Sejumlah petani Telukjambe melakukan aksi kubur diri di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (25/4). Aksi tersebut dilakukan untuk mendapatkan perhatian pemerintah terkait konflik agraria. (Antara)


KBR, Jakarta - Pagi di depan Istana Negara Jakarta, jalanan mulai ramai. Satu rombongan yang terdiri dari pria dan perempuan bertopi caping, tiba dan sedang bersiap-siap.

Lima peti mati yang dibuat sederhana kemudian diletakkan persisi di depan Istana –tempat Presiden Joko Widodo tinggal. Lima pria bertopi caping lantas berbaring di dalamnya. Dengan posisi telentang, tubuh mereka dipendam dengan tanah. Hanya kepala saja yang dibiarkan terbuka.

Bunga tujuh rupa lalu ditaburkan di atas peti mati berisi manusia itu. Aksi ini dinamai ‘Kubur Diri’ oleh petani Telukjambe Barat, Karawang.

Anih, salah satu petani yang mengubur diri. Pria berusia 55 tahun ini tak punya apa-apa lagi setelah rumah dan ladangnya dihancurkan PT Pertiwi Lestari. Anih bercerita, sudah tiga hari melakoni aksi kubur diri ini. Sebelum memulai, dia selalu berpuasa. Saat sahur, Anih biasanya hanya makan nasi dan garam serta dua gelas air putih.

“Saya sedih karena sudah nggak punya apa-apa," jawabnya dengan menahan tangis. Ketika ditanya seperti apa ketika badannya ditimbun tanah? Ia menjawab, "Gemeteran."

Mengubur diri, bukan berarti tak berisiko. Tubuh yang selama berjam-jam telentang dan ditimbun tanah, membuat badan kaku. Untuk minum atau makan pun sulit karena posisi kepala yang sejajar dengan badan.

Suwarni, petani berusia 30 tahun ini, sampai pingsan karena dehidrasi. Saat hari kelima aksi atau 1 Mei lalu, ia merasakan sakit di perut. Alhasil dia hanya mampu mengubur diri selama tujuh jam –dari yang semestinya delapan jam.

“Kondisi badan memang agak kurang sehat, perut sakit. Perih. Di punggung rasanya panas. Kaki juga nggak bisa bergerak karena sempit,” kata Suwarni.

Selain Suwarni, ada tiga petani lain yang juga tak sadarkan diri. Dokter pendamping petani pun minta agar aksi mereka dihentikan. Menurut salah satu dokter, dehidrasi, dan kelalahan menjadi sebabnya.

Di hari keenam atau 2 Mei, ada 11 anak yang ikut mengubur diri. Alansyah Juliantoro –atau biasa dipanggil Alan, mengatakan ikut mengubur diri atas inisatif sendiri. Sebab bocah berusia 10 tahun ini sudah rindu sekolahnya. Pun ia kangen bermain mencari sarang burung di kampungnya.

“Rasanya di dalam peti panas. Sesak, karena nggak bisa bergerak. Jadi diam saja. Kaki rasanya kayak lumpuh,” cerita Alan.

Langkah mengubur diri ini dilakukan petani Telukjambe Barat sejak 25 April lalu lantaran sudah kehabisan akal melawan keserakahan PT Pertiwi Lestari dan ketidakpedulian Pemerintah Kabupaten Karawang.

Pasalnya, perusahaan milik Salim Group tersebut telah mengusir ratusan petani dari tanah dan rumahnya. Padahal, mereka sudah menggarap lahan di Telukjambe Barat sejak puluhan tahun silam. Bahkan mereka mengantongi berbagai surat yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah, misalnya Surat Keterangan Desa (SKD). Dimana Kepala Desa Wanajaya, KecamatanTelukjambe, pernah menerbitkan 65 SKD yang isinya memberikan hak garap atas tanah a quo –yang telah dibebaskan sejak 1991.

