Wirahadi kini pilih jalur damai (Foto: KBR)

Wirahadi kini pilih jalur damai (Foto: KBR)

“Saya merasa dengan kegiatan kami yang dulu dengan kegiatan teman yang sekarang ada perbedaan. Kalau dulu itu dulu melakukan karena ada termotif dengan masalah ketidakadilan yang dilakukan pemerintah di Poso. Kalau motifnya teman-teman ini saya tidak menyalahkan mereka karena mereka punya pentafsiran muamalat berbeda dengan kami dulu.” 


“Saya cuma menilai ada kekeliruan dan kejanggalan di mana mereka melakukan pengeboman, pembunuhan yang tidak jelas, yang kacau sehingga menyebabkan banyak orang yang ditangkap yang tidak terlibat karena aksi orang yang tidak bertanggung jawab.” 


“Masyarakat yang karena aksi kena imbas dari ulah mereka yang tidak bertanggung jawab sampai ada yang mati, ada yang ditembak, padahal mereka tidak tahu tapi mereka kena imbas. Itulah hal-hal yang saya tidak sepaham dengan apa yang dilakukan teman-teman sekarang karena brutal main sembarang hantam.” 


Hadi menyesali apa yang pernah dilakukannya dulu. 


“Saya terus terang melakukan aksi itu sejak umur 19 karena masih terbawa emosi tinggi kemudian ada yang panggil tanpa pikir panjang sehingga melakukan itu dan terus terang belum ada ilmu. Kemudian dipenjara sekian, kami mendapatkan belajar, belajar dengan kegagalan kami kemarin dan belajar kami bisa renungi ternyata kita berjuang itu harus dalam posisi yang pasti tanpa harus mengorbankan orang lain masyarakat awam. Apalagi anak-anak, dulu kan ada anak-anak yang jadi korban kan kasihan.”


Selepas dari penjara, Hadi memilih tinggal di rumah sewa bersama isteri dan anaknya. Sehari-hari Ia bekerja sebagai supir di perusahaan persewaan mobil di Poso. Selain sebagai supir, Hadi juga tengah meniti karir sebagai atlet tinju. 


Buyung Luba, pelatih tinju di sasana Beringin Jaya, melihat potensi yang dimiliki oleh Hadi. Meski baru bergabung, Ia yakin Hadi mampu menjadi seorang petinju.


“Kalau Wirahadi ini saya dengar, latihannya masih di lembaga. Saya coba mau lihat, saya lihat pukulannya bagus. Kan beda kalau orang baru latihan dengan yang sudah latihan. Kalau sparing banyak, lari, sparing, 4 hari istirahat. (Dulu pertama kali kenal?) Jadi ada teman yang bawa, katanya mau latihan tinju, saya coba, ikut. Ini sudah ‘di-anu’ sama kapolres kan, saya jaga betul. Kalau dia terjun ke sini , saya yakin dia bisa,” kata Buyung 


Wirahadi memantapkan diri dan memutuskan pindah ring untuk perjuangannya. Jika dulu pengeboman dipilih oleh Hadi untuk bertarung, sekarang ia memilih tinju sebagai ring perjalanan hidupnya. 


Simak kisah Wirahadi sebelumnya di sini: 


Wirahadi Pindah Ring: Dari Jihad Poso Jadi Petinju (1)  

Wirahadi Pindah Ring: Dari Jihad Poso Jadi Petinju (2)  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!