Deki Ardiansyah, pencipta Denah Bicara. Foto: Eli Kamilah/KBR

KBR, Jakarta - Sebuah papan berukuran sekitar 1x2 meter langsung menyambut siapa saja yang bertandang ke Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Bandung, Jawa Barat.

Letaknya persis di depan gerbang panti. Di papan besar itu, ada puluhan kotak berukuran kecil dan sedang berwarna-warni dengan tombol yang bisa ditekan.

Dan jika dipencet, akan muncul suara; 'selamat datang di PSBN Wyata Guna Bandung. Untuk informasi lebih lanjut silakan tekan tombol pada denah...'

Itu adalah Denah Bicara Disabilitas Netra, karya Deki Ardiansyah -penyandang low vision atau kurang penglihatan.

“Ini jadi akhir tahun kemarin. Awalnya kepala panti ingin buat peta tapi yang kuat hujan dan sinar matahari, tapi ingin berbicara,” kata Deki.

Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna luasnya 4,5 hektar dan memiliki 60 lebih gedung. Semisal gedung Sekolah Luar Biasa Tuna Netra, perpustakaan Braille dan instalasi produksi.

Banyaknya ruang ini, menyulitkan para penghuninya untuk sampai ke tujuan. Karena alasan itulah, Denah Bicara ini hadir. Pasalnya, panti ini membina 175 anak tunanetra di 15 asrama.

Ketika ditemui KBR, Deki menunjukan pada saya Denah Bicara itu. Total ada 60 kotak tipis yang terbuat dari silikon karpet berwarna, alumunium galpanis, dan kaca akrilik.

Untuk memudahkan kawan-kawan tunanetra, Deki juga membuat beberapa titik mirip aslinya. Seperti silikon karpet tanpa kaca akrilik untuk menandakan rumput dan alumunium kulit jeruk yang bergelombang untuk menandakan jalan raya.

“Rangkanya alumunium galpanis. Akrilik pakai penyangga silikon supaya tidak ada korslet. Karena terbuat dari karet. Ini dari bekas kabel, buat tanda aksesibilitas atau guiding block. Jalan juga dibuat berwarna. Ini lapangan rumput, biar bisa diraba seperti rumput. Ini tanah, bergelombang dari alumunium kulit jeruk, karena lebih bergelombang. Ini ada 60 bangunan.”

Lelaki berusia 34 tahun ini juga bercerita, butuh waktu dua bulan untuk membuat Denah Bicara dan uang yang dihabiskan mencapai 8,5 juta rupiah.

“Pengerjaan dari Oktober, November itu sama belanja, Desember baru dilaunching. Ini sekitar 7,5 juta dan tambahan 1 juta.”

Untuk pengerjaannya sendiri, melibatkan kawan-kawannya dari Wyata Guna. Selain Denah Bicara, Wyata Guna juga dilengkapi sensor atau rambu suara. Bentuknya mirip pengeras suara.

Ada dua alat; satu pengeras suara berbentuk persegi dan satu lagi mirip toa, namun bentuknya kecil. Sensor diletakkan di pintu masuk dan keluar panti.

“Ini baru rambu-rambu. Itu sekitar awal Februari 2016. Kenapa dipasang? Karena untuk menandakan dan mengikuti guiding block. Ini material tim, tapi ide konsep saya.”

Denah Bicara buatan Deki adalah satu-satunya di Indonesia, tapi sayang belum dipatenkan. Kementerian Sosial mengaku butuh uji coba satu tahun dulu untuk bisa ke arah itu.

“Keinginan saya pihak Kemensos yang mematenkan. Karena ini kan dibuat untuk lembaga. Dua bulan lalu Direktur Panahan sudah ke sini. Tapi memang perlu running dulu satu tahun apa bisa digunakan tidak alat ini. Ternyata dalam tiga bulan pun tunanetra puas dengan ini,” lanjut Deki.

Padahal, kata Deki, banyak tunaetra yang terbantu dengan Denah Bicara. Salah satunya Bayu. “Sangat bagus membantu tunanetra. Arahnya itu bisa menunjukan,” imbuhnya.

Hal yang sama juga dirasakan Yosep. Pemuda 30 tahun itu begitu antusias saat Denah Bicara dibuat. “Sangat antusias, sangat membantu banget buat aku. Memberikan kemudahan dan keringan buat saya terutama,” pungkas Yosep.

Kembali ke Deki. Rencananya, alat ciptaannya bakal dibawa ke Kementerian Sosial di Salemba, Jakarta.

“Ini kan mau dibawa ke pusat ke Salemba. Makanya dimatiin dulu, harus dijaga. Untuk prototype di pusat bahwa inilah Denah Bicara, karya Wyata Guna. (Kapan diambilnya?) kemungkinan tahun ini, bulan ini mungkin. Yang tahu kepala panti,” ujarnya.

Deki punya cita-cita membuat karya lebih banyak untuk membantu para penyandang tunanetra. “Saya ingin semua alat bantu ada litbangnya kemensos, seperti kursi roda dengan EEG, dengan sentuhan mata itu bisa. Saya siap untuk bikin,” tutup Deki.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!