Alfini Lestari, peremuan yang menghalau pemotor di trotoar Sudirman, Jakarta. Foto: Rio Tuasikal/KBR

KBR, Jakarta - Kendaraan mengular di sepanjang jalan dengan sesekali terdengar bunyi klakson. Begitulah wajah kemacetan di salah satu wilayah Segitiga Emas Jakarta; Sudirman.

Mobil dan motor saling salip. Malah saking tak muatnya jalan itu menampung kendaraan, si roda dua gesit merampas trotoar milik pejalan kaki.

Dan, Senin pagi itu, Alfini Lestari, tak tahan lagi melihat kelakuan mereka. Ia kemudian membentangkan tangannya; menghalau barisan motor yang berusaha mengusirnya dari trotoar.

"Macet sekali Senin itu dan banyak sekali motor-motor lewat trotoar. Dari situ saya geregetan sekali melihatnya," kenang Alfini.

Aksi “gilanya” itu bukan tanpa alasan. Sudah berkali-kali, perempuan muda ini dipaksa menyingkir oleh pengendara motor.

"Saya geregetan dan marah banget. Karena itu kan tempat untuk jalur pejalan kaki. Dan kenapa pemotor harus masuk ke trotoar? Yang pasti saya marah banget. Yang lain pun, macet pun bertahan, nggak masuk ke trotoar. Saya sebagai pejalan kaki merasa terganggu," katanya geram.

Pernah suatu kali, ia disuruh keluar dari lintasan trotoar. Tapi dia menolak dan menantang para pengendara motor itu agar menabraknya.

"Dia nyuruh aku minggir. Tapi saya tidak mau minggir. Saya sudah buru-buru. Dan perjalanan mereka sudah di pertengahan torotar. Jadi mau nggak mau harus mundur dan saya pasang badan. Saya bilang kalau kamu nggak mau mundur, aku nggak mau mundur. Kalau berani, tabrak saja saya. Saya pasang badan yang pasti."

Karena keukeuh tak mau menyingkir, Alfini disangka tak warasa alias gila. Tapi ia tak peduli dan tetap membentangkan tangannya.

"Yang di depan semuanya ada empat. Yang di belakang banyak sekali. Yang di depan saya ada yang bilang saya perempuan nggak waras, ada yang bilang saya gila. Tapi saya nggak peduli dengan ucapan mereka. Saya merasa orang yang di jalan biasa justru memberikan support. Mereka menyampaikan mbak ayo jangan mengalah, ayo terus-terus, jadi mereka yang ngasih support aku. Akhirnya aku bertahan, sampai dia mundur."

Keberaniannya itu rupanya diabadikan fotografer sebuah media cetak nasional; The Jakarta Post. Dan aksinya itu jadi tenar di media sosial.

Ketika KBR mengajaknya berjalan-jalan di kawasan Sudirman, ia bercerita bagaimana awal-awal menghentikan motor, dia masih takut dan sesekali mengalah.

"Mungkin waktu pertama saya mengalah, dia klakson saya mengalah. Tapi kalau sekarang saya tidak mau mengalah. Saya tidak mau mengalah lagi. Kenapa harus saya mengalah? Saya sudah jalan di tempat yang benar kok. Kenapa harus mengalah?"

"Yang pasti saya sudah marah sekali sama pemotor. Saya jalan harus siapa cepat lewat situ. Di pikiran saya, saya sudah marah, saya tidak mau motor lewat sini. Saya mau jalan pun susah," lanjutnya.

Koalisi Pejalan Kaki, komunitas yang mendorong hak-hak pejalan kaki dan keselamatan berlalu lintas, mencatat angka kecelakaan pedestrian cukup tinggi. Tercatat 9000 lebih pejalan kaki mati setiap tahunnya.

Hal ini terjadi karena infrastruktur trotoar yang melanggar kaidah atau ulah motor dan mobil.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, menyatakan aksi Alfini adalah teguran keras untuk kepolisian.

"Ada virus-virus baru dari individu-individu masyarakat yang mencoba meluruskan sesuatu yang salah dan pembiaran yang dilakukan kepolisian dan dinas perhubungan dan lain-lain. Apakah harus masyarakat, harusnya itu adalah tugasnya penegak hukum untuk melakukan penindakan atau pun penertiban," kata Alfred.

Alfred berpesan, pejalan kaki dan pengendara akan selamat jika masing-masing taat aturan.

"Kita tetap di jalur yang sudah diberikan masing-masing. Para pengendara di jalan raya, para pejalan kaki di trotoar. Jangan tergoda karpet merahnya pejalan kaki. Kan warnanya trotoar Jakarta merah."

Dan pendekar pedestrian seperti Alfini akan selalu berjuang. "Para pemotor, saya minta supaya lebih tertib lagi, tidak harus lewat trotoar untuk pejalan kaki. Pastinya, kalau lewat ada saya, saya akan stop."
 


Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!