Capres, jokowi, Kampanye, Pemilu Presiden

KBR, Jakarta - Masa kampanye pemilu presiden tengah berlangsung sejak awal Juni lalu. Masing-masing kubu memiliki siasat kampanye yang beda untuk menarik hati pemilih. Relawan kubu calon Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-Jusuf Kalla melancarkan '"serangan" di terminal dan bis kota. Seperti apa kampanye mereka?

Deden Lupus, pengamen lulusan SMA ini memetik dawai gitar sambil  berkampanye di atas bis yang melaju dari kawasan Cileungsi, Bogor ke Jakarta. “Oke buat seluruh warga Indoensia. Kami atas nama KPJ Cileungsi ini pengamen. Ini bukan mengajak, tapi dengan hati nurani kami pribadi sebagai anak jalanan. Kami berharap untuk semuanya buat anak Indonesia yang memilih dari hati untuk capres-cawapres Jokowi dan JK.  Mudah-mudahan bapak Jokowi yang terpilih dan juga wakilnya JK lebih peduli pada kami seperti contohnya para pengamen jalanan,” harapnya.

Ia bersama sejumlah relawan lain menamakan diri sebagai Relawan Bis Kota. Tugasnya berorasi, berpusi, atau mengamen di depan penumpang.  Mengajak  memilih Capres dan Cawapres Jokowi-JK dalam pemilu presiden bulan depan. Ide ini digagas oleh Posko Perjuangan Rakyat (Pospera). Alasannya, kampanye ini efektif dan sangat merakyat. Layaknya citra yang dibangun capres nomor urut dua pilihan mereka.

“Kalau kita melihat relawan bis kota itu kan familiar. Merakyat. Kalau bicara bis kota misalnya terminal pasti di situ banyak dari berbagai latar daerah, rumah, tempat orang ketemu dari kecamatan mana ke kecamatan mana. Jadi tidak melulu di satu wilayah. Kita melihat terminal merakyat. Simbol kerakyatan dan kedua potensial,”terang Koordinator Nasional Pospera, Mustar Bona Ventura.

Para relawan ini kerap berkumpul di Posko Pospera di kawasan  Hampir semuanya didirikan di terminal. Mustar mengklaim Pospera sudah tersebar di 16 provinsi se-Indonesia. Untuk melatih Relawan Bis Kota pandai berpidato, Pospera menyediakan modal 10 buku panduan.

“Itu pendanaan yang kita buat sendiri. Mencetak dan menggandakan stiker itu memang kita yang buat. Berikutnya harapannya relawan bis kota yang naik turun keliling bis lalu membacakan pusisi dan meminta uang partisipasi. Nah uang itu kita kumpulkan untuk menggandakan stiker itu,“ jelas Mustar.

Menurutnya karakter kelompok relawan di setiap terminal berbeda-beda sesuai dengan daerahnya.“Kalau di Kota Tua yang setiap hari naik bis itu adalah seniman reggae, anak punk. Itu kan berbagai pola kreatif mereka mengkampanyekan soal merakyatnya kejujuran Jokowi dengan gaya seniman yang mereka miliki.”

Mustar menuturkan materi kampanye yang disampaikan para relawan. “Cuma tiga hal yang dikampanyekan. Kemanapun kita pergi sosialisasi dimanapun Cuma 3 hal yang dimandatkan oleh Jokowi. Pertama, menyampaikan Jokowi adalah tokoh yang sederhana. Pemimpin yang jujur dan pemimpin yang merakyat.Modal kita menemui dan datang ke rumah orang  door to door ya tiga itu.”

Selain berkampanye  di  bis kota, Pospera juga memberikan misi bagi para relawan untuk memantau Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari kecurangan Pemilu Presiden. Selain itu mengajak dan meyakinkan  tetangga relawan, mencoblos Capres-Cawapres Jokowi-JK pada 9 Juli mendatang. Mereka juga dibekali kaos dan stiker untuk ditempel di rumah, kendaraan, maupun rumah tetangga. “Kita cuma meminta 3 rumah ke depan, 3 rumah ke belakang, 3 rumah ke kanan, 3 rumah ke kiri. Konsep pemenangannya gak susah. Cukup meyakinkan pemilik 3 rumah ke depan ke samping,” katanya berpromosi. 

Strategi ini dirasa paling cocok untuk mencegah politik uang yang dilakukan kubu lawan. Apalagi relawannya adalah wong cilik yang sebagian besar berprofesi sebagai, supir, tukang ojek, pedagang kaki lima, dan ibu rumah tangga.
“Pertama kita minim uang, Kalau kita ke desa lain, kita minim ongkos. Ke kecamatan lain butuh transportasi. Tapi kalau memastikan 3 rumah itu kan jalan kaki. Itu paling efektif. Gak ada cara lain,” jelas Mustar. 

Mustar mengklaim telah mengantongi seribuan relawan di 16 provinsi. Targetnya adalah memenangkan pasangan nomor urut dua, terutama di wilayah Jawa Barat.  Pospera menganggap wilayah ini menjadi area yang paling sengit dalam menentukan suara nasional.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!