Seorang warga memeriksa selang gas dari reaktor biogas kotoran sapi. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Rahman, warga Kampung Petojo, di RT 03 RW 08, Petojo Utara, Jakarta Pusat, sedang memasak mi instan. Tak ada yang berbeda dengan mi buatan Maman. Tapi, tempat dan bahan bakarnya yang tak biasa.

“Seperti kompor biasa, panasnya biasa. Apinya biru. Bau enggak? Kalau belum nyala belum pakai api, ya bau. Tapi setelah apinya menyala biasa saja sudah hilang, enggak bau. Bagaimana sih kalau toilet dibuka, bau menguap,” ungkap Rahman.

Ia, memasak di dapur yang menyatu dengan toilet umum. Dengan bahan bakar gas yang berasal dari sepiteng toilet tersebut.

Warga setempat menyebutnya Toilet Plus Plus.

Cara kerjanya, sepiteng yang berada di bawah toilet akan secara otomatis memisahkan air dengan tinja. Kemudian, tinja tersebut akan terkumpul di sebuah tempat berbentuk kubah.

Dari kubah itulah, pipa-pipa menghantarkan biogas dan dialirkan ke selang kompor.

Sementara, dapur yang menyatu dengan toilet tersebut, ukurannya tak terlalu besar, sekitar 1x2 meter. Letaknya, persis berada di depan toilet.

“Ada 12 kamar mandi di situ, toilet ada enam, kamar mandi empat. Di sana ada kamar mandi dan toilet. Dulu ada showernya, tapi anak kecil main, tarik-tarik jadi rusak,” tambannya.

Dapur umum ini biasanya digunakan warga untuk acara-acara besar seperti pernikahan ataupun Lebaran. “Hajatan Lebaran biasanya masak ketupat, makan ramai-ramai. Izin dulu tapi ke pak RT,” sambung Rahman.  

Istri dari RT setempat, Sumirah bercerita, Toilet Plus Plus ini sangat berguna jika banjir datang. “Kalau banjir seperti kemarin, di sini buat posko untuk masak mi dan nasi. Belum lama juga banjir besar, bulan Februari. Rumah saya tenggelam malah di belakang. Nah kita masak di sini, buat posko," ucap Sumirah.

Malah kata dia, warga atau tamu yang ingin melihat Toilet Plus Plus tidak merasa jijik. Meski makanan yang dimasak menggunakan gas yang berasal dari tinja.

“Kalau tamu dari luar negeri, masaknya di situ. Masak pisang goring, bala-bala. Segala macam ada di situ. Buat merebus teh dan masak air, suka semua. Enggak ada yang nolak. Itu orang luar negeri juga," sambung Sumirah.

Tidak hanya dapur umumnya saja, toilet yang dibangun pada 2007 ini juga membantu warga, terutama bagi yang tidak punya toilet atau kamar mandi.



Awal Mula Toilet Plus Plus


Ide membangun Toilet Plus Plus ini berawal dari kasus kekurangan gizi para balita. Tak haya itu, bekas Ketua RW 08, Irwansyah juga bercerita, kesadaran warga akan toilet juga sangat kurang. Hingga, akhirnya ia meminta bantuan.

“Kita coba menawarkan bagaimana mengubah sanitasi yang tadinya buruk, terus menjadi setelah baik lah,” katanya.

Begitu dana cair, ia lantas membangun Toilet Plus Plus dilengkapi peralatan canggih yang bisa membuang air bekas limbah tanpa bakteri. Air limbah tersebut dibuang ke kali yang berada tepat di belakang Toilet Plus-Plus.

"Konstruksi yang digunakan di situ menggunakan biodigister, itu untuk menampung kotoran, jadi digester bisa menghasilkan gas metan,” sambung Irwansyah.
 
Hasil karyanya itu bahkan pernah dikunjungi Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu.

Kini, Toilet Plus Plus telah dipakai sekitar ratusan lebih Kepala Keluarga (KK) dari tiga RT di Petojo Utara.

“Warga sini saja dari RT 013. Sampai tiga RT pakai, pokoknya RT mana saja mau pakai silahkan, orang lewat, boleh, anak sekolah boleh," tutup Sumirah.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!