Indra Destriawan: 'Sedekah Rombongan, Menolong yang Fakir'

“Jadi pasien yang butuh berobat, okelah punya jaminan kesehatan tapi kesulitan akses biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari. Itu yang kami bantu.”

Indra Destriawan, Koordinator Sedekah Rombongan wilayah Semarang. Foto: KBR.

Kamis, 31 Mei 2018

KBR, Jakarta - Bocah berusia dua tahun itu terlihat capek. Digendong ibunya, Desvia Salsa langsung dibaringkan di dalam kamar. 

“Anak saya ada benjolan di tulang ekor. Tulang ekor enggak tumbuh,” jelas Santi.

Santi, ibu Salsa, bercerita anak bungsunya sakit setahun lalu. Dan demi pengobatan, keduanya harus menetap sementara di Rumah Singgah Sedekah Rombongan. 

Tapi Salsa dan ibunya bukan satu-satunya yang tinggal di sana. Kira-kira ada sepuluh pasien dari pelbagai daerah. Mereka semua, rujukan di RS Kariadi Semarang, Jawa Tengah.

Bagi mereka, bangunan yang terletak di kawasan Randusari ini adalah rumah kedua. Sebab di sana mereka tinggal selama proses pengobatan. Meski sesekali ketika tak ada jadwal kontrol, diantar pulang. 

“Kalau selesai kontrol, pulangnya masak bareng. Dianggap rumah sendiri di sini,” sambung Santi. 

Jarak dari Rumah Singgah Sedekah Rombongan ke RS Kariadi, cukup dekat. Jika menggunakan kendaraan, tak sampai 10 menit. Menurut Koordinator Sedekah Rombongan, hal itu agar tak melelahkan pasien yang sudah berjam-jam mengantre di rumah sakit. 

Rumah Singgah Sedekah Rombongan, adalah bagian dari program bantuan yang digagas Saptuari Sugiharto. Lahir pada 2011, lembaga nonprofit ini membiayai seluruh pengobatan hingga kebutuhan sehari-hari pasien yang ditangani. Mulai dari tempat tinggal sementara, makan, jajan, hingga ongkos bolak-balik ke RS.

Indra Destriawan, Koordinator Sedekah Rombongan, mengatakan kini sudah ada 14 rumah singgah yang tersebar di Indonesia. Semisal di Semarang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Jambi, hingga Sorong. Kata dia, sistem pendampingan semacam ini telah terbentuk sejak 2012.

“Jadi pasien yang butuh berobat, okelah punya jaminan kesehatan tapi kesulitan akses biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari. Itu yang kami bantu,”

- ujar Indra.

Indra menjadi penerus Saptuari dalam mengelola Sedekah Rombongan. Bergabung pada 2012, karena kerap melihat kegiatan sosial seniornya itu di media sosial. Sebab lain, dari pengalaman pribadi. 

“Dulu, ibu saya sakit dengan kondisi saya juga kesulitan ekonomi. Jadi tergerak untuk bantu yang kondisinya sama,” kenang pria 29 tahun ini.  


Keuangan Sedekah Rombongan disokong oleh para donatur. Memanfaatkan media sosial, lembaga ini menjaring dana. Total uang yang sudah tersalurkan untuk 29 ribu pasien sebesar Rp56 miliar. Secara sukarela, siapa saja bisa mentransfer ke empat rekening bank. Dana yang telah terpakai itu lantas akan dipertanggungjawabkan lewat website sedekahrombongan.com. 

Tapi bagaimana cara Sedekah Rombongan menjangkau dan memilah calon pasien? Dengan survei yang dilakukan para relawan –disebutnya kurir.

“Biasanya mekanismenya itu kami dapat info dari warga, terus kami cek lokasi target yang mau dibantu. Biasanya relawan yang datang untuk survei. Kalau layak dibantu, maka dibantu,” terang Indra.

Relawan atau kurir Sedekah Rombongan jumlah 1000-an. Mereka tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Dari informasi para kurir itulah, calon-calon pasien diperoleh. Menurut Indra, tak ada syarat khusus menjadi kurir. 

“Jadi mereka tertarik sendiri dan daftar sendiri. Ada syaratnya? Syaratnya ikhlas, haha...” tuturnya sambi tertawa. 

Seorang kurir, Rizki, bercerita baru bergabung dengan Sedekah Rombongan. Perempuan asal Rembang ini terjun menjadi relawan karena terdorong hasrat membantu sesama.

“Mau gabung (dengan SR) untuk mengisi kekosongan waktu. Terus gimana caranya saya bisa membantu dan membahagiakan orang lain,”

- ucap Rizki.

Selama menjalankan misinya, Rizki tak dibekali apapun. Biaya transportasi untuk survei pun menggunakan uang pribadi. Tapi baginya itu tak masalah.

“Kalau survei selama saya pakai motor pribadi. Enggak usah hitung-hitungan,” katanya mantab. 

Pendampingan oleh Sedekah Rombongan, dilakoni hingga si pasien dinyatakan betul-betul sembuh. Seperti Ngatini. Perempuan 37 tahun ini sebelumnya mengidap tumor di dagu. 

Warga asal Ungaran tersebut sempat mendiamkan penyakitnya karena tak ada biaya. Hingga seorang kurir melihat kondisinya, Ngatini langsung diboyong ke RS Kariadi. 

“Awalnya sudah dicek ke rumah sakit, dokter sarankan agar dioperasi. Tapi biaya dan saya masih takut,” ucap ibu dua anak ini. 

Baru pada April 2016, ia masuk ke ruang bedah. Sekarang, ia masih harus kontrol ke rumah sakit. Sebab dokter menyarankan memasang gigi palsu. Pasalnya, rahang bagian bawah harus diangkat bersamaan dengan tumor itu.

Kembali ke Indra. Ia berharap Sedekah Rombongan terus berkembang ke seluruh wilayah tanpa kecuali. Agar orang-orang yang ‘tak punya’ itu bisa tertolong.

“Targetnya ke depan mudah-mudahan lebih banyak yang bisa dibantu. Kemudian lebih banyak kurir yang ikut membantu sehingga cakupan wilayah lebih luas. Orang yang bisa dibantu bisa lebih banyak,”

- harap Indra.