Tapi apa daya, petani dikalahkan PT Pertiwi Lestari yang mengklaim sebagai pemilik seluas seluas sekitar 791 hektare. Klaim kepemilikan lahan itu didasarkan pada sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) yang diterbitkan Kantor Pertanahan Karawang tahun 1998, yakni sertifikat HGB Nomor 5/Margamulya, sertifikat HGB Nomor 11/Wanajaya dan sertifikat HGB Nomor 30/Wanajaya.

Baca juga: Trauma Anak-anak Teluk Jambe, Karawang



Bertemu Presiden Jokowi

Sesungguhnya saat hari pertama melakukan aksi kubur diri, para petani diterima Kantor Staf Presiden (KSP). Tapi pertemuan itu sama sekali tak membuahkan hasil. Para petani nekat melanjutkan aksi dan jumlahnya bertambah hingga 20 orang.

Barulah sepekan setelahnya atau 3 Mei, para petani diterima Presiden Jokowi di Istananya. Sepuluh petani yang diterima itu termasuk Ketua Serikat Tani Telukjambe Bersatu, Maman Nuryaman.

Kata Manan, di Istana, mereka bertemu Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofjan Djalil juga Kepala KSP, Teten Masduki. Pertemuan berlangsung sekira 1,5 jam. Maman juga bercerita, dirinya terkejut, karena Presiden Jokowi sudah memahami konflik agraria di Telukjambe Barat.

“Bahkan kami mau menyampaikan kronologis masalah tanah, saya malah disetop. Kata beliau, 'Saya sudah tahu'. Kalau beliau sudah tahu, tapi kok belum selesai-selesai?” ungkap Maman geram.

Di sana, Maman juga meluruskan data yang dimiliki Jokowi dari Pemkab Karawang soal petani penerima uang kerohiman. Presiden Jokowi mengantongi sekitar 250 nama petani penerima uang kerohiman dari PT Pertiwi Lestari. Padahal dalam catatannya, yang menerima hanya 159 orang.

Dari pertemuan tersebut, akhirnya Jokowi menjanjikan akan menyelesaikan konflik agraria serta mengembalikan lahan rumah dan pesawahan milik petani Telukjambe dalam tiga hari. Nantinya, Jokowi akan mengembalikan petani ke Telukjambe Barat atau merelokasinya ke wilayah baru.

“Hasilnya, Pak Jokowi meminta waktu tiga hari untuk mengembalikan masyarakat ke lahan miliknya. Atau ke lokasi lain, tetapi hak atas tanah untuk petaninya akan dikukuhkan,” tukas Maman.

Sesuai kesepakatan pula, apabila petani dikembalikan ke Telukjambe Barat artinya pemerintah bakal mengembalikan semua tanah termasuk rumah, beserta fasilitas publik yang telah dirusak PT. Pertiwi Lestari. Namun jika direlokasi, Jokowi menjanjikan para petani akan memiliki sertifikat tanah yang akan diserahkan negara, termasuk menyiapkan lahan beserta fasilitas pendukungnya, seperti aliran listrik dan sarana ibadah. Para petani itu pun akan di tempatkan di satu kampung.

Untuk sementara –sejak 20 Maret lalu, para petani dan keluarganya tinggal di Panti Asuhan Muhamadiyah, Tanah Abang, Jakarta. Sebab rumah mereka sudah diratakan PT Pertiwi Lestari saat konflik pecah Oktober tahun lalu.

Saat KBR kesana, petani dan keluarganya ditempatkan di satu ruangan besar. Tak ada aktivitas apapun. Yang dewasa bersantai sembari mengobrol. Sementara anak-anaknya, membunuh bosan dengan bermain tutup botol sebagai ganti kelereng.

Sejak Sabtu lalu (6/5), petani Telukjambe Barat tinggal di rumah dinas Bupati Karawang. Jika tak kunjung ada solusi, mengubur diri akan kembali dilakukan.

"Kalau tiga hari tidak ada penyelesaian, kami akan aksi gantung diri," tegas Maman diikuti petani lain.

Baca juga: Petani Telukjambe Merana di Rusun Adiarsa





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!