau di jalan nanti kami datangi dan seterusnya seperti itulah. Saya kan banyak buat postingan, misalnya mereka bilang jangan hina ulama kami, paling begitu kalimatnya,” ujar Ade Armando ketika dihubungi lewat telepon.

Catatan SafeNET, sepanjang Mei hingga awal Juni lebih dari 60 orang menjadi korban presekusi kelompok intolen di beberapa daerah. Persekusi artinya pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas.

Belakangan, Kepolisian mencopot Kapolsek Solok, Sumatera Barat, karena disebut tidak tegas menindak para pelaku persekusi. Sementara di Jakarta, polisi menangkap dua pelaku penganiayaan terhadap bocah PM.

Banyaknya korban persekusi, membuat sejumlah LSM membentuk Koalisi Antipersekusi. Koalisi bakal mengumpulkan laporan dan mengadvokasi korban. Anggota Koalisi, Asfinawati, mengatakan maraknya presekusi karena pemerintah dan aparat hukum lamban menindak.

“Misalnya tanggal 19 Mei, peristiwanya terjadi di Klaten, Tangerang, Jambi, Palangkaraya dan Bandung. Karakter digital kan melintasi ruang dan waktu secara cepat. Kalau zaman dulu meluasnya bisa ditahan. Kalau zaman sekarang bisa membahayakan orang yang ditarget,” pungkas Asfinawati.

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menegaskan tindakan persekusi harus dihentikan. Kata dia, persekusi jelas-jelas melanggar hukum karena pelakunya melakukan tindakan sepihak dan mengambil wewenang aparat hukum.

"Bukan melakukan tindakan-tindakan secara sepihak atau sendiri-sendiri dengan tafsiran masing-masing. Ini yang nanti kalau dilakukan, tidak segera diselesaikan dengan baik, maka sistem hukum menjadi kacau. Negara hukum tidak boleh, segera harus kita hentikan," kata Wiranto di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (6/6/2017).

Wiranto membantah persekusi terjadi lantaran lambannya penegak hukum. Kata dia, masyarakat semestinya melaporkan kepada lembaga pengawas terkait apabila mengeluhkan kinerja aparat. 






Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu