Sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) warga negara (WN) Thailand. ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Masih lekat diingatan Purnomo Susanto, perbudakan  yang dialaminya ketika bekerja di Kapal Fu Yuan Yu 981 milik Perusahaan Taiwan Xu Chen International di Uruguay, awal tahun ini.
 
Mula-mula, Purnomo tertarik dengan tawaran menggiurkan bekerja di kapal pencari ikan. "Jadi kawan saya ini ngomong ke saya, ajakin kerja di PT Java Marina, katanya PT-nya bagus terjamin, cuma kalau mau ikut ama dia, berlayar pakai charge satu orang lima juta. Belum pakai paspor, ada lagi, pemberangkatan dari PT ke bandara itu dimintai lagi duit. Per orang 50 ribu rupiah, pokoknya duit pribadi saya sendiri habis 6, 5 juta rupiah. Lima juta buat pendaftaran," ungkapnya ketika ditemui KBR.
 
Pria berusia 31 tahun asal Jakarta Utara ini pun dijanjikan upah dan kondisi kerja yang layak. "Sama pengobatan terjamin, pakaian sepatu safety ada semua, pokoknya tetek bengek ada semua, enggak tahunya itu, enggak ada. Kerjanya cuma di perikanan cumi, menangkap ikan cumi. Cuma waktunya 24 jam nonstop. Dibilangnya bekerjanya itu delapan jam kerja. Enggak tahunya enggak," ungkapnya.
 
Tapi, sejak menginjakkan kaki di kapal itu, bukan janji manis yang didapat. Tubuhnya yang ringkih merekam jelas kekerasan yang menderanya saban hari. Luka berbentuk garis sekitar 15 centimeter tergurat jelas di perut sebelah kiri.

Bahkan, ayunan langkah Purnomo sekarang tertatih, tak lagi setegap dulu. "Mulai bangun tidur tuh jam lima subuh, setengah enam saya udah rapi-rapi, kalau lewat enggak ada di ruang kerja, disamperin sama mandornya. Pernah saya dua kali kayak gitu disamperin sama mandornya. Padahal posisi saya lagi pakai sepatu bot. (Dia ngapain?) Narik saya, diseret ditendangin, badan saya belakang. Udah gitu kalau seandainya meleng dikit, dilempar pakai benang yang buat ngejahit. Terus kadang-kadang kalau nyusun loyang isinya cumi itu kalau nyusunnya kurang rapi, dilempar pakai kayu, ini sampai robek bibir saya," katanya sembari menunjukkan bekas luka.
 
Bersama lima pekerja Indonesia lainnya, Purnomo juga dieksploitasi oleh 40 ABK beserta kapten dan mandor. “Kalau makan orang Cina duluan, orang Indonesia belakangan. Makannya sama, tapi sisanya doang, bekas-bekas orang Cina. (Kalau enggak ada sisanya?) ya sudah enggak makan. Pernah sekali. Makannya juga enggak istimewa. Bilang di prosedurnya itu makannya terjamin, kayak buah-buahan ada, ini enggak ada. Makannya cuma bubur, nasi, sama bumbu-bumbu yang lain, tetek bengek lah, kayak bawang putih, kalau siangnya, jarang nasi, banyakan bakpao ama bubur. Sehari makan cuma dua kali doang," jelas Purnomo.
 
Menginjak bulan ketiga, tubuh Purnomo tak lagi mampu menahan gempuran siksaan. Ia terserang hernia. Namun, bukan belas kasih yang ia terima. “Pas bulan Maret, saya mulai sakitnya tanggal 5. Saya sampai dua minggu enggak kerja. Saya enggak dikasih makan. Sama kaptennya diizinin, cuma enggak dikasih makan. Jadi prinsip dia itu kalau enggak kerja, enggak dikasih makan, tapi kalau kerja dikasih makan sama rokok. Saya enggak kerja, saya tiduran aja, istirahat, hanya berdoa aja, ya enggak makan, puasa. Kalau minum, air keran yang buat mandi. Mandi aja kadang-kadang enggak mandi. Badan saya baunya luar biasa hu, namanya cumi busuk tau sendiri kayak apa. Berak aja dikasih waktu lima menit,” ucap Purnomo.
 
Tak kunjung membaik, Purnomo minta dipulangkan ke Indonesia. Sial, Purnomo harus pulang dengan tangan kosong alias tanpa upah. "Saya bilang sama istri saya, yang 50 dolar itu perbulan itu dikirimin terus, di atas kapal dikirimin kan, enggak tahunya enggak dikasih. Masalah gaji saya, dibilang sama orang kantor, per 10 bulan, enggak tahunya enggak, cuma rekayasa orang kantor aja."
 
Namun, berkat desakan Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN), perusahaan bersedia membayar gajinya selama tiga bulan. Koordinator SPILN, Imam Syafii mengatakan, perusahaan melunak lantaran takut dilaporkan ke BNP2TKI.

“Direkturnya Java Marina, nelepon saya, akhirnya saya datangi. Gajinya sekitar sembilan juta rupiah, kemarin sudah dibayar. Tinggal kekurangannya di atas kapal 50 dollar itu selama tiga bulan belum dibayar. Kedua, pertanggungjawaban atas sakitnya ini, dia kan punya Kartu Tenaga Kerja Luar  Negeri (KTKLN) itu kan harusnya bisa dicover, tapi kan enggak bisa,” ungkap Imam Syafii.

Hingga hari ini aksi perbudakan di Kapal Fu Yuan Yu 981 masih berlanjut. Dua ABK rekan sekapal Purnomo masih ikut berlayar, meski kondisi terakhir mereka diketahui sakit. Serikat Pekerja mendesak pemerintah memulangkan mereka.

“Kita meminta kepada Konsul Kehormatan di Uruguay untuk bisa melacak keberadaan atau lokasi kapal Fu Yuan Yu 981, agar diklarifikasi bahwa di dalam kapal tersebut ada 2 ABK Indonesia, Supendi dan Suwandi, yang sedang sakit, tidak diobati, minta pulang, tidak diizinkan,” tambah Imam Syafii.

Purnomo, hanyalah contoh kecil dari banyaknya kasus perbudakan yang dialami para pekerja kapal ikan. Sementara itu, jumlah Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing di luar negeri mencapai 210 ribu orang. 


Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!