Monas, Pemprov DKI, kaercher, wisatawan

KBR, Jakarta -  Jelang Ulang Tahun Jakarta ke-487,  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama salah satu perusahaan asing membersihkan  Monumen Nasional (Monas). Diusianya yang sudah mencapai lebih dari 50 tahun tugu bersejarah tersebut baru dua kali "dimandikan". 

Sejumlah orang tengah sibuk menyapu dan mencabuti rumput liar di areal Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Mereka adalah relawan tergabung dalam Komunitas Jelajah Budaya. Satu diantara mereka yang  sibuk bekerja pagi itu  Erni.  Di tangannya nampak kantung plastik hitam besar berisi sampah. “Ya..Biar ikut berpartisipasi melestarikan budaya,” ujar guru sejarah ini.

Kawasan yang menjadi simbol  Kota Jakarta ini memang tak selalu bersih. Saban minggu, terutama akhir pekan, sampah berhamburan di sekitar pelataran Monas. Relawan lain, Lilis menumpahkan kegelisahannya. “Waduh mengerikan sekali ya. Kalau abis weekend itu kotornya sampai saya tidak mau datang. Sebenarnya di Jakarta ini kan seharusnya, yang ada di pusat kota seharusnya sangat bersih,” kata Lilis.

Karena jorok,  suatu waktu Lilis  menunjukkan Monas Monas dari luar gerbang  kepada koleganya warga negara asing yang datang berwisata.  “Monas itu sebenarnya harus dibanggakan. Dan kalau kotor itu malu,” lanjutnya.

Selain halamannya,  tugu Monas juga sangat kotor akibat berselimut debu. Maklum saja terakhir tugu Monas dibersihkan 22 tahun silam . Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lantas menggagas pembersihan bangunan bersejarah tersebut.

Dua Kali Dibersihkan

Membersihkan  tugu setinggi 130 meter tentu bukan perkara mudah. Dua kali dibersihkan Pemprov DKI Jakarta menggandeng satu perusahaan layanan pembersih asal Jerman. Sepuluh tenaga ahli asing didatangkan langsung untuk memandikan Monas selama dua minggu. Juru Bicara Kaercher, Fransiska Natalia. “Mereka turun dari puncak Monas menggunakan tali sedemikian rupa mereka set-up supaya bisa mencapai seluruh area dari leher tugu monas. Jadi dari atas ke bawah turun.”

Sambil bergelantungan dengan tali pengamanan, para teknisi menyemprotkan air panas bersuhu 100 derajat celcius ke sekujur tugu Monas. Teknik ini dianggap paling mujarab, lantaran debu yang melekat sudah berkerak, akibat  tumpukan debu dan polusi kota.

Setelah disemprot air panas, teknisi menyikat dan mengeringkan dengan alat khusus. Pembersihan sama sekali tak menggunakan zat kimia. Ini untuk menjaga marmer alami yang membalut tugu.  Usia Monas sudah menginjak lebih dari 50 tahun. Dulu Bung Karno berambisi mendirikan monumen ini di depan Istana Merdeka. Tujuannya untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia ketika merebut kemerdekaan dari Belanda. Bangunan ini juga diharapkan menginspirasi dan membangkitkan nasionalisme kaum muda.

Tugu Monas yang menjulang kerap disebut lingga, artinya laki-laki. Sedangkan cawan monas disebut Yoni, sebagai simbol perempuan. Bentuk ini adalah permintaan langsung Bung Karno, saat merancang desain Monas bersama dua arsitek Indonesia. Salah satunya adalah Frederich Silaban yang juga merancang desain masjid terbesar se-Asia Tenggara, Masjid Istiqlal.

Andalkan Dana CSR

Pasca dibersihkan, memang tak semua noda di tubuh tugu yang ketinggiannya mencapai 130 meter itu bisa dibersihkan. Maklum,  lebih dari dua puluh tahun tak “dimandikan” beberapa kotoran yang menyelimuti sekeliling bangunan sudah menjadi kerak.

Minimnya dana jadi salah satu alasan. Pemprov   tak pernah mengalokasikan secara khusus anggaran khusus membersihkan bangunan yang jadi simbol Ibu Kota tersebut. Alhasil Pemprov kata Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Arie Budiman hanya mengandalkan dana program tanggung jawab sosial (CSR)  perusahaan.

Menurut perusahaan pembersih asal Jerman,  Kaercher, untuk menjaga warna dan kondisi Monas agar tetap sedap dipandang mata, perlu dibersihkan secara rutin terang Juru Bicara Kaercher Indonesia, Fransiska Natalia.

“Kalau dimandikan harusnya secara rutin ya. Berkala. Karena badan Monas ini menggunakan material marmer alam yang butuh dibersihkan untuk bisa bernafas. Karena ini batu alam yang pori-porinya butuh bernafas. Jadi memang harus rajin dibersihkan,” jelasnya.

Saran yang sama disampaikan Manager Kaercher Asia Tenggara, Klaus Puehmeyer,”Kalau dibilang 5-10 tahun itu tergantung polusinya. Kalau berharap Monas selalu bersih dan selalu dalam kondisi baik, bersihkan setiap 2-3 tahun. Jika menginginkan kondisi yang biasa-biasa saja atau jadi sedikit kotor seperti ini, ya 10 tahun.”

Pembersihan Monas sebelumnya dilakukan pada tahun 1992 oleh perusahaan yang sama. Perusahaan tersebut sebelumnya pernah membersihkan bangunan dan monumen bersejarah di luar negeri. Misalnya kincir angin raksasa London Eye di Inggris. Potemkin Steps di Odessa, serta Mount Rushmore di Amerika.

Pemerintah Jakarta mengaku terpaksa gandeng perusahaan asing, karena belum ada perusahaan lokal yang bisa membersihkan secara gratis. Menurut Arie Pemprov membuka pintu bagi perusahaan atau tenaga lokal yang mau bersihkan Monas. “Ya silakan saja (tenaga dalam negeri). Sebetulnya kan tergantung dari kesiapan. Jadi siapapun tentunya dengan metode yang tepat dan teknologi yang tidak merusak. Karena monas sebagai bangunan cagar budaya tentunya dibutuhkan kehati-kehatian di dalam tindakan pembersihannya. Belum ada yang berani dan memberikannya secara cuma-cuma.” ungkap Arie.

Selain dibersihkan   pihak Kaercher menyarankan  monumen yang menyimpan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini juga butuh renovasi di beberapa bagian bangunan. “Tapi tentunya ada beberapa area yang tidak kita bersihkan. Karena ada oksidasi dan kerusakan struktur. Tapi kami hanya perusahaan peralatan pembersih, bukan perusahaan perbaikan bangunan. Yang lebih dibutuhkan monas butuhkan adalah renovasi bangunan. Beberapa bagian ada yang harus diganti.”

Sudah selayaknya bangunan sejarah seperti Monas  mendapat perhatian pemerintah.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!