Hadi Apriliawan: 'Mencipta Susu Listrik untuk Peternak'

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai karya anak bangsanya. Karena itu kaum pemuda harus berinovasi dan pantang menyerah.”

Hadi Apriliawan, pencipta Susu Listik. Foto: KBR.

Jumat, 25 Mei 2018

KBR, Jakarta - Hadi Apriliawan takkan lupa pada permintaan kedua orangtuanya yang bekerja sebagai peternak sapi perah; membuat alat yang bisa memperpanjang usia susu yang semula hanya dua hari, menjadi dua minggu. 

Wejangan itu, rupanya tak lepas dari persoalan yang mendera para peternak sapi tradisional selama berpuluh tahun; kalau susu hasil perah tak habis dalam dua hari, basi dan tak laku dijual. Alhasil dibuang sia-sia. 

Belum lagi harga jual yang murah. Hanya Rp4 ribu – Rp5 ribu per liter. Angka itu, sudah barang tentu mustahil menutup pengeluaran membeli pakan dan ongkos perawatan. Maka merugi, kerap dirasakan.

“Susu itu kalau pagi diperah, sore sudah basi karena proteinnya tinggi. Setelah dijual ke industri, harganya rendah banget. Makanya saya diamanati bikin alat yang bisa mengawetkan susu ini,” ucap Hadi mengenang. 

Hadi muda yang kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, gelisah dibebani permintaan itu. Tapi ia tak menyerah. Ia lantas mencari-cari bacaan yang mengulas tentang pengawetan. Sampailah ia ke sebuah buletin dari Jepang. 

“Kenapa orang Jepang suka makan sushi? Itu diberi perlakukan kejut listrik. Saya lalu mikir kalau di daging saja bisa, otomatis susu juga bisa,” sambung Hadi. 

Hadi lantas bereksperimen. Selama dua tahun, ia dibantu teman-temannya dari beragam latar; elektronik, kedokteran, dan nutrisi, merangkai sebuah alat.

“Pertama membuat alat dulu. Lalu uji di laboratorium, bagaimana susu bisa bagus dan kandungan bakteri bisa turun, itu yang bikin lama. Bolak-balik trial.”

-

Nama alat ciptaan Hadi itu, Susu Listrik atau orang-orang mengenalnya dengan nama Sulis.

Di kantornya, ia menunjukkan pada saya. Sebuah tabung yang bisa memuat 100 liter susu terbuat dari stainless steel dirangkai dengan kotak persegi elektro di atasnya. Di kotak itu, ada tombol-tombol yang fungsinya sebagai daya, pengaduk, timer elektrik, dan yang terpenting; kejut listrik. 

Jika stainless steel itu dipreteli, maka akan tampak setrum mengalir ke tabung susu. 

Dengan Susu Listrik, maka bakteri pada susu bisa ditekan sekecil mungkin. Hasilnya, susu bisa bertahan hingga dua minggu. Jika berada di suhu 5 sampai minus 20 derajat Celcius, awet hingga enam bulan. 

“Yang membuat awet (tidaknya) itu, bakteri. Makin sedikit bakteri suatu produk, makin lama umur simpannya. Karena bakteri yang membuat makanan cepat busuk,” terang pria berusia 28 tahun ini.  


Selama menyempurnakan temuannya itu, biaya sekitar Rp3-Rp4 juta diambil dari kantongnya sendiri dan sisanya hasil menang lomba kreativitas mahasiswa. Dua tahun rampung, ia uji coba ke peternak. Tapi Hadi mesti menelan kecewa.

“Percobaan pertama gagal. Hasilnya mempercepat susu itu basi,” kenang Hadi sembari tertawa. Saat itu menurutnya, formula teknologi kejut listrik itu belum sempurna.

Hingga pada 2011, Hadi melakukan uji coba kembali ke peternak di Malang. Kali ini, hasilnya menggembirakan. Sejak itu, tersebarlah kabar Susu Listrik dari mulut ke mulut. Ia pun gencar memamerkan alatnya di media sosial. 

Belakangan, Hadi mendirikan PT MaxZer atau Maximum Sterilizer di kawasan Blimbing, Malang. 

“Dari situ sedikit demi sedikit muncul kepercayaan. Saat mahasiswa saya jual Sulis Rp5 juta.” 

Di kantor sekaligus pabrik itu, Hadi tak hanya bikin alat Susu Listrik, tapi ada juga alat pembuat keju –yang masih tahap akhir. Satu alat Susu Listrik berukuran 100 liter dijual Rp12 juta dan sudah merambah hingga ke Bandung, Jawa Barat. 

Pemilik peternakan skala medium, Yupono, sangat tertolong dengan alat buatan Hadi. Sebab usaha sapi perahnya yang dirintis sejak 10 tahun lalu, akhirnya bisa diproyeksikan untuk produk minuman susu murni. 

“Sulis sangat membantu. Karena yang tadinya usia susu dua hari, jadinya dua minggu,"

- tukas dosen di salah satu universitas ini.

Ia sendiri mengaku sudah mencari-cari Susu Listrik, sejak lama. Sebab selama ini, ia hanya bisa menjual susu murni ke industri kakap seperti Greenfield dan Nestle, dengan harga murah. Padahal dalam sehari, ia bisa memproduksi 30 liter.

Kembali ke Hadi. Di usia yang masih muda –28 tahun, ia berharap makin banyak penemuan-penemuan baru dari anak muda. Dan yang pasti, dihargai oleh pemerintah.

“Jadi teman-teman ingatlah, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai karya anak bangsanya. Karena itu kaum pemuda harus berinovasi dan pantang menyerah,” pungkas Hadi.