Lokasi kuburan massal orang-orang yang dituduh PKI di kebun karet JA Watie, Cilacap. Foto: Muhammad Ridlo.


KBR, Cilacap - Di kantor LSM Serikat Tani Mandiri (SeTAM) Cilacap, matahari begitu terik, tak ada embusan angin. Tiga lelaki duduk di salah satu ruang kantor itu. Di depan mereka, tiga gelas kopi hampir tandas.

Suripto, aktivis Reforma Agraria Cilacap kemudian menunjukkan pada saya lembaran kertas yang berisi data kuburan massal pasca tragedi berdarah 1965. Lokasinya berada di tengah perkebunan karet JA Watie, Desa Mekarsari, Kecamatan Cipari.

Saksi pembunuhan massal itu, kata Suripto masih hidup; bekas karyawan kebun karet dan penjaga gudang garam yang menjadi kamp tahanan orang-orang yang dituduh PKI. Ia pun akan mempertemukan saya dengan saksi hidup itu.

Ditemani Direktur LSM SeTAM, Petrus Sugeng, usai Isya saya berjumpa dengan salah satu bekas mandor JA Watie. Karena rumahnya berada di dalam kebun, ia menyaksikan sendiri bagaimana tentara mengangkut puluhan orang dengan truk. “Mobilnya bawa itu (orang PKI-red), kami diam saja,” ucapnya lirih.

Di rumah itu, pria berusia 70 tahun ini tinggal bersama sang istri. Ia bercerita, pekerjaannya sebagai mandor sudah turun temurun dilakoni orangtuanya. Namun begitu, di JA Watie, ia bekerja sejak tahun 1951.

Bekas mandor itu enggan menyebutkan namanya, takut dan trauma, begitu katanya. Ketika saya bertanya lebih jauh tentang kondisi 50 tahun itu, ia lebih banyak diam. Sesekali tertawa, tapi terlihat dipaksakan. “Kalau yang kerja itu ya, tidak berani,” imbuhnya.

Tapi, sepasang suami istri sepuh itu masih ingat betul suara tembakan berbunyi kala tengah malam yang berjarak sekira 400 meter dari bedeng karyawan. Suasana mencekam itu, terjadi berbulan-bulan, saban malam. “Ya ada tembakan, dor..dor..dor.. Tidak melihat, tapi mendengar. Mendengar saja takut. Iya kan? Takut? Takutnya ikut diciduk,” sambungnya.

Esok, perjalanan saya berlanjut ke lokasi kuburan massal –warga sekitar menyebutnya Singaranting. Di sana, saya akan bertemu dengan saksi lain. Titik temu dengan saksi itu disepakati. Saya masih ditemani Petrus Sugeng dari SeTAM. Sementara Suripto, aktivis SeTAM yang akan menjemput si saksi menuju lokasi.

Tapi sore itu, langit berubah jadi hitam. Hujan mengiringi perjalanan kami ke Singaranting. Jalan yang kami lalu menanjak dan terjal. Sebab lokasi kuburan massal itu berada di perbukitan. Butuh waktu sekitar enam jam untuk sampai ke jantung perkebunan karet JA Watie.

Tiba di Singarating, seorang pria Jumar, memperkenalkan diri. Ia adalah warga Desa Mekarsari –kampung yang terletak di areal perkebunan. Jarak kampung itu dengan lokasi kuburan massal sekitar 500 meter. Istrinya adalah karyawan di kebun karet itu.

“Kan saya juga sering ke sini mencari kayu bakar atau ranting. Kalau ada tentara datang, saya pergi, lari pulang. Saya takut. (kalau lubangnya memang banyak ya?) Oh lubangnya banyak ya,” katanya yakin.

Di tengah perjalanan, hujan beradu angin kencang, membuat jalan yang kami lalui begitu licin. Sesampainya di sana, Jumar dan Suripto menunjukkan kuburan massal itu. “Lebakan ini. Nggak hanya satu lubang dua lubang, lubangnya banyak. Ini termasuk Singaranting,” jelas Jumar.

Tak ada tanda yang bisa memastikan liang yang kami singgahi itu mengubur puluhan orang yang tersangkut PKI. Jumar hanya mengandalkan ingatannya.

“Kalau luasnya bisa dikatakan sekitar 200 ubin ya. Pokoknya seluruh dataran ini semuanya dipakai. Jadi kalau ada penguburan, besoknya ada lubang lagi, bikin lubang lagi. Isinya tidak pasti. Kadang-kadang ada sembilan, ada yang kadang 12. Ada yang 10 orang dalam satu lubang. Jadi kalau ada mobil datang, bawa orang misalnya 20 orang, ya lubangnya dibuat untuk 20 orang,” kenang Jumar.

Lubang-lubang itu, kata Jumar, dibuat kuli harian perkebunan. Usai orang-orang “dihabisi”, para kuli itu pula yang disuruh menutup.

Jumar dan warga Desa Mekarsari lainnya, tak ada yang berani mendekat. Tapi saat tengah malam, suara deru mobil terdengar kencang dan diikuti dengan letusan pelor.
 
“Kami tahunya, mobil itu kan kedengaran grung..grung..grung, kemudian berhenti di sini. Sebentar, tak lama kemudian ada suara rentetan tembakan. Dor..dor..dor..dor. Ya sudah. Jelas itu ada pembunuhan. Kalau tidak pembunuhan atau eksekusi di sini tidak dijaga. Kalau sudah membunuh itu sudah mati, itu jenazah ditinggal begitu saja. Besok kuliari yang menutupinya lagi.”

Kesaksian Jumar, dikuatkan Jafar –bekas perangkat desa di Desa Mulyadadi, Kecamatan Majenang. Kala 1965, ia menjaga kantor NU yang berdekatan dengan gudang garam –kamp para tahanan yang dituduh PKI dan menunggu eksekusi.

“Kalau dipanggil, kebetulan dibawa ke jembatan. Kalau tidak ke pejaten. Kalau tidak ya seperti daerah seperti ini, di sini. (Kalau Pejaten itu di mana?) Ya itu daerah itu juga antara Majenang-Cileumeuh, Ciguling. Ya massal, buat lubang di situ. Tapi tidak mesti di makam. Kadang di hutan. Mendengar saja takut,” ungkap Jafar.

Kuburan massal di perkebunan karet JA Watie, belum tersentuh. Di Cilacap, dari catatan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 65, ada lima lokasi kuburan massal. Dusun Citengah Tegalsari Sidareja 125 orang, Tanggek 10 orang, Kedungrejo 76 orang, Sungai Citandui dan Sungai Serayu 150 orang dan di Nusakambangan 1500 orang. (qui) 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!