badak jawa, banten, TNUK, WWF, satwa

KBR, Banten - Sejak 1990-an, Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten  diklaim aman dari perburuan. Namun, ancaman kepunahan tetap menghantui, yakni kematian. Tiga tahun terakhir berturut-turut tiga Badak Jawa mati misterius. Pihak Taman Nasional dan LSM WWF belum menemukan titik terang kematian berantai satwa langka ini.

Pertengahan Maret lalu, Sultan ditemukan mati di tepi pantai di kawasan TNUK. Tubuh Badak Jawa itu sudah membusuk dengan kulit mengelupas. Tapi, peristiwa tragis ini nyaris tak banyak yang tahu. Ari wartawan setempat salah satu yang mempertanyakan.  “Kenapa kok kesannya bila ada badak yang lahir publikasinya besar-besaran, tapi kalau ada badak yang mati ditutup-tutupi,” katanya.

Setahun sebelum kematian Sultan, badak lain bernama Iteung juga ditemukan mati dan hanya menyisakan tulang belulangnya saja. Saat ini media banyak memberitakan kematian Iteung. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Badak Jawa TNUK  Indra Harwanto menjelaskan,“Itu berbeda dengan kematian yang 2014 ini. Kalau yang ini kita masih menemukan dengan keadaan utuh dan baru ditemukan sehingga saat akan mempublikasikannya harus secara utuh.”

Menurut Indra jika ada badak yang mati atau lahir, pihak TNUK harus melaporkan ke pemerintah pusat.  “Yang di 2014 ini sedang diteliti penyebab kematiannya. Setelah itu akan kita ekspos. Sayang kalau informasinya cuma separuh. Kita juga sudah bawa organnya ke IPB untuk diteliti,” jelasnya.

Namun demikian, para peneliti dari WWF dan pihak taman nasional yakin, kematian Sultan bukan karena perburuan. Pemimpin Proyek WWF Ujung Kulon Elisabet Purastuti menduga ada penyebab kematian lain.

“Salah satu ancaman lain terhadap Badak Jawa adalah adanya penyakit dari ternak warga. Soalnya beberapa kematian badak kita belum tahu penyebabnya. Yang jelas bukan perburuan. Terakhir 2014 ini ada badak mati, tapi culanya masih ada. Jadi kita masih menyelidiki korelasi dengan penyakit dari ternak warga,” papar Elisabet.

Tapi kata Dokter Hewan dari WWF Ujung Kulon, Nia, kecurigaan kepada kerbau sebagai penular penyakit belum terbukti. “Jadi, soal kerbau ini, kami bekerja sama dengan Cornell University, yaitu Disease Surveilance Study. Di sini ada 19 desa yang mayoritas penduduknya beternak kerbau. Yang jadi masalah, kerbaunya dipelihara dengan cara tradisonal tanpa ada manajemen kesehatan yang bagus. Kita melihat ada sebuah potensi penularan penyakit dari kerbau ke badak. Apalagi kita lihat badak dan kerbau sama-sama hewan memamah biak. Jadi potensinya kita lihat besar,” jelas Nia.

Dari hasil penelitian 5 tahun terakhir, WWF menemukan beberapa penyakit yang telah membunuh sejumlah Badak Sumatera.

“Sejak 2009 kita sudah melakukan screening penyakit dan kita temukan beberapa penyakit potensial. Pertama, ada penyakit endemic di sini, yaitu ngorok. Pada tahun 1980-an ditemukan banyak badak mati di sini dan disinyalir karena ngorok. Selanjutnya ada penyakit tripanosoma. Penyakit ini menyebabkan kematian 7 Badak Sumatera di Malaysia. Penyakit ini nama lainnya parasit pada darah. WWF juga menaruh perhatian khusus pada penyakit itu,” tambah Nia.

Namun, pembunuh Badak Jawa di TNUK  masih tetap misterius. “Kita tidak berani bilang penyebab kematian badak pada Maret lalu itu karena penyakit dari kerbau. Kita menemukannya sudah dalam keadaan membusuk dan baru dibawa ke IPB untuk diinvestigasi,” jelasnya.

Dokter hewan lainnya, Fikri menambahkan,“Berbeda kalau kita menemukannya dalam keadaan masih segar. Ini kan sudah membusuk, jadi investigasinya lama. Memang kita bisa teliti sampai selnya. Tapi tidak menjamin akurat juga hasilnya. Yang jelas saat ditemukan tidak ada indikasi kekerasan. Alhamdulillah culanya masih utuh.”

Sejak tahun 1990-an, total sudah ada tiga Badak Jawa mati misterius.  Meski belum bisa membuktikan kematian Sultan akibat penyakit yang ditularkan kerbau, WWF dan Taman Nasional Ujung Kulon meminta seluruh pemilik kerbau di 19 desa mengandangkan piarannya itu.

Editor: Fuad Bachtiar

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!