Kusmiyati, ibu Mustofa yang merupakan korban pembakaran Mal Klender. Foto: Rio Tuasikal.

KBR, Jakarta - Di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kusmiyati memegang sebuah bingkai foto anaknya, Mustofa. Ketika meninggal, Mustofa, berusia 14 tahun.

"Ketika anak saya dibutuhkan di hari tua ini. Nyawanya direnggut begitu saja," ucapnya lirih.

Dia takkan lupa peristiwa yang menyebabkan anaknya meregang nyawa kala 18 tahun lalu itu. Dan Mei tahun ini, adalah peringatan 18 tahun kematian Mustofa dan ratusan orang saat kerusuhan 1998 terjadi.

Kusmiyati bercerita, ketika itu, Mustofa pamit untuk bermain catur. Malang, bocah kelas 2 SMP itu justru ditemukan tak bernyawa dua hari setelahnya.

Kondisi jenazahnya pun mengenaskan; hangus terpanggang. Belakangan diketahui, Mustofa, jadi korban pembakaran Mal Klender bersama ratusan orang lainnya yang diduga tengah menjarah mal tersebut.

Dalam investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta menyebut ada kesengajaan dalam kerusuhan yang didahului dengan penjarahan dan pembakaran itu. Pasalnya, ada kemiripan peristiwa di enam titik di Jakarta pada 1998.

Dan, meski sudah belasan tahun berlalu, kasusnya tak kunjung tuntas. Mangkrak di Kejaksaan. "Tapi karena saya merasa itu kewajiban saya untuk menuntut keadilan, saya berjuang terus, sampai saya berdiri di depan istana juga. Itu hampir 11 tahun," kenangnya. 

Di usianya yang kini 70 tahun, Kusmiyati ingin pembunuh anaknya diadili. Ia kadang membayangkan, kalau Mustofa masih hidup, maka dialah sandaran hidupnya. Diusianya yang sudah senja, ia masih harus bekerja. Sementara suaminya sakit-sakitan.

"Tapi sekarang ya harus mati-matian untuk menanggung resiko kehidupan. Di samping kami menuntut keadilan – tapi kan itu harus jalan. Tanpa ada ekonomi yang kuat, kami juga tidak bisa berjuang kan," imbuhnya. 

Dengan ekonomi yang pas-pasan, ia pun kesulitan membayar pajak kuburan anaknya. Karena itulah, dalam peringatan tragedi Mei 98, Kusmiyati meminta Pemprov DKI Jakarta mengulurkan tangan.

Di depan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, ia menunjukkan foto Mustofa. Tangannya gemetar.

"Ini foto anak saya. Cuma ini foto SD. Anak saya umur 14 tahun SMP kelas 2. Jenazah anak saya diketemukan, pak. Sudah begitu dimakamkan di Pondok Kelapa. Kuburan anak saya itu setiap tiga tahun itu pajak. Saya minta kepada bapak kuburan anak saya diperbaiki dan bebas pajak," kata Kusmiyati dengan nada bergetar.

Djarot tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kondisi keluarga korban. Gayung bersambut, Pemerintah DKI Jakarta memenuhi permintaan Kusmiyati dan para korban.

"Anggota keluarga jadi korban, itu jadi tanggung jawab pemerintah. Tanggung jawab kami. Termasuk juga batu nisan, perawatan dan sebagainya. Pajak juga. Apakah cukup? Belum cukup," ungkap Djarot. Pemerintah juga berjanji membantu pemberdayaan ekonomi keluarga korban.

Lembaga Studi Advokasi dan Masyarakat (ELSAM) yang mendampingi korban mengapresiasi langkah DKI Jakarta. Aktivis ELSAM, Rini Pratsnawati, mengatakan langkah itu jadi pintu masuk mengembalikan hak-hak keluarga korban yang terabaikan belasan tahun. 

"Ada keutamaan dan affirmative action. Kesehatan itu penting. Hak-hak dasar lah ya kesehatan, pendidikan untuk anak-cucu mereka yang masih sekolah. Terus kalau ada perumahan itu akan jauh lebih baik juga," katanya.

Sementara, Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniati Chuzaifah menyatakan, data-data itu sudah siap dan tinggal diserahkan.

"Kawan-kawan pendamping dari ELSAM sudah punya list nama. Komnas Perempuan juga ada data siapa korbannya, dan siapa yang intensif mengawal, kami juga ada. Pendataan ini harus segera bisa dilakukan."

Pekan ini, Kusmiyati dan para korban akan menyambangi Balaikota untuk menyerahkan data-data itu. Karena baginya, kehilangan putra kesayangan tidak lantas membuatnya kehilangan masa depan.

"Saya jujur. Walaupun belum berbentuk apa-apa tapi saya sudah gembira. Barangkali itu adalah jalan buat kita para korban. Karena selama ini korban kan sudah berjuang 18 tahun dan belum ada perhatian pemerintah," harap Kusmiyati.


Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!