Abner Wemy Loupaty. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Berty Lopaty dikenal dekat dengan tentara. Di antaranya anggota Kodam, Bei Papilaya yang ketika kerusuhan Ambon, bertugas sebagai intel. Meski disebut-sebut sebagai panglima pasukan Kristen, Berty beberapa kali justru membantu menyelamatkan warga Muslim. Bei Papilaya, anggota TNI sahabat Berty menjadi saksi.

“Waktu itu orang Muslim sudah terkepung, dalam gereja. Kemudian, Berty selamatkan mereka, supaya orang Muslim keluar dari situ. Waktu itu massa sudah banyak, daripada mereka lari ke rumah rakyat, mereka bisa dibunuh, akhirnya mereka lari ke gereja dan kita selamatkan mereka ke daerah Muslim,” ungkap Bei Papilaya.

Berkat Berty pula, Abdulhalid Sangaji, seorang Muslim, bisa berada di kawasan Kristen hingga tiga tahun.

“Bahkan waktu kerusuhan saya hidup dengan dia. Di mana mereka turun saya ikut turun. Saya ikut turun berjaga-jaga saat kerusuhan. Jadi mereka tidak bisa ganggu saya karena dekat Berty. Pokoknya orang dengar namanya saja sudah takut. Karena Coker itu dia yang pegang," tambah Andulhalid Sangaji.

Perbedaan agama tak menghalangi persahabatan Berty dengan Nasir Abas. Saat di penjara, justru Berty lah yang menggerakkan petinggi Jamaah Islamiyyah itu untuk berpindah haluan.

"Saya datang cuma pakai sarung. Jadi benar-benar orang melayu bilang sehelai sepinggang. Hanya sarung, kemudian kaos oblong. Lalu bang Berty bilang ini celana ini baju.  Lalu dikasih. Kalau mau sholat, nah ini tempat sholatnya. Saya tidak punya apa-apa. Jadi hilang semua pikiran negatif saya. Yang saya pikir orang Ambon ini jelek, yang memusuhi orang Islam," kata Nasir.

Selama menjalani vonis 12 tahun penjara, Berty berpindah-pindah bui. Di penjara Cipinang, Jakarta Timur, sikap mengalah Berty semakin menguat. Berty tak lagi seperti dulu, membalas kekerasan dengan kekerasan.

Bahkan ketika penjara Cipinang membara, dua kelompok saling serang, Berty diam.

"Jadi gini, pertama beta dikeroyok, ditikam, dipotong. Waktu itu sore, habis  jam besuk. Ketika dengar masalah itu semua pintu blok  dikunci. Yang Ambon semua dengar, semua naik pagar. Hari itu key dengan Ambon 1 banding 20. Kita lebih banyak. Mulai pikiran itu timbul."

"Bini di belakang, sama anak. Anak sekolah. Hidup, makan, sekolah semua dari sini. Kalau pembalasan, sudah bukan jatah mati. Tapi dari situ bagaimana? Beta diproses. Beta dibuang. Itu pikiran mulai timbul. Beta menentang. Ada yang maki beta, harus dibalas. Tapi beta redam. Sampe kejadian dua kali," tutur Berty.

Berty kini menjalani hidup baru, berkampanye antikekerasan. Karena sejatinya manusia saling bersaudara tanpa memandang agama dan suku.

"Damai tetap beta dukung. Hidup ini tiada perbedaan. Mau hijau, mau coklat, mau hitam mau putih. Mau Hindu, Budha. Kalau fanatik, kampungan. Jaga Hubungan baik. Kita ini saudara kok. Beta bisa bersaudara dengan ini orang Malaysia," tambah Berty.

Berty berharap tak ada lagi konflik di Ambon. Semua pihak duduk bersama, untuk perdamaian yang lebih abadi.

Baca cerita sebelumnya: Panglima Coker, Berty Loupaty (1) dan Panglima Coker, Berty Loupaty (2) 


Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!