Capres, Prabowo, Kampanye, Pemilu Presiden

KBR, Jakarta - Masa kampanye pemilu presiden tengah berlangsung sejak 4 Juni lalu. Masing-masing kubu menyiapkan siasat kampanye untuk menarik hati pemilih. Lelah dengan kampanye hitam, kubu Prabowo-Hatta melancarkan kampanye positif melalui anak muda.

Kawasan bebas kendaraan bermotor  Tangerang Selatan, Banten pagi itu riuh rendah. Jejeran pemusik berbagai instrumen berbaris mengalunkan lagu Maju Tak Gentar. Mereka adalah Marching Band “Canka Garuda Yaksa” besutan calon presiden yang diusung  Partai Gerindra dan partai pendukungnya, Prabowo Subianto. Sebagian orang yang tengah lari dan senam pagi,  langsung mengalihkan kegiatannya untuk menonton.

Koordinator Sahabat Prabowo, Yudha Permana menuturkan tujuan kampanye.“Kita mau kasih tahu ke masyarakat politik bisa fun kok. Jadi cara berkampanye bisa cara kreatif bisa cara fun gak perlu negatif dan black campaign,”katanya.

Black campaign atau kampanye hitam kerap terjadi saat pemilu presiden. Misalnya seperti yang dialami capres Jokowi yang dipojokan lewat pemberitaan berbau SARA oleh Tabloid Obor Rakyat. 

Dalam kampanyenya, Sahabat Prabowo menempatkan artis sinetron Raffi Ahmad ikut berpartisipasi. Berjalan mengawal garda depan marching band. Warga langsung mengerumuni Raffi dan berusaha foto bersama. Kehadiran Raffi untuk menyedot calon pemilih  pasangan capres-cawapres no urut 1 tersebut.

Yudha menjeaskan mengapa marching band yang biasa dilatih di Kompleks Olahraga Hambalang, Bogor ini dilibatkan dalam kampanye pilpres. “Drumband kan ketegasan, kebersamaa, mereka seirus bawa lagu musik masyarakat juga terhibur. Kita gak minta untuk memilih,” ungkapnya.   Menurutnya musik drumband  mencerminkan kebersamaan, ketegasan, musik, dan seni. “Jadi Prabowo aslinya kan sangat humanis. Jadi kita mau kasih lihat ke masyarakat bahwa Sahabat Prabowo ini mencerminkan Pak Prabowo. Makanya Prabowo suka musik, bercanda, peduli ke masy dan tegas. Jadi jangan dikonotasikan tegas itu angker," tambahnya. 

Selain menampilkan parade marching band, setiap kampanye  mereka turut membagikan susu kotak kepada masyarakat. Ini sebagai simbol dukungan peningkatan kualitas sumber daya anak miskin. Tak hanya di sekitar Jakarta, kampanye membajak jalan dengan iringan marching band ini juga dilakukan di sepuluh kota lain se Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Bali.

Sebagian besar warga mengaku senang melihat kampanye kreatif tanpa orasi yang menjatuhkan pihak lawan. Selain menurunkan pasukan marching band setiap Minggu, Sahabat Prabowo juga berusaha menarik hati pemilih muda dengan menghadirkan truk makanan. Truk berisi makanan barat ini diparkir di depan Sekretariat Tunas Indonesia Raya (TIDAR), organisasi sayap Partai Gerindra yang berpusat di Jakarta. Di meja makan, mereka menempatkan stiker Prabowo yang bisa diambil secara cuma-cuma. Dari pantauan KBR, pengunjung yang datang adalah anak muda.

“Tren anak muda di Jakarta kan food truck. Kita ingin ngasih tau ke masyarakat bahwa Sabahat Prabowo/TIDAR beruwsha jadi trendsetter anak muda. Tujuannya mereka bisa datang makan santai gak perlu yang berurusan sama politik. Tapi kalau mereka mau nanya tentang prabowo bsia nananya ke Sahabat Prabowo,” kata Yudha.

Sahabat Prabowo juga melancarkan  kampanye di  media sosial seperti facebook, youtube dan twitter. Awal Juni lalu mereka merilis video clip lipsync lagu Pharrel Williams berjudul “Happy”. Dalam video itu puluhan anak muda yang mengenakan kaus Prabowo-Hatta berjoget sesukanya untuk menunjukkan bahwa pendukung Prabowo bahagia. Dan harapan Prabowo akan membuat Indonesia bahagia jika terpilih menjadi presiden. Sejak diunggah video ini berhasil mendulang hits 22 ribu penonton situs Youtube.“Ingin membuat sesuatu yang lucu-lucuan tanpa harus memaksa untuk milih dan sebagainya. Salah satunya video happy,” pungkas Yudha.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!