Rafiq, eks kombatan Poso, pendiri Radio Matahari. (Foto: KBR)

Rafiq, eks kombatan Poso, pendiri Radio Matahari. (Foto: KBR)

Radio Matahari yang didirikan Rafiq Syamsuddin eks kombatan konflik SARA di Poso semula bernama Radio Hamas. Radio itu digunakan untuk menyerukan kebencian terhadap warga berbeda keyakinan. Saat rafiq mengubah isi program siaran ke materi seruan damai, sekelompok pendengar ragu dan skeptis.

Keengganan mendengarkan siaran radio besutan Rafiq juga terus berlangsung meski nama radio Hamas diubah menjadi radio Matahari. Rafiq mengaku, saat itu sebagian warga Nasrani kadung mencap Radio Matahari sebagai penyeru kebencian, meski perjanjian damai (Malino I) disepakati para pemangku pihak di Poso.

Tapi Rafiq tak kehabisan akal. Supaya isi siaran diterima oleh semua pendengar di Poso, kedua pihak yang semula berseteru ia rangkul untuk bersiaran bersama. 

Perlahan kita bisa mengikisnya. Kita undang tokoh agama Islam dan Kristen, dialog tentang masalah Poso, bicara tentang masa depan Poso yang aman dan damai, perlahan-lahan juga kondisi itu bisa pulih.

Setelah sukses menyerukan damai, giliran Rafiq kesulitan mendapatkan pekerja. Dia kesulitan mencari penyiar. Ini pula jadi sebab siaran radio Matahari kadang terhenti, dan sesekali merelay siaran televisi. 

Kadang hanya 3-4 orang, pernah juga 6-10 orang.”

Masalah pelik yang juga penting, kondisi keuangan yang seret untuk membiayai operasional radio. Apalagi situasi perekonomian masih lesu usai perjanjian damai disepakati. Beberapa kali sejumlah rekan yang direkrut untuk bersiaran tak digaji. Bahkan untuk biaya kebutuhan operasional siaran, seperti listrik, air dan kebutuhan perawatan alat, pemilik dan karyawan rela patungan. Sampai di situ, Rafiq juga tak kehilagan akal, dia nekat mendirikan unit usaha lain untuk membiayai operasional Radio Matahari. Dia mendirikan sarana karaoke, café, dan bilyard.

Menurut Rafiq, dia butuh waktu hingga dua tahun sampai semua isi siaran radio Matahari diterima semua masyarakat Poso. Jerih payahnya tak sia-sia, pada 2009, radio yang didirikan Rafiq mulai dilirik para pengiklan. 

Kita sudah mulai menerima iklan sedikit demi sedikit. Walaupun, itu belum sampai 70 persen biaya operasional radio, tapi kita berusaha untuk tetap bertahan, kita mendirikan usaha yang lain untuk bisa mensubsidi kehidupan radio.

Seruan damai diteruskan untuk menjadi ruh siaran radio Matahari. Kebijakan redaksi lantas disusun, seperti kebijakan menyensor berbagai pesan yang bisa memprovokasi warga untuk kembali berseteru. Kondisi demikian menurut Rafiq masih sangat rawan dan bisa menimbulkan konflik baru.

”Poso waktu itu sangat sensitif ya, misalnya kalau ada orang Muslim mati, meninggal di Tentena, kejadiannya mungkin saja tabrakan, atau apa, tapi kejadian di Tentena, itu orang akan segera mengambil kesimpulan bahwa umat Muslim dibantai umat Kristiani di Tentena, dan itu dalam beberapa jam akan ada balasan di sini. Hal seperti itu, walaupun kalau misalnya kematian karena tabrakan terjadi karena kesengajaan, itu faktanya, tapi kita harus bisa mengemasnya sebagai kecelakaan lalu lintas yang murni. Beberapa kali pernah terjadi seperti itu.”

Kini, Rafiq mengklaim radionya sudah mapan. Setiap jeda program siaran tak pernah sepi iklan. Tahu kondisi sudah mulai menguntungkan, pengelola Radio Matahari menggagas siaran radio yang bisa diakses lewat internet. Manajer acara Radio Matahari, Hendra Prasende mengatakan agar siaran radio Matahari bisa membahana sampai Jakarta hingga mancanegara.

Rafiq si pemilik radio masih ada ratusan orang yang tewas akibat konflik berkepanjangan di Poso. Mungkin tak hanya dendam yang tersisa, juga rasa bersalah karena terlibat dalam konflik berbau SARA di Poso. Rafiq Syamsuddin yang dulu menjadi perakit bom sadar akan hal ini. 

“Saya harus mengerti bahwa peralatan yang saya buat tidak mungkin tidak ada yang mencederai orang, pasti ada yang mencederai orang. Artinya, secara tak langsung saya juga ikut membuat orang cedera, itu jadi semacam hukuman bagi batin saya, ketika vonis dijatuhkan 6 bulan, saya merasa itu belum cukup untuk beban yang saya alami berkaitan dengan itu, karena itu utang saya harus saya tebus dengan cara yang harus saya lakukan sendiri.”

Kata Rafiq, di Poso, damai mestilah lestari. Agar perekonomian pulih dan masyarakat bisa nyaman hidup berdampingan. Melupakan kebencian, juga mengubur dalam dendam.

Kembali ke cerita awal: Rafiq: Menyerukan Damai di Radio Matahari (1)  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!