Warga Kelurahan Sempur memulung sampah di Kali Ciliwung. (Foto: Khusnul Khotimah/KBR)

KBR, Jakarta - Sabtu pagi, puluhan warga Kelurahan Sempur, Kota Bogor, sudah sibuk menuju Kali Ciliwung. Sebagian berkaus merah bertuliskan Hayuk Urang Koroyok Runtah ?Ciliwung? yang berarti ayo ikut bersihkan sampah di Ciliwung.

Tapi jangan salah sangka, mereka ke Kali Cliwung bukan untuk mencuci atau membuang sampah. Justru mengikuti lomba. Ya “Lomba Mulung Sampah Ciliwung”.

Memulung sampah di aliran kali Ciliwung tidaklah mudah. Ini karena banyak sampah plastik tersangkut di himpitan bebatuan besar. Sampai-sampai mereka harus menggunakan pisau untuk mengangkut sampah itu.

Ibrahim alias Boim salah satu warga Kelurahan Sempur.

“Tiap tahun kita juara dua. Tapi ini sedikit. Sedikit juga karungnya. Berarti ini makin bersih sih,” katanya kepada KBR. Boim juga bercerita, sampah kali ini terbilang lebih sedikit ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Lomba Mulung Sampah Ciliwung diikuti 13 kelurahan dari hulu Bendungan Katulampa hingga ke hilir di Kelurahan Sukasari dan digagas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor bersama Komunitas Pecinta Ciliwung (KPC).

Lomba yang masuk tahun ketujuh ini, dianggap punya efek positif. Koordinator lomba dari KPC, Anggita Saranta bercerita, pelan tapi pasti, warga sepanjang aliran Kali Ciliwung semakin sadar dengan tak membuang sampah seenaknya.
 
“Karena sudah jadi agenda Hari Jadi Bogor (HJB), pendekatan tidak melulu isu ekologi, isu kualitas air, atau revarian sungai lagi. Tapi lebih dari itu, bagaimana warga Bogor menjadi pemilik wilayah secara utuh. Yakni momen lomba mulung ini menjadi ruang interaksi seluruh warga Bogor,” ungkapnya.

Selain warga sekitar, lomba ini juga diikuti 300 relawan KPC dari berbagai kalangan. Mereka yang umumnya mahasiswa dari berbagai kampus ini menyebar ke 13 kelurahan.

Muhammad Sidiq, yang datang dari Jakarta mengaku senang bisa ikut berpartisipasi. Ia berharap lomba juga digelar di Jakarta.

“Tadi sih banyak sampah yang nyangkut. Tapi setelah banyak warga yang turun akhirnya ada 211 karung. Sebenarnya saya ingin di Jakarta seperti ini. Tapi kalau di Jakarta sudah seperti lautan sampah. Mengambil sampah juga tidak gampang. Karena tak sedikit warga terpeleset, bahkan hingga berdarah,” ucap Sidiq.

Dari lomba ini, para peserta berhasil memulung 2500 karung sampah.

Dan, hasilnya warga Kelurahan Sempur menjadi juara dua. Juara pertama disabet Kelurahan Tanah Sereal. Kedua kelurahan ini berhasil mengumpulkan sampah terbanyak. Selain jumlah sampah, kekompakan warga di tiap kelurahan juga dinilai.

Hadiahnya berupa uang tunai yang nantinya akan dipakai untuk merayakan pesta rakyat. Menurut Anggit, masyarakat di 13 kelurahan berharap masyarakat bisa menghargai apa yang sudah mereka lakukan dengan tidak menambah lagi volume sampah di Kali Ciliwung.

“Target kita bukan persoalan sampahnya terangkat kemudian sampahnya bersih. Tapi ini menjadi penanda. Ketika teman-teman di Jakarta banjir juga penuh sampah, itu kadang-kadang menyalahkan di Bogor. Kami juga tidak mau membela diri. Tapi dengan kegiatan mulung sampah ini kita bisa memberi bukti, kalau itu jadi keluhan kita sudah mengangkat,” tutup Anggit.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!