Forum Mahasiswa Bandung menyatakan mendukung Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk segera melakukan reformasi tata kelola sepak bola Indonesia. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Pipik Suratno, penjaga gawang klub Perserang, Banten ini terancam tak bisa lagi merumput di lapangan bola. Padahal dalam hitungan hari ke depan, ia bakal melakoni pertandingan perdananya musim ini.

“Ya haknya yang sudah kerja saja, selama periode Januari hingga April kemarin, jadi cuma empat bulan aja. Itu juga karena ada revisi dari PSSI soal kontrak kemarin, klub wajib membayar gaji pemain selama waktu kerja. Sementara ini juga saya masih menunggu pemberesan yang empat bulan itu. Ini efek dari sponsor yang kabur setelah pembekuan kemarin,” ucap Pipik.

Kontrak Pipik di Perserang sebetulnya berdurasi 10 bulan. Dengan nilai kontrak sekitar 100 juta permusim, bisa dibilang cukup pas-pasan untuk menghidupi istri dan dua orang anaknya yang masih kecil.

Sekarang, agar dapur tetap mengebul, Pipik terpaksa menjadi pesuruh di sebuah rumah yatim piatu hingga menjalani pertandingan antarkampung atau tarkam.

“Di tarkam itu ya kecil-kecilnya 300 ribu sampai 350 ribu rupiah, tergantung bos yang ajak saja. Kadang kalau teman yang ajak beda lagi, kalau beruntung bisa 500 ribu sampai 600 ribu rupiah sekali tarkam, tidak tentu. Kegiatan saya paling di yayasan kalau tidak ada tarkam, bantu-bantu, ada yayasan yatim piatu. Kadang suka diajakin yang punya yayasan untuk mengantar bawa mobil dan suka dikasih, rejeki dari mana saja lah,” tambahnya.

Nasib Pipik, mungkin sama dengan para pemain bola lainnya. Semisal Bryan Cesar Ramadhan, gelandang muda Persiba Balikpapan.

Kini, ia terpaksa mengikuti pertandingan antarkampung atau tarkam. Dari situ, ia bisa mendapat uang 500 ribu hingga satu juta rupiah tiap kali bertanding.

“Terpaksa ya cari tarkam, mau enggak mau. Dibayar berapa? Tergantung mainnya di mana, karena beda-beda. Kalau main di desa-desa (jauh) itu lebih besar, seperti di Bontang itu bisa dibayar 500 ribu hingga 700 ribu rupiah setiap pertandingan. Kalau di pedalaman-pedalaman itu biasa lebih besar lagi,” jelas Bryan.


Pembekuan FIFA Momen Pembenahan Sepak Bola Indonesia

Hal yang menimpa Pipik Suratno dan Bryan Cesar Ramadhan, adalah buntut dari pembekuan FIFA kepada Indonesia.

FIFA menjatuhkan sanksi lantaran kisruh sepakbola antara PSSI dan Kemenpora tak kunjung usai hingga tenggat waktu yang di tentukan. Sanksi itu berimbas pada keikutsertaan tim nasional Indonesia dan seluruh klub asal Indonesia tidak bisa berlaga di kompetisi resmi FIFA dan AFC.

Klub yang merasakan betul dampaknya, Persipura. Bagaimana tidak, Persipura berhasil lolos ke babak 16 besar AFC Cup 2015, tapi terpaksa terdepak.

Hal itu membuat sebagian masyarakat Papua geram. Koordinator Suporter Persipura di Jakarta, John Poli Menanti mengatakan, Menpora Imam Nahrowi mengorbankan Persipura.

“Jadi kami minta supaya menpora harus bijaksana, karena atas tindakannya ini nanti yang jadi korbannya rakyat Papua. Karena nanti besok atau lusa ini mereka akan mengamuk di Jayapura kemudian ada yang ditembak oleh tentara dan polisi. Ini kan berarti menpora yang membuat persoalan. Persoalan ini bukan hanya terjadi di Jakarta saja tapi di Papua juga terjadi banyak masalah. Pursipura adalah satu-satunya yang mereka banggakan selama ini,” kata John Poli.

Menanggapi sanksi FIFA itu, Kemenpora pun bereaksi. Menpora Imam Nahrowi menilai, sanksi itu harus dilihat sebagai langkah membenahi persepakbolaan Indonesia.

Ia juga berjanji bakal menggulirkan kembali berbagai tingkatan kompetisi baik untuk tataran profesional maupun tataran amatir.

“Tetapi yang paling penting adalah bagaimana semua ini bermuara kepada prestasi. Kita harus melihat bahwa prestasi sepak bola Indonesia ini mestinya semakin hari semakin baik, bukannya semakin mundur. Kalau kita lihat ke belakang memang belum ada sesuatu yang mencerahkan dalam prestasi sepak bola kita ini. Karenanya harus didorong reformasi, agar ke depan kita tidak dipermalukan,” tambahnya.

Imam Nahrowi bahkan meminta para pemain tak terlalu khawatir. Sebab, pemerintah berkomitmen untuk kembali menggulirkan kompetisi dengan standar dan kualitas yang lebih baik. Dengan begitu, hak dan kewajiban para pemain, pelatih dan perangkat pertandingan dapat terpenuhi.

Setali tiga uang dengan Imam Nahrowi, pengamat sepakbola Budiarto Shambazy menyatakan pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh.

Dia mengibaratkan pesepakbolaan Indonesia tengah sakit dari hulu hingga ke hilir, dan sanksi FIFA merupakan obatnya.

“Kalau saya tetap percaya memang kita perlu semacam shock therapy, jadi menurut saya itu memang keputusan yang tepat. Karena kita tidak mau kembali ke masa gelap. Kita lebih banyak berkorban, korban perasaan, korban harga diri karena timnasnya tidak pernah juara, korban muak melihat suap, melihat sepak bola gajah, melihat mafia sepak bola. Sekarang ini banyak yang mengeluh banyak pemain yang menganggur, kita memang prihatin. Hanya saja jangan salah, pemain seharusnya bisa mengkritisi klub yang bermasalah,” katanya.

Tapi ia juga memperingatkan Kemenpora agar bergerak cepat. Jika tidak, maka kehancuran sepak bola Indonesia akan semakin lama.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!