Capres Jokowi, Prabwo, Pemilu Presiden 2014, Pencitraan

KBR, Jakarta -  Pasangan capres-cawapres mulai sibuk mengikuti  kampanye Pemilu Presiden yang dimulai hari ini  (Rabu,4/6) hingga 5 Juli mendatang. Berbagai cara ditempuh  tim pemoles citra capres Prabowo dan Jokowi  menarik simpati pemilih. Bahasa tubuh dan cara berpakaian calon RI-1 ini misalnya ditata sedemikian rupa.

Siang itu Rumah Polonia, kawasan Jakarta Timur  riuh dipadati ratusan pendukung calon presiden. Mereka mengelu-elukan nama sang jagoan. Sementara yang dielu-elukan  duduk  di tengah panggung bersama elite penyokongnya.

Saat duduk lelaki bertubuh tegap  ini hampir selalu merapatkan kedua telapak tangannya di ujung paha. Sesekali tangannya mengusap dahi dan  memelintir ujung kemeja. 

Di panggung itu, ia hampir tidak pernah tersenyum, apalagi tertawa. Bahkan ketika  melemparkan candaan, ia tetap irit senyuman. Ya, dia adalah Prabowo Subianto. Calon presiden dari Partai Gerindra tersebut tengah menghadiri  acara  dukungan dari Forum Pemuda Muslim Maluku dan Persatuan Perangkat Desa Indonesia.

Bahasa tubuh yang ditampilkan Prabowo kepada khalayak,  kata orang dekatnya Fadli Zon punya makna tersendiri. 

“Tegas ya jelas tegas. Punya disiplin. Kejujuran.”

Pencitraan sebagai calon RI-1 yang tegas dan gagah ditampilkan Prabowo dan wakilnya Hatta Rajasa lewat pakaian.   Saat menghadiri berbagai acara capres-cawapres No urut 1, ini kerap mengenakan peci hitam dan pakaian seragam safari putih empat saku  yang dipadukan   celana coklat muda. Sekilas mengingatkan cara berpakian Bung Karno atau politikus era Kemerdekaan. 

Menurut Fadli tak ada makna khusus dari balik  cara berpakaian Prabowo-Hatta tersebut. “Ini kan kalau dari dulu kami di Gerindra  (pakaian-red)  warnanya putih. Dari sejak tahun 2008 sejak Gerindra berdiri. Kebetulan kawan-kawan juga merasa cocok pakai (pakaian) putih.”

Kembali ke panggung  acara di Rumah Polonia yang makin ramai.  Pengunjung yang hadir  berusaha mencuri kesempatan untuk bersalaman  langsung dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut. Untuk menunjukan kehangatannya, Prabowo  juga  menyapa sambil sesekali  memegang lengan lawan bicaranya.

“Image yang mau dibentuk image apa adanya. Kita tidak perlu misalnya karakter kita A pura-pura dipoles menjadi B. Saya kira apa adanya Pak Prabowo,” jelasnya

Fadli menambahkan,” Jadi kalau misalnya menyatakan satu pemikiran ya pemikiran itu apa yang keluar dari hati dan pikirannya. Dan kalau mau menyatakan pendapat sesuai dengan apa yang menurutnya benar. Kadang-kadang dianggap orang lain sebagai apolitis.”

Sebagian masyarakat mungkin memandang sosok  Prabowo sebagai figur yang keras dan kaku. Maklum bekas menantu Presiden Soeharto ini besar di lingkungan militer yang disiplin.  

Tapi pandangan itu sirna. Saat lagu Poco-Poco berkumandang di tengah acara, bekas Komandan Jendral Kopassus ini ikut bergoyang.  Dengan percaya diri, Prabowo menggerakan kaki dan tubuhnya maju dan mundur mengikuti irama.

Kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon  apa yang dilakukan Prabowo tersebut dilakukan spontan.

“Paling di breefing beberapa kalimat, mas acaranya itu gini2. Dua kalimat cukup. Karena memang beliau kalau berhadapan dengan rakyat langsung spontanitas tinggi. Seperti tadi ada spontanitas nyanyi joget tidak ada protokoler,” imbuhnya.

Capres Prabowo yang  menginjak usia 63 tahun ini sesekali tertawa saat bergoyang. Ratusan peserta deklarasi yang berada di depan panggung juga ikut menari.  Meskipun begitu, Fadli enggan menyebut nama penasihat  Prabowo saat tampil di publik.  “Pak Prabowo karena memang apa adanya ya begitu aja diarahkan. Kita juga ikut mengarahkan. Kebetulan saya ketua badan komunikasi di Gerindra, kawan2 juga banyak yang menyampaikan saran2 dan sebagainya. Dan Prabowo orangnya begitulah. Apa adanya,” ungkapnya.

Saat diwawancarai atau tampil di khalayak ramai, kata  Fadli  gaya komunikasi   anak begawan ekonomi Soemitro Djoyohadikusumo tersebut juga tertata dan berisi.  “Kalau bicara harus ada gunanya. Kalau sekadar jargon juga percuma. Saya kira Pak Prabowo kalau bicara banyak sekali hal2 yang bersifat subtansi. Bukan bicara teknis atau ngeles-ngeles aja. Atau sekadar ngomong rapopo atau ra mikir, jadi ya kita harus bicara subtansi kalau pemimpin itu. Karena kadang-kadang kalau diwawancara tidak pernah utuh pemikirannya dikutip. Atau kadang-kadang juga bisa dipelintir,” imbuhnya.

Selain di dunia nyata, Prabowo juga membangun citra diri yang positif lewat iklan televisi dan media sosial. Tak tanggung-tanggung, ia  merekrut puluhan orang yang  bekerja di dunia maya.  Mereka memantau interaksi di sosial media seperti Twitter dan Facebook selama 24 jam nonstop.

Selain memposting aktivitas Prabowo dan pendukungnya, tugas berat tim online adalah menangkis serangan isu negatif yang bisa menjatuhkan citra sang bos. Termasuk isu keterlibatan Prabowo dalam penculikan aktivis 1997-1998,  tragedi Mei 98, isu pembangkangan terhadap Presiden Habibie, serta utang perusahaannya.

Untuk menjawab serangkaian kampanye hitam itu, akun sosial media Prabowo biasanya langsung mengarahkan penjelasan yang dimuat dalam laman SelamatkanIndonesia.com.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!