Abner Wemy Loupaty. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Tak akan ada yang menyangka, lelaki kerempeng ini pemimpin geng yang sangat ditakuti di Ambon, Maluku kala konflik terjadi 15 tahun lalu. Pemimpin Geng Coker alias cowok keren ini diburu polisi karena dianggap terlibat dalam sejumlah penyerangan. Dalam kasus ini jaksa menuntut Berty hukuman mati.

“Saya tidak ditangkap. Berlindung di Solo. Kita di LBH Solo dulu, dikirim. Nah yang menjemput itu tim sembilannya Pak Jokowi, sekarang, Pak Bambang Widodo bersama almarhum Munir,” kata Berty.

Pasca reformasi 98, Ambon membara. Dipicu hal sepele, perkelahian. Provokasi lantas menyebar, konflik kecil jadi rusuh sara. Islam versus Kristen.

Rusuh dipicu perkelahian antara Yopie Loheiri dan Mursalin bin Kadir. Samuel Waileruny alias Sammy pengacara Yopie punya versi tentang pemicu kerusuhan.

“Yopie bilang belum ada uang, baru tarik satu kali. Dia pergi, lalu dia kembali lagi dan diminta lagi. Yopie bilang jangan bapaksa, beta bukan supir dua hari, begitu Yopie bilang begitu, lalu dia langsung cabut badik. Dia tikam Yopie, Yopie tangkis dengan pintu mobil. Yopie bilang sae maen dengan pisau, beta maen dengan parang. Yopie langsung lari ke rumah ambil parang."

"Dalam beberapa menit setelah Yopie ambil parang,  Yopie datang sekitar 20 sampai 25 meter, dia lihat Yopie dia mulai lari masuk ke wilayah Batu Merah. Wilayah Batu Merah pada saat itu suasana lebaran sekitar jam setengah empat  sore peristiwa itu.  Dia berteriak, pele pele, orang Kristen mau bunuh beta,” ucap Samuel.

Konflik sara di Ambon tak berdiri sendiri. Kerusuhan preman di Ketapang, Jakarta Barat juga disebut bagian dari pemantiknya. Di Ambon, Geng Coker yang didirikan Berty sebelum kerusuhan terjadi, juga terlibat. Peter Hoba, mertua Berty.

“Berty waktu itu belum jadi apa-apa. Baru setelah sebulan dua bulan, mulai pimpin-pimpin. Dengan anak-anak saling membela lah," ungkap Peter Hoba.

Selain preman, salah satu yang dituding sebagai penyebab mencuatnya gerakan Republik Maluku Selatan (RMS). Namun Samuel Waileruny alias Sammy, yang aktif di Front Kedaulatan Maluku membantahnya.

“Saya harus menjelaskan bahwa ini konspirasi, seakan-akan ini konflik antar umat beragama. Kami melakukan kajian yang sebagaimana juga saya tulis dalam buku saya yang berjudul “Membongkar Konspirasi di balik Maluku” itu lalu jawabannya, bahwa konflik Maluku dilakukan pemerintah Indonesia secara terencana dan sistematis melalui peran tentara dan polisi."

"Lalu dilakukan di lapangan dengan ada juga organisasi-organisasi antara lain: jihad, mujahidin dan sebagainya. Tetapi itu semuanya sebenarnya dalam perangkat tanggung jawab Negara,” tutur Sammy melanjutkan.

Tawuran antarkampung juga menjadi salah satu faktor. Kata Said Assegaf, Gubernur Maluku, ada belasan desa yang sudah ratusan tahun kerap tawuran.

“Sudah kita data semua. Kurang lebih ada 14 desa di Maluku yang  sebenarnya perkelahian antarkampung ini sudah lama, sudah turun temurun sudah ratusan tahun lalu. Hanya ketika itu persnya belum berkembang seperti sekarang ini. Kalau sekarang begitu kecil saja, sudah sampai di mana-mana karena pers sudah aktif berperan. Oleh karena itu saya bilang kepada teman pers, pemberitaan yang benar. Kejadian di mana sampaikan. Jangan seperti kemarin, Ambon rusuh, sekian meninggal," kata Said Assegaf.

Tawuran antardesa, RMS, preman, berkelidan dalam rusuh Ambon. Berty dan kawan-kawannya di Geng Coker tak bisa lepas dari jeratan konflik. 

Bagaimana  Berty bisa menjadi panglima Geng Coker? 

Baca lanjutan ceritanya: Panglima Coker, Berty Loupaty (2) 


Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!