Wirahadi tersiksa di balik penjara (Foto: KBR)

Wirahadi tersiksa di balik penjara (Foto: KBR)

Serangkaian aksi radikal yang dilakukan bekas kombatan Poso, Wirahadi, menggiringnya ke penjara. Di balik jeruji besi Wirahadi merenung nasib dan menyesalinya. 


Berapa jumlah korban dari tindakan Anda? 


"Kalau bom Makassar itu yang di mallnya di NP JK tidak ada korban, materi saja. Kalau di anu, di mal Ratu Indah kalau tidak salah korbannya lebih dari sepuluh yang kebanyakan anak-anak kasihan. Sampai ada yang meninggal tapi yang meninggal itu satpamnya dari kalangan muslim sama dengan yang pasang bomnya langsung teman saya yang meninggal.” 


Setelah meledakkan bom di Mal Ratu di Makassar pada awal 2002, Wirahadi buron. Ia berpindah-pindah tempat persembunyian. Sampai akhirnya tertangkap pada April 2002.


“Saya tertangkap di Palu pada tahun 2002 bulan 4 saya ditangkap di Palu. Saya masuk penjara pertama ditahannya di Jl.Balaikota di Makasar selama 11 bulan. Kemudian sampai vonis kemudian saya diantar langsung ke LP Jl. Sultan Alaudin Makasar. Sampai saya jalani di situ 9 tahun 8 bulan,” kata Wirahadi. 


“Saya sebenarnya itu setelah bom Makassar DPO 4 bulan, saya tidak dicari lagi. Tapi teman saya yang di Makassar sudah ditangkap 17 orang. Saya lari ke Poso. Saya tidak sembunyi, karena tidak ke luar nama saya di tv. Saya ke palu, bertemu teman-teman lagi saya bikin aksi lagi, terjadilah penembakan di Saoso. Saya pake motor, saya ditangkap di Palu, di Sisingamaraja,” tambahnya. 


Banyak hal yang Wirahadi alami setelah tertangkap polisi. Misalnya, siksaan dari aparat saat interogasi.


“Saya diinterogasi, dituduh curanmor, jadi semua motor yang hilang di Palu, saya harus akui curi, nama saya Wirahadi bukan hadi, setelah diinterogasi, yang saya akui cuma dua. Sebetulnya yang satu bukan saya, tapi karena saya tidak kuat disiksa, ditelanjangi, mata sudah tidak kelihatan, bengkak. Akhirnya saya mengaku, penembakan di Malakousa, dengan pembunuhan tukang ojek di Palu,” papar Wirahadi. 


“Padahal bukan saya yang melakukan, karena tidak tahan siksaan, saya kelabakan, saya dipaksa mengakui motor hilang. Ada telpon dari Makassar, konfrontasi bahwa Hadi, saya dikasih ke teman saya yang sudah ditangkap di Makassar, iya Hadi nama kamu sudah ketahuan, ngaku saja, biar kamu ringan, akhirnya saya tidak berdaya, saya akui sudah. 15 hari diinterogasi.” 


Berada di dalam jeruji besi membuatnya gelisah. Berulang kali mengajukan pemindahan tahanan tapi ditolak, akhirnya Wirahadi melarikan diri dari penjara. 


“Sebenarnya saya tidak mau kabur dari LP Makassar, sudah 7 kali saya mengajukan pemindahan tahanan, tapi tidak direspon. Tidak ada yang besuk, karena keluarga dana terbatas, ibu saja. (caranya gimana) pas ketiga kali orangtua bawa surat, kasih pindah, saya panjat tembok, hari minggu, ke gunung, bertahan 10 hari,” kenangnya. 


Setelah tertangkap, Hadi dibawa ke markas Densus 88. Disana ia disiksa, lagi.


“Tertangkap di gunung di daerah Gowa dibawa ke densus, ditangani selama 9 hari, diintterogasi, dipukuli, kemudian saya dirantai selama 1 tahun 2 bulan. Saya diisolasi, dikasih makanan pakai kayu. Besarnya 3x3 tidak ada lampu, tidak ada tikar, 9 mata dirantai. Kemudian dikasih ke luar, dibuka.


Wirahadi divonis bersalah dan diganjar hukuman 19 tahun penjara. Ia ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Makassar.


Selain untuk menjalani hukuman, penjara juga jadi tempat merenung bekas kombatan Poso itu. Perlahan-lahan ia mengintrospeksi diri dan menyadari kesalahan yang sudah diperbuat. Hatinya luluh karena terus teringat keluarga selama berada di dalam penjara.


 “tidak pernah terpikir saya akan dipenjara. Apalagi saya dididik orang tua saya. Tapi begini lah gara-gara kerusuhan. Sehingga saya merasakan dipenjara lama kemudian saya rasakan apa yang namanya itu penyiksaan dari Densus, polisi. Sampai dipenjara sampai sama lari. Saya Cuma bisa berdoa supaya bisa bertemu dengan keluarga walaupun saya dalam keadaan kosong habis-habisan. Karena keluarga saya sampai jual rumah karena saya dipenjara.”  


Simak cerita Wirahadi bagian terakhir di sini: Wirahadi Pindah Ring: Dari Jihad Poso Jadi Petinju (3) 


Kisah sebelumnya di sini: Wirahadi Pindah Ring: Dari Jihad Poso Jadi Petinju (1)   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!